Membangun Solusi IoT Kompleks dan Mahal

Lewat program Republik IoT, XL Axiata sudah memiliki 30 pengembang dengan 6—10 makers potensial yang akan dibawa ke tahap selanjutnya
Leo Dwi Jatmiko | 14 Mei 2019 09:45 WIB
Ilustrasi Internet of things

Bisnis.com, JAKARTA — PT XL Axiata Tbk. menargetkan bisa mengembangkan minimum 2 solusi internet of things sampai ke tahap komersial dari program inkubasi yang digelar perusahaaan.

Head of IoT Innovation XL Axiata, Boy Wicaksono mengatakan XL Axiata dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sempat menggelar sebuah acara inkubasi internet of things (IoT) dengan nama Republik IoT di Senayan, Jakarta, untuk menyaring pengembang (makers) potensial.

Dari acara tersebut, XL Axiata mendapatkan 30 pemenang dengan 6—10 makers potensial yang akan dibawa ke tahap selanjutnya untuk dipertemukan dengan pengambil keputusan.

“Harapannya pada 2019 dari 6 sampai 10 tahun yang potensial, kalau bisa jadi 2 sampai 4 yang bisa dikomersilkan, itu sudah bagus sekali, tetapi itu tergantung pengambil keputusan,” kata Boy kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.

Boy mengatakan, membangun IoT membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan membangun peranti lunak. Tidak seperti solusi berbasis peranti lunak, solusi IoT juga membutuhkan perangkat keras seperti sensor dan antena yang membutuhkan keahlian tersendiri dan menghabiskan lebih banyak biaya.

Para pengembang IoT, jelasnya, memperkirakan pembangunan sebuah prototipe solusi IoT membutuhkan biaya belasan hingga puluhan juta rupiah.

“Memang challenging, makanya kami tidak mau muluk-muluk dari 6—10, kami bisa launching 2—4 itu sudah bagus,” kata Boy.

Boy mengatakan inisiatif IoT di XL Axiata telah dimulai sejak 2017. Kemudian, pada November 2018, XL Axiata membuat XLCamp untuk merangsang pertumbuhan IoT di Indonesia. 

Dia mengatakan solusi IoT adalah bisnis baru dengan pasar yang berbeda dengan bisnis layanan seluler sehingga XL Axiata harus membangun sendiri rantai pasok dan permintaan pasar. Jika hanyau fokus pada pengembangan makers, bisnis IoT sulit bergulir.

 “Pada waktu yang bersamaan, kita harus dorong dua-duanya. IoT tidak bisa sendirian karena stakeholder IoT sangat kompleks dari sisi device, platform, network, dan aplikasi,” kata Boy.

Boy mengatakan upaya XL Axiata dalam membangun ekosistem IoT tidak berhenti pada membangun XLCamp. Pihaknya, kata Boy, juga melakukan roadshow ke beberapa kota bersama asosiasi IoT Indonesia untuk mengedukasi sekaligus mencari talenta makers terbaik. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
xl axiata, Internet of Things

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup