Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CTI Group Gandeng Imperva Rambah Solusi Keamanan Data

Blue Power Technology (BPT), distributor solusi infrastruktur teknologi informasi, semakin siap merambah bisnis keamanan data setelah menjalin kemitraan dengan Imperva, penyedia solusi keamanan pusat data asal California, Amerika Serikat.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 18 November 2014  |  23:53 WIB
CTI Group Gandeng Imperva Rambah Solusi Keamanan Data
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Blue Power Technology (BPT), distributor solusi infrastruktur teknologi informasi, semakin siap merambah bisnis keamanan data setelah menjalin kemitraan dengan Imperva, penyedia solusi keamanan pusat data asal California, Amerika Serikat.

BPT merupakan anak usaha PT. Computrade Technology International (CTI Group), salah satu distributor infrastruktur teknologi informasi terbesar di Indonesia. Dalam kerja sama tersebut, BPT akan menyediakan sumber daya berpengalaman, penjualan, pemasaran, hingga dukungan teknis.

Solusi Imperva merupakan sistem keamanan pelindung aplikasi dan data perusahaan di pusat data baik virtual maupun fisik. Solusi ini memberikan lapisan proteksi tambahan guna menangkal serangan atau pencurian peretas dari luar maupun internal perusahaan.

Lugas M. Satrio, Presiden Direktur BPT, mengatakan ancaman yang dihadapi perusahaan semakin kompleks sehingga memerlukan pencegahan yang adaptif agar data perusahaan tidak ter-expose keluar.

“Kami akan menjawab tantangan ini melalui solusi keamanan Imperva yang diakui sebagai pemimpin untuk kategori web application firewalls,” katanya dalam keterangan pers yang diterima Bisnis.com, Selasa (18/11/2014).

Application Defense Center (ADC), lembaga riset milik Imperva, mengungkapkan aplikasi retail (e-commerce) menjadi target utama serangan peretas sebesar 48,1%, sementara bank dan lembaga keuangan menempati posisi terakhir.

Hal ini disebabkan proteksi aplikasi retail jauh lebih lemah dari lembaga keuangan. Para peretas juga tidak lagi melakukan serangan dengan frontal untuk mencuri data dan/atau uang.

Penjahat siber tersebut kini memutar secara diam-diam menyusup ke jaringan yang engage dengan perbankan seperti retail e-commerce, agar tidak terdeteksi oleh sistem keamanan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

solusi siber cti group
Editor :
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top