Tahan Banting! Emiten Menara Telekomunikasi Tetap Prospektif pada 2023

Leo Dwi Jatmiko
Rabu, 30 November 2022 | 14:23 WIB
Teknisi memasang perangkat Base Transceiver Station (BTS) di salah satu tower di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/3/2020)./Bisnis-Paulus Tandi Bonern
Teknisi memasang perangkat Base Transceiver Station (BTS) di salah satu tower di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/3/2020)./Bisnis-Paulus Tandi Bonern
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten menara telekomunikasi dinilai masih akan tumbuh pada tahun depan di tengah kondisi bayang-bayang resesi global. Pembangunan infrastruktur, termasuk infrastruktur telekomunikasi, menjadi salah satu fokus pemerintah pada 2023.

Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengatakan sektor telekomunikasi merupakan salah satu sektor yang tahan banting di tengah kondisi ketidakpastian. Indonesia masih memiliki kebutuhan yang besar terhadap infrastruktur telekomunikasi seiring dengan lalu lintas data internet yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Infrastruktur telekomunikasi masih akan tumbuh pada tahun depan. Fokus pemerintah pada RAPBN 2023 juga masih pada peningkatan SDM, infrastruktur, dan ekonomi digital. Jika kita ingin lihat bisnis suatu sektor bisa lihat dari RAPBN pemerintah,” kata Maximilianus, Rabu (30/11/2022).

Sementara itu mengenai beban yang ditanggung oleh emiten menara telekomunikasi khususnya dalam bentuk mata uang asing, Maximilianus mengatakan selama emiten tersebut memiliki pendapatan dalam bentuk mata uang asing, beban utang tersebut tidak akan terlalu berat.

Namun, jika emiten tidak memiliki pendapatan dari mata uang asing sedangkan saat itu rupiah terpuruk, maka beban emiten akan relatif lebih berat.

“Karena mereka harus konversi. Ada selisih yang harus ditanggung dan semoga ini tidak terjadi. Jadi lebih perusahaan yang memiliki utang dalam bentuk dolar, memiliki eksposur pendapatan juga dalam bentuk dolar,” kata Maximilianus.

Sekadar informasi, per semester I/2022 PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) memiliki jumlah pinjaman sebesar Rp14,84 triliun di mana keseluruhan dari pinjaman tersebut dalam bentuk mata uang rupiah.

Dibandingkan dengan perusahaan penyedia menara lainnya, PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), pinjaman MTEL masih yang terendah pada pertengahan 2022.

Berdasarkan data yang dihimpun, per semester I/2022 total pinjaman bank TOWR mencapai Rp35,30 triliun. Sebesar 11 persen dari total pinjaman tersebut dalam bentuk mata uang asing. Sementara itu TBIG memiliki total pinjaman bank sebesar Rp2,40 triliun, dengan porsi pinjaman dalam bentuk mata uang asing mendominasi sebesar 97 persen.

Kemudian dari sisi obligasi, TOWR memiliki obligasi sebesar Rp5,5 triliun dengan komposisi 65 persn di dalam negeri dan 35 persen di luar negeri. TBIG memiliki obligasi sebesar Rp23,1 triliun dengan komposisi 33 persen di dalam negeri dan 67 persen di luar negeri.

Sementara itu Analis Henan Putihrai Research Steven Gunawan menilai alasan emiten menara mengambil pinjaman dari luar negeri dikarenakan pinjaman luar negeri menawarkan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan di Indonesia.

“Namun, beban bunga bisa diimbangi oleh pengaruh depresiasi dolar atau rupiah juga. Umumnya utang dolar AS sudah di-hedging oleh emiten,” kata Steven.

Dia mengatakan bahwa MTEL saat ini masih menjadi pilihan teratas. Henan Putihrai Sekuritas merekomendasikan mempertahankan MTEL dengan peringkat BUY, namun, pada TP yang lebih rendah 900, dari 950 sebelumnya. Pasalnya pencapaian laba bersih MTEL pada kuartal III/2022 sedikit lebih rendah dari perkiraan.

Meskipun rasio tenansi lebih rendah, MTEL dinilai memiliki kemampuan untuk secara signifikan menumbuhkan jumlah menara dan penyewa pada kuartal III/2022 di tengah intensitas persaingan yang tinggi di industri.

Sementara itu, Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan secara jangka pendek MTEL masih dalam tren turun dan tengah berusaha diakhiri dengan pola (bottoming) double bottom.

NH Korindo menyarankan MTEL disupport 700 untuk buyback dengan target pada kisaran 730 / 740-745 / 755-760 / 780 dan stoploss bila berada di bawah 700.

Sementara itu TOWR dalam jangka pendek dalam tren masih relatif sideways. Dia menyarankan membeli ketika di atas 1150, dengan target  1200 / 1235 / 1290-1300. Stoploss jika berada di bawah 1120.

Terakhir TBIG, secara umum dalam tren turun, pola channel. Target dikisaran 2350 / 2440 /  2470-2510 / 2600 / 2700-2750. “Untuk beli sekarang masih terlalu spekulatif, better wait and see,” kata Liza.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper