Central Capital Ventures Fokus di Fintech, Cari Peluang Kolaborasi untuk BCA

CCV masih menggunakan alokasi dana investasi sebesar Rp200 miliar yang disuntikkan oleh BCA ketika CCV pertama kali berdiri pada kuartal II/2017.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  12:00 WIB
Central Capital Ventures Fokus di Fintech, Cari Peluang Kolaborasi untuk BCA
Pejalan kaki melintas di depan Menara BCA di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (24/2). - Antara/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA — Central Capital Ventures, perusahaan modal ventura bentukan PT Bank Central Asia (BCA) Tbk., fokus membidik perusahaan rintisan di bidang teknologi finansial (fintech) untuk menanamkan modalnya tahun ini.

Investment Associate Central Capital VC Eric Hendrickus menyatakan, CCV masih menggunakan alokasi dana investasi sebesar Rp200 miliar yang disuntikkan oleh BCA ketika CCV pertama kali berdiri pada kuartal II/2017 lalu. Sejauh ini, dia menyebut telah memiliki 14 perusahaan rintisan dalam portfolio investasinya. Meskipun demikian, dia enggan memerinci jumlah dana yang telah diinvestasikan ke seluruh perusahaan tersebut.

“Kami tidak ada target investasi. Kami tidak mau terpatok pada sebuah angka. Jadi setiap kali ketemu perusahaan rintisan yang kami nilai cukup bagus, akan kami pertimbangkan [untuk berinvestasi],” ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.

Dia menambahkan, perusahaannya fokus pada investasi tahap awal khususnya di Seri A.  Alasannya, dia menilai perusahaan pada tahap ini telah memiliki produk yang telah dijual ke pasar dan tengah mengincar pertumbuhan yang tinggi. Hal ini berbeda dengan perusahaan rintisan yang berada di tahap pre-seeds dan seeds funding yang produknya masih dalam tahap ide dan memiliki kemungkinan penyesuaian produk dengan pasar.

CCV fokus membidik perusahaan rintisan di bidang teknologi finansial, mulai dari peer-to-peer lending, pembayaran, insurtech, remitansi, dan lain lain. Menurutnya, hal ini selaras dengan keahlian BCA sebagai perbankan sehingga membuka peluang adanya kolaborasi dengan perusahaan tersebut.

“Kami pikir sebenarnya startup yang cocok buat kita adalah yang sudah launching tapi sedang berharap untuk tumbuh secara eksponensial, dan diharapkan mereka dapat kolaborasi dengan jaringan BCA. Sebaliknya, BCA juga bisa belajar fintech seperti apa dan tumbuh bersama,” ujarnya.

Dia menambahkan, rentang waktu investasi yang ditanamkan dalam perusahaan rintisan diproyeksi mencapai 5 hingga 10 tahun. Oleh karena itu, dalam tahun ketiga operasionalnya ini dia menilai perusahaan masih fokus dalam memilih perusahaan rintisan untuk diinvestasikan.

Lebih lanjut, pihaknya mengaku tidak membatasi invetasinya hanya untuk perusahaan rintisan asal Indonesia. Dia menyebut saat ini perusahaan juga memiliki portfolio investasi sejumlah perusahaan rintisan asal Singapura seperti perusahaan pengiriman uang dan transfer dana Wallex Technologies, dan perusahaan rintisan di bidang biometrik perangkat mobile Element Inc.

Selain itu, perusahaan rintisan yang menjadi portfolio investasi CCV di antaranya perusahaan peer-to-peer lending KlikACC, perusahaan insurtech Qoala, platform peminjaman JuloFinance, perusahaan pelacak belanja iklan media Pomona, perusahaan pembayaran AirWallex, perusahaan agregator kredit Impact Credit Solutions, dan masih banyak lainnya.

“Pendekatan kami cukup holistik dari sisi perusahaannya, produk, model bisnis, kompetitor di pasar seperti apa, hingga dari sisi tim dan finansialnya. Semuanya kami lihat dan menjadi bahan pertimbangan sebelum berinvestasi di startup,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bca, modal ventura

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup