Transaksi Food Delivery Asean Tembus Rp269 Triliun 2023, Grab Kalahkan Gojek

Crysania Suhartanto
Kamis, 1 Februari 2024 | 19:25 WIB
Logo angkutan online Grab/Reuters-Edgar Su
Logo angkutan online Grab/Reuters-Edgar Su
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai transaksi industri pengiriman makanan (food delivery) di Asia Tenggara mencapai US$17,1 miliar atau Rp269 triliun (kurs: Rp15.759) pada 2023, tumbuh sebesar 5% secara tahunan. Grab mendominasi kalahkan Gojek, Shopee, dan Food Panda. 

Adapun pertumbuhan pada periode 2022-2023 stagnan jika dibandingkan dengan 2021-2022.

Pertumbuhan pesan antar makanan tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan transaksi platform pesan antar makanan pada periode 2020-2021 bisa mencapai 30%, sementara pertumbuhan pada periode 2019-2020 sempat mencapai 183%.

Laporan dari lembaga riset Momentum Works menemukan pertumbuhan transaksi yang stagnan pada tahun ini disebabkan oleh perusahaan yang sudah berfokus pada profitabilitas. 

Alhasil, mereka sulit untuk memberikan subsidi atau diskon pesan antar makanan dan mulai mengadopsi strategi yang berbeda untuk bersaing.

Belum lagi efek kepercayaan investor pada sektor quick commerce yang sudah berkurang, sehingga pendanaan yang diberikan juga alami penurunan. 

Nilai transaksi food delevery di Asia Tenggara 2023
Nilai transaksi food delevery di Asia Tenggara 2023

Diketahui, pertumbuhan transaksi di Vietnam adalah sebesar 27%, Malaysia sebesar 9%, sementara di Indonesia dan Thailand pertumbuhan transaksi hanya satu digit rendah, dan di Singapura tidak terjadi pertumbuhan sama sekali. 

Jika melihat per platform, Grab menyumbang sekitar US$9,4 miliar atau 55% nilai transaksi pengiriman makanan dari kawasan ini. Angka inipun meningkat 6,8% dari tahun sebelumnya.

Sementara platform pesan antar makanan lainnnya, Foodpanda dan Gojek masing-masing menyumbang 15,8% dan 10,5% dari total nilai transaksi. Lalu, Shopee dan Lineman masing-masing berkontribusi 8,8% dan 8,1% dari nilai transaksi Asia Tenggara. 

Namun, sekalipun Grab mengambil nilai transaksi terbesar, ternyata hanya 5% masyarakat Asia Tenggara yang menggunakan layanan ini. Artinya, masih banyak segmen pasar yang belum tersentuh. 

Oleh karena itu, Momentum Works menyarankan agar para pemain food delivery mulai melakukan ekspansi ke 95% pangsa pasar yang belum tersentuh, yakni kota yang lebih kecil dan turis. 

Namun, memang perusahaan sudah harus berhati-hati, mengingat kondisi quick commerce secara global sedang tidak baik-baik saja. Hal ini sudah terjadi di China, India, Amerika Serikat, dan Eropa.

Di China, platform quick commerce Miss Fresh sudah tutup dan saham perusahaan lainnya Dindong terjun 98% sejak IPO.

Kemudian, platform quick commerce Gopuff asal Amerika Serikat juga terus menunda tanggal IPO dan mengalami kesulitan untuk mendapatkan profit. Lalu, ada tiga perusahaan quick commerce di Eropa ada yang sudah merger dan tutup.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper