Ericsson PHK 1.200 Karyawan Imbas 5G Sepi Peminat

Crysania Suhartanto
Rabu, 27 Maret 2024 | 13:59 WIB
Siluet pengunjung pada pameran “Do Zone” Ericsson Indonesia di Jakarta, Selasa (17/4/2018)./JIBI-Nurul Hidayat
Siluet pengunjung pada pameran “Do Zone” Ericsson Indonesia di Jakarta, Selasa (17/4/2018)./JIBI-Nurul Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan teknologi jaringan dan telekomunikasi Ericsson akan melakukan PHK pada 1.200 karyawannya di Swedia untuk mengurangi pengeluaran perusahaan imbas penurunan penjualan infrastruktur 5G pada 2023.

Tindakan efisiensi ini juga dilakukan untuk mengatasi pasar jaringan seluler yang diprediksi penuh dengan tantangan pada 2024. 

CEO Ericsson Börje Ekholm pernah memaparkan bahwa penurunan bisnis perusahaan di 2024 disebabkan oleh penurunan pasar Radio Access Network (RAN) di luar China.

“Seperti yang dinyatakan sebelumnya, Ericsson memperkirakan pasar jaringan seluler akan penuh tantangan pada 2024, dengan kontraksi volume lebih lanjut, karena pelanggan tetap berhati-hati,” ujar Ericsson dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters, Rabu (27/3/2024).

Adapun dikutip dari Reuters, perusahaan masih menolak untuk menyebutkan angka yang dapat dihemat dari tindakan efisiensi tersebut.

Diketahui, setelah beberapa tahun peralatan 5G mengalami peningkatan penjualan yang signifikan, pada 2023 pembelian infrastruktur alami perlambatan. Hal inipun mendorong perusahaan penyedia infrastruktur jaringan Ericsson untuk memberhentikan karyawannya. 

Oleh karena itu, ini bukan kala pertama Ericsson melakukan PHK. Pada 2022, Ericsson pernah melakukan PHK pada 8.500 karyawannya di Swedia untuk menekan pengeluaran perusahaan hingga US$860 juta. 

Adapun saat itu kabar PHK mencuat setelah laporan keuangan perusahaan terbit dan hasilnya tidak memuaskan. Saat itu, penjualan Ericsson turun 17% dari tahun sebelumnya, yang mana didorong dari penurunan pembelian jaringan sebesar 23%.

Selain itu, pendapatan bersih perusahaan pada 2022 juga mengalami penurunan hingga 45%.

Sedihnya, hal serupa juga terulang di 2023. Laba operasional Ericsson mengalami penurunan dari 8,08 miliar krona atau Rp12,1 triliun pada 2022 menjadi 7,37 krona atau Rp11 triliun pada 2023. 

Untuk penjualan bersih, walaupun sudah melebihi prediksi, tetapi hasilnya masih mengalami penurunan sekitar 16%. Lebih lanjut, pendapatan Ericsson juga mengalami penurunan 3% menjadi 264,4 miliar krona.

Hal ini tidak terlepas dari penurunan penjualan di pasar utama Ericsson, yakni Amerika Utara dan India

Kendati demikian, berdasarkan catatan Bisnis, Ericsson masih optimistis penjualan di semester II/2024 akan membaik. Salah satunya dengan adanya kesepakatan pembangunan jaringan telekomunikasi Open-RAN yang dilangsungkan oleh AT&T.

Lebih lanjut, CEO Ericsson Börje juga mengatakan keoptimisannya. Menurutnya, setiap ada penurunan besar di pasar seluler, ke depannya pasti akan naik lagi.

“Operator dapat menghabiskan banyak aset namun pada akhirnya harus berinvestasi untuk mengelola pertumbuhan lalu lintas data, biaya, penggunaan energi dan, tentu saja, kualitas jaringan, serta memberikan pengalaman yang diinginkan pelanggan kepada pelanggan,” ujar Börje.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper