Suhu Terpanas di Bumi Juli 2023, NASA Siapkan Mitigasi Dampak Pemanasan Global

Rahmad Fauzan
Senin, 24 Juli 2023 | 17:52 WIB
Foto bumi dari satelit/unsplash
Foto bumi dari satelit/unsplash
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Para peneliti di The National Aeronautics and Space Administration atau NASA tengah mempersiapakan langkah antisipasi untuk menghidari dampak besar dari pemanasan global yang terjadi di Bumi

Mengutip berita Space.com, Senin (24/7/2023), pembahasan itu dilakukan sebagai respons atas suhu bumi yang mencetak rekor terpanas pada Juni 2023.

Direktur NASA Goddard Institute for Space Studies Gavin Schmidt mengatakan pihaknya sedang mengantisipasi peningkatan suhu bumi pada Juli 2023 dengan membaca gejala pemanasan global dari hari ke hari.

“Dengan memahami apa yang terjadi dari hari ke hari, kami mengantisipasi kenaikan suhu bumi pada Juli [2023) yang sepertinya akan mencetak rekor terpanas,” kata Schmidt.

Panas suhu bumi pada Juli ini, sambungnya, akan menyamai rekor yang pernah terjadi pada ratusan bahkan ribuan tahun silam.

Laporan Copernicus menyebut di beberapa wilayah di Eropa mengalami suhu terpanas karena 'kubah panas' meluas ke bagian selatan benua. Pola cuaca ini memungkinkan massa udara hangat terbentuk di bawah sistem bertekanan tinggi, menciptakan kondisi yang stabil dan kering.

Sebagian negara di Yunani, Spanyol timur, Sardinia, Sisilia, dan Italia selatan mengalami suhu di atas 45°C pada awal minggu ini. Panas ekstrem saat ini disebabkan oleh antisiklon, sistem bertekanan tinggi, yang mendominasi bagian atas atmosfer di Eropa selatan. 

Adapun NASA berupaya mengubah pemahaman manusia mengenai dampak pemanasan global terhadap kehidupan biologis.

Lebih jauh, NASA juga sedang mencari teknologi terbaru berupa pesawat tanpa awak guna memonitor kebakaran hutan, serta pemanfaatan satelit untuk melacak jejak emisi di seluruh dunia.

Selain itu, NASA menyorot pula langkah untuk mengumpulkan data asli tentang pemanasan global yang dapat diakses langsung baik oleh publik, peneliti, maupun pembuat kebijakan.

Upaya itu juga dimungkinkan melibatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) agar pengumpulan data bisa presisi dan akurat.

Kendati demikian, NASA mengakui mekanisme yang diperlukan untuk memungkinkan penggunaan teknologi canggih tersebut masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Rahmad Fauzan
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper