Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KODE PROGRAM: Menyoal Objektivitas & Etika Algoritma

Sadar atau tidak, bila Anda menggunakan layanan dari perusahaan seperti Google, Facebook, Microsoft, dan Apple, Anda terpengaruh algoritma yang mereka implementasikan. Tapi apa itu algoritma?
Gombang Nan Cengka
Gombang Nan Cengka - Bisnis.com 13 Februari 2016  |  19:30 WIB
Namun juga ada masalah lain yang muncul: etika.  - Bisnis.com
Namun juga ada masalah lain yang muncul: etika. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Sadar atau tidak, bila Anda menggunakan layanan dari perusahaan seperti Google, Facebook, Microsoft, dan Apple, Anda terpengaruh algoritma yang mereka implementasikan. Tapi apa itu algoritma?

Secara singkat algoritma biasa didefinisikan sebagai panduan yang mendeskripsikan bagaimana menjalankan suatu tugas. ‘Menjalankan tugas’ ini diimplementasikan sebagai kode pemrograman.

Tiap-tiap perusahaan bisa menerapkan algoritma dasar yang sama, namun dengan implementasi yang berbeda. Secara umum algoritma biasanya tidak dilindungi hak cipta (walaupun di beberapa negara bisa dipatenkan).

Salah satu alasan penggunaan istilah algoritma dalam perdebatan umum saat ini adalah untuk menghindari perhatian ke layanan, aplikasi atau implementasi tertentu. Sebagai contoh, saat memperdebatkan masalah yang timbul karena fitur timeline Facebook, yang tidak lagi menampilkan pembaruan status secara kronologis (dalam urutan waktu).

Masalah yang sama juga bisa muncul bila algoritma yang sama atau mirip diterapkan di layanan lain, seperti Twitter.

MASALAH ETIKA

Beberapa fitur aplikasi atau layanan seperti pengenalan wajah, penerjemahan mesin, dan pengenalan suara didasarkan pada algoritma yang canggih. Tapi karena banyak di antaranya masih dalam tahap pengembangan, layanan seperti ini bisa saja melakukan kesalahan .

Namun juga ada masalah lain yang muncul: etika. Salah satu yang pernah membuat heboh adalah fitur pengenalan wajah pada aplikasi Google Photo. Layanan ini sempat masuk berita karena salah mengenali wajah orang berkulit hitam, dan mengklasifikasinya sebagai gorilla.

Google menyebutkan kesalahan ini tidak disengaja, dan bukan karena pihaknya rasis terhadap orang berkulit hitam. Fitur pada Google Photos tersebut didasarkan pada algoritma penglihatan mesin (machine vision), dan juga pembelajaran mesin (machine learning).

Meskipun buahnya sudah dapat ditemukan dalam berbagai aplikasi, bidang ini masih dalam riset intensif, dan kesalahan masih sering ditemukan. Pembelajaran mesin misalnya didasarkan pada model bahwa mesin dapat belajar dari data yang ada.

Keberhasilan mesin untuk “belajar ” ini sendiri tergantung pada data yang diberikan, dan ini tentunya berasal dari manusia. Pada banyak kasus, manusia (baik pengembang maupun pengguna) bisa mengoreksi keluaran mesin.

Sebagai contoh, pada kasus penggolongan surel sebagai spam atau bukan, mesin mungkin salah memasukkan surat yang bukan spam ke dalam ke ‘tempat sampah’. Bila Anda mengoreksi aplikasi, selanjutnya dia akan ‘belajar’.

Dalam kasus salah pengenalan wajah, bisa jadi pembuat aplikasi Google Photos tidak banyak menggunakan sampel wajah ras berkulit hitam saat mengajari sistemnya mengkategorikan foto. Ini kemudian berakibat kesalahan penggolongan.

Namun ini hanya spekulasi, karena kita tidak tahu persisnya algoritma dan data yang digunakan. Kita tidak bisa memeriksa objektivitas algoritma yang digunakan. Ini jugalah masalah yang timbul ketika timbul perdebatan tentang berbagai algoritma yang digunakan pada jaringan sosial, seperti Facebook.

News feed Facebook saat ini tidak lagi menampilkan seluruh pembaruan status dari teman-teman Anda seperti sebelumnya. Mereka memilihnya menurut berbagai kriteria yang tidak sepenuhnya jelas.

Pemilihan ini pada awalnya ditujukan agar para pengguna Facebook tidak tenggelam dalam status update, dan hanya akan terekspos pada konten yang relevan. Namun pada kenyataannya Facebook sempat menyalahgunakan fitur ini untuk melakukan eksperimen: menampilkan hanya beberapa status tertentu akan membuat pengguna lebih sedih, sementara status lainnya membuat pengguna lebih gembira.

Karena Facebook bisa mengubah algoritma yang dipakai tanpa sepengetahuan pengguna, tidak ada yang bisa mengetahui eksperimen ini dijalankan. Kita tidak hanya tidak tahu apakah algoritma tersebut objektif, tapi juga muncul masalah etika.

Selagi algoritma yang digunakan oleh berbagai layanan digital masih tertutup bagi penggunanya , masalah-masalah yang dibahas di atas masih akan terus muncul. (k8)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Algoritma

Sumber : Bisnis Indonesia, Jumat (12/2/2016)

Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top