Bambang Brodjonegoro Kumpulkan CEO dan Investor Startup Teknologi, Ada Apa?

Dewi Aminatuz Zuhriyah
Rabu, 30 Oktober 2019 | 16:29 WIB
Menristek Bambang Brodjonegoro
Menristek Bambang Brodjonegoro
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengundang pimpinan eksekutif atau chief executive officer (CEO) dari lima perusahaan berbasis teknologi dan tujuh perusahaan investasi atau venture capital (VC) dalam negeri, pada Selasa (29/10/2019).

Dalam hal ini, undangan tersebut dimaksudkan untuk meminta saran terkait program percepatan (quick win) yang diperlukan Kemenristek/BRIN untuk meningkatkan kompetisi Indonesia dalam bidang teknologi dalam rangka meningkatkan pertumbuhan  ekonomi.

“Pada kesempatan siang ini kami lebih pada posisi mendengarkan bagaimana kira-kira kami dari pihak pemerintah dapat bersinergi dengan pelaku bisnis, termasuk  memfasilitasi inovasi yang lebih besar untuk memajukan  Indonesia, berupa program-program percepatan  (quick win),” kata Bambang, dalam siaran pers yang diterima pada Rabu (30/10/2019).

Dia mengungkapkan program quick win diperlukan untuk mendorong inovasi yang mungkin masih menjadi kelemahan Indonesia dalam pengembangan ekonomi nasional.

Menurutnya, program quick win harus dilakukan mengingat ranking Global Competitiveness Index Indonesia menurun dari 36 menjadi 50. Salah satu faktor yang dianggap tertinggal di Indonesia itu adalah di parameter inovasi.

“Rankingnya relatif rendah, berarti kita perlu mengidentifikasi program-program quick win untuk memacu ranking  inovasi agar lebih besar,  sehingga nantinya bisa membantu ranking dari daya saing Indonesia sendiri.”

Dia mengungkapkan program quick win ini juga diharapkan dapat menciptakan lebih banyak perusahaan pemula (startup) berbasis teknologi menjadi unicorn yang bervaluasi lebih dari US$ 1 miliar.

Adapun dalam hal ini, beberapa masukan dari para CEO adalah pertama, match making (matching) program antara kebutuhan industri dan produk-produk inovasi yang dihasilkan peneliti dan perekayasa dari kalangan akademisi.

“Institusi litbangrep harus saling mengisi. Jangan sampai di masa yang akan datang Indonesia hanya menjadi market dunia, tetapi harus mampu menjadi produsen produk-produk inovasi untuk memenuhi kebutuhan lokal dan dunia.”

Kedua, penciptaan program kolaborasi antara institusi litbang pemerintah dan/atau  pendidikan tinggi dengan pihak swasta. Beberapa CEO dari perusahaan teknologi, seperti Tokopedia telah mempunyai kolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI) antara lain dalam Research on Big Data.

Ketiga, penerapan dan pemantapan konsep Triple Helix yang sekarang telah berkembang menjadi Penta Helix (Academicians - Business - Government - Community - Media), harus terus menerus dipelihara untuk menjaga ekosistem pengembangan ristek dan inovasi di Indonesia.

Keempat, perubahan mind set kurikulum program pendidikan yang mengarah pada problem solving (pemecahan masalah), dari pada hanya pasif dan menerima masukan searah, juga perlu di evaluasi, karena pemikiran kritis ke arah inovasi harus dibiasakan sejak usia dini.

Kelima, evaluasi terhadap metode reverse engineering (bermula dari akhir) dalam berinovasi. Dalam proses produksi, inovasi harus mulai digalakkan kembali.

“Jadi penciptaan inovasi tidak harus dimulai dari 'scratch' atau nol, tetapi harus dimulai dari akhir maupun dari tengah proses produksi dengan intervensi baru sehingga.menghasilkan produk-produk inovasi.”

Keenam, sharing pengalaman dari CEO perusahaan besar dunia, seperti Google maupun Amazone perlu juga dilakukan agar dapat menginspirasi anak muda Indonesia untuk berkarir dalam pengembangan Innovative Business.

Ketujuh, evaluasi dan optimalisasi pogram-program diaspora juga harus dilakukan secara maksimal, sehingga Indonesia dapat memaksimalkan kan para diaspora karena brain circulation tetap akan bermanfaat bagi pengembangan inovasi di Indonesia.

“Istilah 'brain drain' mungkin sudah mulai ditinggalkan, karena beberapa negara seperti India dan Tiongkok bahkan memanfaatkan jaringan diasporanya di luar negeri untuk kontribusi program pembangunan ekonomi negaranya.”

Selain itu, saran lain yang diberikan adalah identifikasi regulasi dan deregulasi peraturan yang menghambat perkembangan bisnis yang terkait dengan proses produksi dan inovasi juga perlu dilakukan. Serta, pemutakhiran database pelaku startup di Indonesia perlu terus menerus dilakukan karena kemudahan akses untuk mendapatkan data tersebut menjadi perhatian dari kalangan pelaku bisnis di Indonesia.

Sebagai informasi, turut hadir dalam kesempatan ini CEO Bukalapak Achmad Zaky, Co-CEO Gojek Andre Sulistyo, CEO Bubu Shinta Danuwardoyo, Co Founder Tokopedia Leontinus Alpha Edison, dan Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata.

Sedangkan dari perusahaan venture capital turut hadir Martin Hartono dari Djarum, Patrick Walujo dari Northstar, Abraham Hidayat dari Skystar Ventures, Sebastian Togelang dari Kejora Ventures, Melisa Irene dari East Venture, Jefrey Joe dari Alpha JWC Venture, dan Anthony LimGDP Venture.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper