Bisnis Pascabayar Operator Seluler Makin Redup, Ini Sebabnya

Leo Dwi Jatmiko
Selasa, 28 Februari 2023 | 08:29 WIB
Ilustrasi penggunaan layanan seluler/Istimewa
Ilustrasi penggunaan layanan seluler/Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Rata-rata pendapatan yang dibukukan operator per pelanggan [average revenue per user/ARPU] pascabayar terus mengalami penurunan dalam 2 tahun terakhir, dengan penurunan tertajam terjadi pada 2022. 

Merujuk pada laporan info memo, ARPU pascabayar PT XL Axiata Tbk. (EXCL) pada 2022 tercatat sebesar Rp92.000 atau turun Rp14.000 (-13,2 persen YoY) dibandingkan 2021 (Rp106.000) dan turun Rp18.000 jika dibandingkan dengan 2020 yang sebesar Rp110.000. 

Sementara itu ARPU pascabayar PT Indosat Tbk. stagnan secara tahunan di posisi Rp33.300 pada 2022. Jika dibandingkan dengan 2020, ARPU Pascabayar Indosat tumbuh Rp2.800 dari posisi 2020 yang sebesar Rp30.500. Jumlah pelanggan pascabayar stagnan dalam 3 tahun terakhir di posisi 1,6 juta pelanggan, kendati perusahaan telah bergabung dengan Tri Indonesia. 

Kemudian untuk anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. yaitu Telkomsel, belum diketahui ARPU pascabayarnya, namun dari sisi jumlah pelanggan mengalami pertumbuhan sebesar 10,6 persen yoy menjadi 7,5 juta pelanggan pascabayar pada kuartal III/2022. 

Mengenai penurunan ARPU yang terjadi, Group Head Corporate Communications XL Axiata Retno Wulan mengatakan tren penurunan ARPU pascabayar terjadi karena perusahaan tengah melakukan ekspansi ke sejumlah kota. 

XL menawarkan harga pascabayar yang lebih terjangkau untuk menarik pelanggan baru. 

“[Penurunan ARPU pascabayar] terkait ekspansi perusahaan untuk kota-kota di tier-2 dan tier-3 di Indonesia yang menawarkan paket dengan harga lebih agresif untuk pelanggan,” kata Wulan kepada Bisnis, Senin (27/2/2023). 

Langkah tersebut terbilang berhasil. Terjadi peningkatan jumlah pelanggan pascabayar di XL Axiata dari 1,3 juta pada 2021 menjadi 1,5 juta pelanggan untuk 2022. 

Untuk meningkatkan ARPU pascabayar pada 2023, kata Wulan, perseroan akan melakukan berbagai upaya termasuk diantaranya meningkatkan pengalaman pelanggan yang lebih baik (better customer experience) hingga memberikan value lebih ke pelanggan yang semuanya tersebut untuk mendorong pelanggan lebih produktif lagi dalam menggunakan berbagai layanan XL. 

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai penurunan ARPU terjadi karena jumlah pelanggan pascabayar bertambah sehingga jumlah pembagi untuk total pendapatan makin banyak. Angka ARPU, kata Heru, diperoleh dari total pendapatan yang dibukukan operator dibagi dengan jumlah pengguna. 

Heru juga berpendapat bahwa di sejumlah negara, rata-rata ARPU berkisar Rp75.000. Artinya, dengan posisi ARPU pascabayar saat ini masih terbilang aman. 

“Untuk meningkatkan ARPU pascabayar, operator harus bekerja sama dengan aplikasi dengan skema bagi hasil. Ada juga layanan tambahan, termasuk FMC itu bisa jadi diversifikasi bagi operator,” kata Heru. 

Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward menilai untuk meningkatkan ARPU pascabayar pelanggan pascabayar harus dapat merasakan nilai tambah lebih besar dibandingkan prabayar. 

“Secara biaya yang dikeluarkan pelanggan, pascabayar minimal sama dengan prabayar. Atau secara kualitas, Service Level Agreement [SLA] malah lebih bagus yang pascabayar,” kata Ian. 

Adapun mengenai tren penurunan ARPU pascabayar operator seluler, menurut Ian, disebabkan oleh melemahnya daya beli. Kemampuan masyarakat untuk membeli layanan pascabayar yang relatif lebih mahal dari prabayar, menurun.

Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) M. Tesar Sandikapura mengatakan penurunan pascabayar disebabkan banyaknya korporasi yang tutup akibat pandemi Covid-19. Perusahaan merupakan pasar dari produk pascabayar.

Faktor lainnya adalah perang harga dan penurunan daya beli untuk produk pascabayar. Kendati dibayangi penurunan, prospek produk ini masih bagus menurut Tesar, khususnya untuk pasar korporasi. 

“Perusahaan-perusahaan banyak tutup sehingga banyak produk pascabayar yang tidak terpakai. Jarang personal pakai pascabayar, karena tidak ada nilai tambahnya,” kata Tesar. 

Tesar juga berpendapat bahwa layanan fixed mobile convergence (FMC) berpeluang menggerus bisnis pascabayar ke depan, seandainya produk ini menawarkan fitur yang lebih menarik. Pelanggan pascabayar personal berpeluang berpindah dari pascabayar ke FMC.

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Kahfi
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper