Elon Musk Sulap Twitter (X) Jadi Alat Pembayaran Seperti WeChat dan Gopay

Redaksi
Kamis, 7 Maret 2024 | 10:48 WIB
Elon Musk/Bloomberg
Elon Musk/Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Taipan asal Amerika Serikat Elon Musk mengatakan media sosial X sebentar lagi akan mendapatkan persetujuan untuk lisensi pengiriman uang di New York. Hal ini akan menjadikan platform yang dahulu bernama Twitter itu makin dekat untuk menawarkan fitur pembayaran.

Semenjak membeli Twitter dengan harga US$44 miliar pada 2022, Musk telah berusaha mengubah X menjadi platform multiguna.

Media sosial X nantinya bisa seperti WeChat yang merupakan salah satu platform di China dengan kemampuan fitur-fitur di luar media sosial, termasuk mengirimkan uang dan toko online atau pun aplikasi Gopay di Indonesia.

tampilan aplikasi Wechat
tampilan aplikasi Wechat

Untuk mengimplementasikan fitur ini, X harus memiliki lisensi di setiap negara bagian di Amerika Serikat. Sebelumnya Elon Musk mengatakan bahwa New York dan Californa kemungkinan yang paling susah untuk mendapatkan izinnya. Dua negara bagian yang penuh penduduk itu memang sudah terkenal dengan perizinannya yang cukup rumit.

Musk mengatakan bahwa X akan mendapatkan lisensi dari negara bagian tersebut dalam beberapa bulan mendatang. Pennsylvania dan Utah merupakan negara bagian yang sudah memberikan lisensi pengirim uang kepada X.

Perusahaan ini telah mendapatkan persetujuan di negara-negara bagian termasuk Pennsylvania, Utah, New Hampshire, Arizona, Georgia, Maryland, dan Michigan.

Dengan pencapaian regulasi ini, X secara strategis menempatkan dirinya untuk memperluas penawarannya dan mengubah model bisnisnya di luar akarnya dalam media sosial dan periklanan digital.

Seperti aplikasi Venmo milik PayPal, lisensi ini akan mengizinkan X untuk memfasilitasi transfer uang, membuka jalan bagi pengguna untuk mengirim uang satu sama lain secara langsung melalui platform. Langkah ke dalam layanan pembayaran dianggap sebagai upaya strategis oleh X untuk mendiversifikasi sumber pendapatannya di luar ketergantungannya pada periklanan digital, yang menghadapi tantangan setelah kepemilikan Elon Musk.

X mengalami kesulitan dalam periklanan ketika beberapa pengiklan besar menunda pengeluaran atau mundur dari platform setelah Musk memberikan dukungan kepada pengguna X yang mempromosikan teori konspirasi antisemit tahun lalu. Pada sebuah acara New York Times DealBook di bulan yang sama, sang CEO miliarder membuat komentar yang tidak pantas mengenai merek-merek yang telah menangguhkan iklan mereka di X. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Redaksi
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper