Grab Manfaatkan Kecerdasan Buatan (AI) untuk Deteksi Penipuan hingga Promo

Rika Anggraeni
Selasa, 14 Mei 2024 | 13:56 WIB
Ilustrasi pengemudi ojek daring Grab./Reuters-Beawiharta
Ilustrasi pengemudi ojek daring Grab./Reuters-Beawiharta
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Grab Indonesia memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mengoperasikan ekosistem bisnis perusahaan. AI juga membant Grab dalam meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengguna.

Regional Head of Product Strategy Grab Anandhita Kasetra mengatakan teknologi AI diimplementasikan di dalam aplikasi yang menghubungkan perusahaan konsumen, pedagang (merchant), dan pengemudi (driver). 

“Sebenarnya AI bukan hal yang baru di Grab, karena bagi kami untuk scale our operations and marketplace management, kita perlu AI ini,” kata Anandhita dalam acara Grab Business Forum 2024 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (14/5/2024).

Anandhita menyampaikan bahwa lanskap penggunaan AI di Grab terjadi pada semua ekosistem perusahaan, termasuk manajemen pasar (marketplace management).

Dalam hal marketplace management, Grab telah mengadopsi AI dengan mencocokkan perjalanan hingga perkiraan waktu kedatangan pengemudi.

Selain itu, Grab juga menyatakan pihaknya memprioritaskan keselamatan dan risiko (safety & risk) dalam penggunaan lanskap AI. Langkah ini dilakukan melalui pengenalan foto (selfie recoignition), content moderation, dan fraud detection.

Content moderation merupakan prosedur yang dapat menyiasati alur konten dalam platform perusahaan agar tetap sesuai panduan. Sementara itu, fraud detection berkaitan dengan pendeteksian jika terjadi gangguan atau kesalahan. 

“Safety is our top priority. Co-founder Grab saat itu menyebut bahwa grab itu dibuat bukan untuk memberikan transportasi yang murah, tetapi tujuan utamanya sampai sekarang adalah memberikan transportasi yang aman untuk semua,” tuturnya.

Lanskap penggunaan AI lainnya dalam ekosistem Grab adalah tampilan personalisasi, transaksi end-to-end, hingga rekomendasi promo.

Lebih lanjut, Anandhita menuturkan bahwa adopsi AI dalam ekosistem Grab atau dikenal dengan sebutan auto adoptive systems menggambarkan penggunaan AI yang terintegrasi dengan sistem Grab, mulai dari data, predictions & decision, actions, dan monitoring.

“Misal saat hujan, kami punya datanya, dengan data itu kita bangun predictive model yang akan membuat skema delivery yang spesifik. Ada penyesuaian dan monitoring,” imbuhnya.

Anandhita menyatakan bahwa permasalahan yang terjadi di Grab sangat kompleks, sehingga solusi yang ditawarkan juga harus disesuaikan. “Walaupun kadang kita bekerja sama dengan vendor di luar atau third parties application yang harus dicustomize lagi. Jadi banyak customize solutions yang kami buat berdasarkan AI,” ungkapnya.

Salah satu solusi yang ditawarkan Grab adalah dengan menghadirkan Grab Maps yang dirancang secara end-to-end. “Setelah banyak analisa, akhirnya kita putuskan kita harus punya maps sendiri grab maps. Menurut saya, kerennya di sini, kami buatnya secara end-to-end,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Rika Anggraeni
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper