Microsoft Jadi Target Penyelidikan Antimonopoli di Rusia

Newswire
Jumat, 11 November 2016 | 13:00 WIB
Logo Microsoft/Reuters
Logo Microsoft/Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas anti-monopoli Rusia menyatakan sedang menyelidiki Microsoft dengan dugaan telah menyalahgunakan dominansi di pasar antivirus perangkat lunak.

Dalam pernyataannya pada Kamis (10/11/2016), Badan Antimonopoli Federal (Federal Antimonopoly Service/FAS) menyatakan keputusan itu diambil setelah menerima laporan dari perusahaan keamanan Internet Kaspersky yang bermarkas di Moskow.

Microsoft dituduh mengurangi menjadi enam hari kerja waktu bagi penjual perangkat lunak pihak ketiga untuk menyelaraskan paket antivirus mereka ke sistem operasi Windows 10, jauh lebih singkat dari waktu dua bulan untuk versi sebelumnya.

Ketika pengguna Windows memasang sistem operasi terbaru, antivirus perangkat lunaknya tidak aktif, dan sistem Microsoft Windows Defender secara otomatis mengambil alih.

Karena hanya ada waktu beberapa hari untuk melakukan perubahan guna menjamin kesesuaian, para pengembang perangkat lunak seperti Kaspersky tidak punya cukup waktu untuk memberikan layanan memadai kepada para pengguna.

"Ketika Microsoft sendiri mengembangkan sistem antivirus Windows Defender, yang secara otomatis aktif jika produk perangkat lunak pihak ketiga tidak punya waktu untuk beradaptasi dengan Windows 10, kebijakan seperti itu menjadi keuntungan yang tidak adil bagi Microsoft," kata Wakil Direktur FAS Anatoli Golomolzine dalam satu pernyataan yang dikutip kantor berita AFP.

Kaspersky mengonfirmasi pendekatan mereka ke otoritas anti-monopoli dan Komisi Eropa dalam satu pernyataan bahwa tindakan itu dilakukan "setelah diskusi berbulan-bulan tanpa hasil dan berbagai upaya melelahkan untuk menyelesaikan masalah itu langsung dengan Microsoft."

Pada Agustus, FAS memulai proses hukum terhadap raksasa teknologi Amerika Serikat Apple mengenai tuduhan pengaturan harga retail iPhone di Rusia.

Pada bulan yang sama, mereka mendenda Google sebanyak US$6,75 juta karena menyalahgunakan posisi dominannya di pasar dengan memaksa pembuat telepon pintar memasang mesin pencarinya pada telepon-telepon dengan sistem operasi Android.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Newswire
Editor : Fatkhul Maskur
Sumber : Antara
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper