Operator Incar Pengadaan Solusi IoT untuk Proyek Smart City

Leo Dwi Jatmiko
Rabu, 13 November 2019 | 10:54 WIB
Ilustrasi smart city/Reuters
Ilustrasi smart city/Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Operator seluler berlomba dalam menyajikan solusi Internet of Things (IoT) kepada pelanggan dari kalangan pemerintahan untuk mendukung terciptanya kota pintar.  

Chief Business Officer Indosat,  Intan Abdams Katoppo mengatakan bahwa sejauh ini Indosat Ooredoo berkomitmen untuk berperan aktif dan menjadi mitra strategis bagi kabupaten/kota dalam mewujudkan kota cerdas.

Salah satunya, dengan berpartisipasi pada program Gerakan 100 Kota Cerdas yang diselenggarakan oleh Menkominfo. Indosat berperan sebagai Technical Advisor bagi 36 kabupaten/kota.

Adapun mengenai kerja sama yang telah terjalin antara Indosat dengan Pemerintah Daerah saat ini, Intan tidak menyebutkan jumlahnya.

“Selain memberikan konsultasi, kami pun menyediakan beragam solusi ICT seperti jaringan infrastruktur komunikasi primer, komputasi awan & keamana, Internet of Things (IoT) dan Big Data untuk percepatan transformasi daerah masing-masing,” kata Intan kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Intan menambahkan setiap solusi yang ditawarkan kepada pelanggan korporasi dari segmen pemerintahan, memiliki tujuan yaitu untuk meningkatkan efisiensi sumber daya, memperbaiki kualitas pelayanan publik dan meningkatkan kesejateraan warga.

Dia mengatakan terdapat beberapa solusi yang cocok bagi pemerintah daerah, seperti Nextfleet, solusi yang berhubungan dengan manajemen transportasi, yang dapat dikembangkan pemerintah kota untuk mencari solusi masalah kemacetan dan penurunan potensi kecelakaan.

Kemudian Smart Environment, teknologi IoT yang fokus pada pengelolaan sampah dan manajemen bencana, seperti banjir.

Penempatan sensor IoT difokuskan untuk mengukur debit dan ketinggian air, mengukur kadar polutan, mendeteksi penumpukan sampah. Dimana seluruh data tersebut dapat digunakan oleh pemerintah untuk di tindaklanjuti secara langsung, ataupun sebagai data pendukung untuk Analisa lebih lanjut.

“Ada juga Smart Metering, teknologi IoT ini fokus pada pengelolaan sumber daya seperti listrik dan air, dengan smart metering pemerintah kota dapat memonitor kebutuhan sumber daya, optimalisasi dan efesiensi penggunaan sumber daya, melalui sistem automation,” kata Intan.

Dia menambahkan selain solusi tersebut, terdapat solusi IoT lain yang juga dapat digunakan oleh pemerintah kota untuk membantu mengembangkan kota pintar, khususnya pada sektor kesehatan, dan manajemen kebencanaan.

Intan juga menegaskan bahwa Indosat Ooredoo terbuka untuk ikut membantu pembuatan perangkat solusi-solusi tersebut, sesuai dengan kebutuhan pemerintah kota yang lebih spesifik.

TINGGI PEMINAT

Sementara itu, Chief Enterprise & SME Officer XL Axiata, Feby Sallyanto mengatakan bahwa saat ini permintaan dari pemerintah daerah untuk menjalin kemitraan dalam mengembangkan kota pintar terus bertambah dibandingkan tahun lalu.

Meski tidak merinci jumlah pertumbuhan tersebut, namun dia mengatakan XL Axiata telah menerima beberapa kunjungan dari pemerintah daerah untuk membahas dan menjajaki penyediaan solusi yang tepat guna untuk masing-masing pemerintah daerah dalam menghadirkan kota kota pintar.

Dia mengatakan dalam pembahasan dengan Pemerintah daerah, kebutuhan dan solusi yang dibutuhkan masing-masing daerah berbeda-beda,

“Namun yang jelas, kebutuhannya adalah bagaimana memanfaatkan digitalisasi berbasis teknologi IoT, transparan, dan terintegrasi untuk setiap daerah,” kata Feby kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.  

Untuk memenuhi layanan terintegrasi, kata Feby, perseroan menawarkan FlexIoT, sebuah IoT Platform XL Axiata. Feby mengatakan bahwa solusi tersebut cocok dengan layanan terintegrasi.

Nantinya layanan terintegrasi akan dibangun di ata saplikasi flexIoT, sehingga pengguna dapat menikmati sepenuhnya kemampuan teknologi IoT yang terintegrasi dan terus berkembang.

Adapun mengenai solusi IoT yang paling dibutuhkan oleh pemeritah daerah, Feby mengatakan bahwa setiap kota adalah unik, sehingga solusi yang dibutuhkan tidak sama antara satu kota dengan kota lainnya.

Sementara itu, General Manager External Corporate Communications PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) Aldin Hasyim berpendapat bahwa secara umum solusi konektivitas cerdas yang diimplementasikan dalam berbagai solusi kota pintar merupakan produk yang paling diminati dari pelanggan pemerintahan daerah.

Selain konektivitas cerdas solusi pengaturan armada juga tidak kalah menarik bagi pelanggan pemerintahan daerah. Solusi ini umumnya digunakan untuk mendukung operasional dinas kebersihan daerah.

Telkomsel  telah menjalin kerja sama dengan tujuh pemerintah daerah dalam pemanfaatan IoT dan konektivitas milik perseroan. Jumlah tersebut bertambah 30% jika dibandingkan dengan 2018.  

“Pertumbuhan ini seiring meningkatnya kesadaran untuk melakukan transformasi operasional pekerjaan secara digital dari berbagai pemerintah daerah di seluruh Indonesia,” kata Aldin.

Diketahui, bulan lalu dua pemerintah daerah yaitu pemerintah kabupaten Sumedang dan beberapa pemerintah daerah di Gorontalo telah menyepakati untuk menggunakan solusi IoT yang ditawarkan oleh Telkomsel.

Telkomsel mendorong terwujudnya kota pintar atau smart city  di wilayah Sumedang melalui pengembangan ekosistem edukasi dan ekonomi berbasis teknologi melalui peningkatan mutu dan jenis layanan pemerintah dan  sumber daya manusia setempat.

Adapun di Gorontalo, Telkomsel menawarkan beberapa solusi seperti pengaturan armada atau fleet management melalui FleetSight,  yang membuat kendaraan operasional Pemda terhubung dengan perangkat telematika berbasis satelit, sehingga memudahkan kendaraan untuk dilacak keberadaannya. 

Selain itu, Telkomsel juga lmenghadirkan solusi smart tax serta platform pelaporan masyarakat. Melalui solusi-solusi tersebut, nantinya para Pemda di Provinsi Gorontalo yang bertugas dapat lebih efisien dan transparan dalam menjalankan operasional pemerintahan sehingga meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia, Teguh Prasetya menilai penyebab terhambatnya implementasi kota pintar di Indonesia saat ini disebabkan tiga hal yaitu, sumber daya manusia, kesiapan teknologi, dan anggaran.  

Dari sisi pola pikir, kepala daerah memiliki peran krusial dalam mewujudkan kota pintar. Kepala daerah harus memiliki pola pikir untuk menerapkan teknologi bagi kota mereka.

Kemudian antara kesiapan teknologi dan anggaran juga saling berkaitan. Kesiapan teknologi yang harus sudah mendukung  untuk hadirnya kota pintar, dan saat teknologi hadir pemerintah daerah harus menyiapkan anggaran untuk itu.

“Dalam proses kan ada bujet, bisa menjawab masalah tidak [kota pintar],” kata Teguh.    

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper