GDP Venture Ungkap Tantangan Investasi Startup pada 2024

Crysania Suhartanto
Senin, 15 Januari 2024 | 18:49 WIB
ilustrasi venture capital/unsplash
ilustrasi venture capital/unsplash
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Modal Ventura milik Grup Djarum, GDP Venture menilai kondisi investasi startup di Indonesia pada 2024 sulit diprediksi dan cukup menantang, terutama pascaterpilihnya presiden baru Taiwan dan pemilu Indonesia. 

Venture Builder & Investment Partner in Entertainment Digital Media Commerce and Web3 Antonny Liem mengatakan hal ini tak terlepas dari kondisi geopolitik global dan pemilu yang akan terjadi di Indonesia. 

“Belum ada kabar yang positif banget dari tahun lalu, dan tahun ini kan tahun politik bagi banyak negara besar termasuk kita. Jadi ini sangat mempengaruhi sentimen investor,” ujar Antonny kepada wartawan, Senin (15/1/2024).

Antonny mengatakan hal ini diperparah dengan terpilihnya presiden baru Taiwan yang tidak terlalu berpihak pada China, sehingga hal ini dapat memperparah ketegangan antara dua negara. 

Diketahui, Lai Ching-te atau William Lai memenangkan pemilihan umum setelah mengamankan 40,05% suara, di tengah peringatan dari China yang menganggap Lai sebagai separatis atau lawan. Kendati demikian, dalam pidatonya, Lai mengatakan dirinya akan mengedepankan dialog dengan China.

Antonny mengatakan bisnis dan investor saat ini hanya membutuhkan stabilitas. “Lu mau stabil jelek, stabil bagus, yang penting investor tahu pasti, sehingga investor dapat menyesuaikan strategi,” ujar Antonny. 

Menurutnya, selama masih belum ada kepastian, baik kondisi ekonomi, geopolitik, hingga politik Indonesia, investor masih belum dapat mengambil keputusan karena dinilai sangat berisiko. 

Oleh karena itu, Antonny mengatakan tak heran jika memang investor saat ini sangat berhati-hati dalam memberikan suntikan dana. Hal inipun berdampak pada perusahaan-perusahaan baik rintisan ataupun besar yang mulai kesulitan dalam hal keuangan.

“Perusahaan yang belum profit masih susah untuk cari duitnya. Jadi perusahaan juga sudah harus memikirkan apakah tabungan yang dimiliki cukup untuk keberlangsungan perusahaan di masa depan,” ujar Antonny. 

Hal inipun, kata Antonny, yang kemudian berdampak pada banyaknya efisiensi karyawan ataupun penutupan bisnis. Oleh karena itu, Antonny mengatakan banyaknya kabar buruk ini sebenarnya cukup dapat diprediksi. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper