Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Nilai Bisnis 3G Indonesia Capai Rp400 Triliun Dalam 10 Tahun

Presdir PT Internux (bolt) Dicky Moechtar menaksir nilai bisnis layanan seluler generasi ketiga 3G di Indonesia sejak diluncurkan pertama kali sejak 2006 mencapai Rp400 triliun
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 07 Juli 2015  |  18:26 WIB
Nilai Bisnis 3G Indonesia Capai Rp400 Triliun Dalam 10 Tahun
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Direktur PT Internux (Bolt) Dicky Moechtar menaksir nilai bisnis layanan seluler generasi ketiga (3G) di Indonesia sejak diluncurkan kali pertama pada 2006 silam mencapai Rp400 triliun.

“Selama hampir sepuluh tahun ini saya kira value 3G sekitar Rp300 triliun–Rp400 triliun. Jadi peluang bisnis pita lebar tetap besar,” katanya di Jakarta, Senin (6/7/2015) malam.

Nilai bisnis itu termasuk biaya lisensi frekuensi, investasi pergelaran jaringan, hingga pendapatan operator. Saat ini, tercatat empat operator seluler menggelar 3G di pita 2.100 MHz.

Empat operator itu adalah PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Indosat Tbk, PT XL Axiata Tbk, dan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri). Selain itu, Indosat juga menggelar 3G di pita 900 MHz (U900).

Kendati sudah hampir satu dasawarsa, Dicky menilai empat operator itu belum jua berhasil ‘memaksa’ pengguna ponsel fitur atau 2G masih beralih ke ponsel fitur berbasis 3G. Bahkan, kata dia lagi, di kota-kota besar pun pergelaran infrastruktur jaringan 3G belum merata.

“Rumah saya di Bintaro tidak ada 3G padahal sudah 10 tahun. Di Cimanggis juga tidak ada,” ujarnya.

Bolt merupakan operator pertama di Indonesia yang meluncurkan 4G LTE pada akhir 2013. Anak usaha Grup Lippo ini menggunakan pita 2.300 MHz untuk menggelar 4G LTE time division duplex (TDD).

Sementara itu, Senin kemarin empat operator untuk kali pertama merilis 4G LTE menggunakan pita 1.800 MHz di Indonesia Timur. Dengan demikian, para pemain bisnis seluler itu telah memiliki portofolio layanan lengkap: 2G, 3G, hingga 4G.

Namun, Dicky menilai dibandingkan Bolt, empat operator itu akan menghadapi tantangan lebih berat saat mengadopsi 4G. Salah satunya adalah mengalokasikan spektrum ideal agar tidak menganggu layanan 2G di pita 1.800 MHz.

“Kalau Bolt kan beda. Kami tidak punya warisan 2G dan 3G seperti mereka,” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

3g 4g lte 4g lte bolt dicky moechtar
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top