Lisensi frekuensi tak akomodir perkembangan teknologi

JAKARTA: Lisensi yang diperoleh operator telekomunikasi dalam pemanfaatan alokasi frekuensi di Indonesia dinilai harus berupa natural lisensi, sebagai upaya untuk mengakomodir perkembangan teknologi.Director & Country Manager Qualcomm Indonesia Harry
Fatkhul-nonaktif
Fatkhul-nonaktif - Bisnis.com 27 Mei 2011  |  11:54 WIB

JAKARTA: Lisensi yang diperoleh operator telekomunikasi dalam pemanfaatan alokasi frekuensi di Indonesia dinilai harus berupa natural lisensi, sebagai upaya untuk mengakomodir perkembangan teknologi.Director & Country Manager Qualcomm Indonesia Harry K. Nugraha mengatakan sebagai sumber daya yang terbatas, pemanfaatan frekuensi seharusnya dapat dioptimalkan untuk mengadopsi berbagai teknologi yang berkembang.Menurut dia, lisensi untuk pemanfaatan frekuensi di Indonesia hingga kini belum mengakomodir perkembangan teknologi, sehingga sering terjadi benturan ketika akan dilakukan implementasi teknologi baru oleh operator.Sejauh ini, pemanfaatan frekuensi oleh operator telekomunikasi dilakukan sesuai lisensi yang diperoleh. Misalnya untuk frekuensi 2,3 GHz yang dimanfaatkan untuk penggelaran WiMax oleh lima operator pemenang tender meliputi PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk, PT Berca Hardayaperkasa, PT Jasnita Telekomindo, PT Indosat Mega Media (IM2), dan PT First Media Tbk.Padahal, dia menambahkan frekuensi tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh operator untuk menggelar teknologi lain seperti Long Term Evolution (LTE) yang kini makin banyak digunakan di negara lain karena dinilai lebih efisien."Jika pemanfatan frekuensi itu menggunakan natural lisensi, maka operator telekomunikasi pemenang tender untuk 2,3 GHz dapat menggelar teknologi lain seperti LTE pada frekuensi yang sama. Tergantung mereka ingin yang mana. Itu hanya masalah pilihan," ujarnya kepada Bisnis, hari ini. (gak)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top