Menyongsong Era 5G di Dunia Industri Tanah Air

Penerapan teknologi 5G untuk pasar konsumen belum terlalu dibutuhkan. Monetisasi 5G kemungkinan baru dapat terjadi di sektor korporasi bukan ritel, ketika teknologi ini menampakan diri di Indonesia.   
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  20:03 WIB
Menyongsong Era 5G di Dunia Industri Tanah Air
Seorang wanita mengoperasikan ponselnya di dekat logo teknologi 5G. - REUTERS/Sergio Perez

Bisnis.com, JAKARTA — Penerapan teknologi 5G untuk pasar konsumen belum terlalu dibutuhkan. Monetisasi 5G kemungkinan baru dapat terjadi di sektor korporasi bukan ritel, ketika teknologi ini menampakan diri di Indonesia.   

Secara global, beberapa operator di luar negeri telah menggunakan 5G untuk korporasi atau industri.

Teknologi 5G yang menawarkan kecepatan dan latensi rendah mendukung sejumlah perangkat yang terhubung dengan internet atau Internet of Things (IoT), mengingat masifnya pengguna IoT di sebuah perusahaan nantinya. 

Mohamad Rosidi, Director ICT Strategy and Business Public Affairs & Communications Dept. HuaweiIndonesia mengatakan sejumlah operator seluler luar negeri yang telah mengembangkan 5G untuk industri antara lain, Telenor untuk industri peternakan ikan dan China Unicom untuk industri kesehatan.

“Jadi 5G masuknya ke konektivitas, logikanya semakin kita beli banyak, semakin murah harganya,” kata Rosidi beberapa waktu lalu di Jakarta. 

Berdasarkan informasi yang dihinpun Bisnis.com, Telenor Norwegia diketahui menggunakan 5G untuk mendukung proyek percontohan peternakan ikan di lepas pantai atau di Samudera Norwegia. Proyek ini merupakan yang pertama di dunia.

Proyek yang dinamakan dengan Ocean Farm 1, digarap oleh SalMar, perusahaan produsen makanan laut Norwegia. Dalam proyek ini komoditas ikan yang diternakan adalah ikan jenis Salmon yang memiliki harga tinggi, sehingga perawatannya pun perlu dilakukan dengan hati-hati. 

Ikan Salmon dinikmati di lebih dari 100 negara, tidak heran hingga saat ini terdapat hampir 1.500 peternakan ikan Salmon yang terletak di sepanjang garis pantai.

Diprediksi, pada masa depan, jumlah peternakan ikan Salmon akan bertambah tiga kai lipat, sehingga mendorong hadirnya tenaga kerja tambahan.

Sebagai solusi dalam mengatasi permasalahan tersebut, sejumlah perusahaan mulai mengembangkan peternakan ikan Salmon di lepas pantai dengan bantuan perangkat sensor.

Satu peternakan ikan umumnya memiliki satu tongkang, wadah besar seperti kapal yang berisi ikan Salmon, dan 4—8 kandang ikan Salmon.

Nantinya, pada setiap tongkang dan kandang akan terdapat dua kamera yang berfungsi untuk memantau kondisi ikan dari jarak jauh, yang digerakan dengan jaringan 5G.

Di samping itu, di setiap kandang juga dilengkapi dengan perangkat IoT untuk memberi makan. Kehadiran alat pemberi ikan robotik dibutuhkan karena selama ini makanan yang diberikan kepada ikan selalu berlebihan sehingga terbuang sia-sia.

Sekurangnya 20% dari total makanan yang diberikan kepada ikan, berujung sia-sia. Bahkan 5% dari makanan terbuang dan tidak dimakan tersebut berubah menjadi limbah yang merusak ekosistem ikan, berujung pada kerugian hingga kegagalan panen ikan.   

Kehadiran 5G dalam peternakan lepas pantai diperlukan mengingat sensor yang digerakan masif dan serentak atau real time.

Berdasarkan data yang diperoleh total uplink throughput untuk kebutuhan budidaya ikan adalah 100Mbps, pada tahap berikutnya, ketika mengadopsi deteksi salmon sakit melalui AI dan kamera 4K maka diperlukan throughput uplink di atas 200Mbps.

Data kamera dan sensor ditransmisikan ke pusat operasi dan hanya butuh sedikit karyawan yang mengontrol alat tersebut dari jarak jauh, sehingga diperkirakan terjadi efisiensi sampai US$150 juta per tahun untuk 1.500 peternakan ikan.

Tidak berhenti di situ, Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia, Teguh Prasetya mengatakan, dalam peternakan ikan tersebut, nantinya juga ada sensor yang berfungsi untuk membaca kondisi ombak dan kondisi dalam laut, sehingga dapat memprediksi datangnnya badai ataupun bencana lainnya yang kemungkinan akan mengganggu ekosistem di peternakan ikan.

“Sensor bisa mendeteksi kondisi di dalam laut, kondisi ombak, posisi ikan, hingga menjadi peringatan jika ada bahaya,” kata Teguh.

Selain untuk peternakan ikan, Teguh menambahkan implementasi 5G juga dapat membantu untuk industri kesehatan, seperti simulasi operasi.

Dia mengatakan dengan kecepatan tinggi dan kapasitas besar, 5G dapat membantu para calon tenaga kesehatan dalam latihan operasi atau simulasi dengan menggunakan augmented reality atau realitas tambahan yang menggabungkan dunia nyata dan maya.

Apa yang diuraikan Teguh, sudah terjadi di China, sebuah perusahaan telekomunikasi di negeri tirai bambu tersebut, China Unicom,  tidak hanya menerapkan 5G untuk simulasi, namun sudah mempraktikannya langsung.

Latensi rendah yang merupakan karakteristik 5G, dimanfaatkan untuk mendukung jalannya operasi lambung pada seekor babi di Fuzhou, Provinsi Fujian.  

Dalam proses operarasi tersebut, Lobulus hati babi dikeluarkan oleh seorang dokter yang mengendalikan lengan bedah robotic.

Dengan latensi hanya 0,1 detik dari koneksi 5G milik Huawei Technologies, operasi tersebut hanya meninggalkan luka bedah itu kecil dengan sedikit pendarahan selama operasi, dan tanda-tanda vital babi stabil. 5G memberikan lantesi hingga 20 kali lipat dibandingkan dengan 4G.

Suksesnya operasi ini membuka kemungkinan bahwa ke depan operasi dapat dilakukan dari  jarak jauh khususnya di daerah bencana dan di daerah perbatasan, sehingga tim medis tidak perlu lagi hadir ke lokasi.

Di samping itu, hadirnya 5G juga diharapakan dapat memudahkan dokter yang berada di rumah sakit pusat berkordinasi dengan beberapa rumah sakit di kawasan terpencil.

implementasi 5g

DALAM NEGERI

Sementara itu, Ririek Adriansyah, Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk., sejak awal meyakini bahwa teknologi terbaru tersebut, baru dapat digunakan untuk sektor korporasi atau industri.

Adapun Telkom mengklaim telah siap untuk mengimplementasikan 5G di korporasi yang bergerak di bidang kertas, jika frekuensi dan regulasi 5G telah rampung.

Telkom telah menjalin pembicaraan dengan salah perusahaan yang begerak di industri kertas di salah satu pulau mengenai pemanfaatan 5G, dalam bentuk joint innovation center. Telkom juga telah berkerja sama dengan tiga vendor dalam pengembangan pemanfaatan 5G sekaligus uji coba untuk B2B. 

Ririek melihat sulit untuk memasarkan generasi ke lima secara komersial kepada konsumen mengingat, besarnya nilai investasi yang harus digelontorkan untuk mengembangankan jaringan dan harga layanan yang mahal. 

“Kami siap, meskipun pengembangan jaringan dan layanan 5G ini harus dilakukan secara terukur,” kata Ririek.

Tidak hanya itu, penggunaan 5G untuk industri juga sedang diujicobakan oleh PT Smartfren Telecom Tbk. Smarfren menggandeng ZTE dalam uji coba.

Uji coba di lingkungan pabrik yang terdapat di Marunda, Jakarta Utara. Alasan uji coba dilakukan di pabrik karena 5G memiliki kelebihan dibanding 4G LTE, antara lain dari segi latensi yang lebih kecil dan bandwith lebih besar.

Lantas dengan kondisi global dan dalam negeri, besar kemungkinan nantinya 5G akan dimanfaatkan untuk sektor korporasi. Pertanyaannya tinggal, kapan hal tersebut akan terjadi? Atau nanti kita kembali tertinggal? 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
teknologi 5G

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top