Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Super Tua! Berapa Usia Bumi?

Para ilmuwan meneliti komet berdampak keras melemparkan potongan-potongan kerak bumi. Berapakah usia bumi?
Alifian Asmaaysi
Alifian Asmaaysi - Bisnis.com 15 September 2022  |  10:09 WIB
Super Tua! Berapa Usia Bumi?
Planet bumi bulat, berapakah usia bumi? - istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pernahkan Anda memikirkan berapa kiranya usia bumi? Pembahasan mengenai hal ini memang sudah banyak menjadi bahan perbincangan. Super tua, ternyata bumi miliki usia miliaran tahun. 

Dalam sebuah penelitian, dilaporkan bahwa planet yang kita huni ini terbentuk sekitar 4,54 miliar tahun yang lalu. Bukankah hal tersebut sulit untuk dipercaya? Namun nyatanya, bukti-bukti ilmiah dapat dengan mudah membuktikan hal tersebut. 

Angka tersebut diperoleh oleh para peneliti yang telah mempelajari sampel batuan paling kuno. Sampel batu yang diambil dan diteliti tidaklah hanya batuan dari Bumi saja melainkan juga dari bulan, serta meteorit yang terbentuk di awal tata surya. Semua data itu, jika digabungkan akan mampu menentukan usia Bumi. 

Pertanyaanya, lantas bagaimana hubungan bebatuan bulan dapat mempengaruhi pengetahuan mengenai usia bumi? 

Penting untuk diketahui sebelumnya, formasi batuan murni yang tidak berubah mungkin tidak mungkin ditemukan, tetapi masih ada batuan purba yang sangat langka untuk ditemukan.   

Secara lebih lanjut, para ilmuwan percaya  bahwa asteroid atau komet dapat berdampak keras melemparkan potongan-potongan kerak bumi ke luar angkasa, dan setidaknya satu bagian mendarat di bulan. Studi menemukan fragmen itu berusia sekitar 4 miliar tahun. Sehingga, hal itulah yang membuat para ilmuwan juga meneliti usia batuan dari bulan. 

Namun, mengingat batuan terestrial kuno tidak mungkin merupakan sisa dari kerak asli planet kita semata, para ilmuwan juga perlu melihat material tua di tempat lain di tata surya yang tidak mengalami banyak perubahan seperti batuan di Bumi.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan pada 2019, tentang batuan yang dibawa kembali oleh misi Apollo, menunjukkan bahwa bulan terbentuk sekitar 4,51 miliar tahun yang lalu, sekitar 50 juta tahun setelah pembentukan tata surya (4,56 miliar tahun yang lalu). 

Selain meneliti usia batuan bulan, para ilmuwan juga melihat sisa-sisa dari tata surya awal seperti meteorit dengan inklusi kaya kalsium-aluminium yang merupakan salah satu benda padat pertama yang menyatu saat planet mulai terbentuk di sekitar matahari muda. Mereka telah berumur 4,567 miliar tahun. 

Bagaimana para ilmuwan menentukan usia batu?

Dilansir dari earthsky.org, para ilmuwan mengukur usia batuan menggunakan teknik yang disebut dengan penanggalan radiometrik. Beberapa elemen dalam batuan bersifat radioaktif, dan para ilmuwan memanfaatkan sifat itu sebagai tolak ukur yang dapat digunakan untuk menentukan usia mereka.  

Dalam jumlah yang sangat besar, 50 persen atom radioaktif akan meluruh dari satu bentuk ke bentuk lainnya dalam jangka waktu tertentu. Interval waktu itu disebut waktu paruh. 

Misalnya, U-235 adalah isotop radioaktif uranium. Melalui serangkaian langkah peluruhan, ia terurai menjadi timbal yang stabil yang dikenal sebagai Pb-207. Dalam jargon kimia, U-235 disebut isotop induk dan Pb-207 adalah isotop anak. 

Untuk menentukan penanggalan batuan, para ilmuwan mengukur jumlah relatif isotop induk dan anak dalam sampel mereka. Dari penelitian sebelumnya, mereka sudah mengetahui bahwa waktu paruh U-235 – jumlah waktu yang dibutuhkan 50 persen U-235 untuk berubah menjadi Pb-207 – adalah 704 juta tahun. Oleh karena itu, jika sampel batuan masing-masing memiliki 50 persen U-235 dan Pb-207, maka batuan tersebut berumur 704 juta tahun. Jika sampel memiliki 25 persen U-235 dan 75 persen Pb-207, sampel tersebut berumur 1,4 miliar tahun. 


Isotop uranium induk lainnya, U-238 meluruh menjadi isotop timbal lain yang dikenal sebagai Pb-206, dengan waktu paruh 4,47 miliar tahun. Para ilmuwan menggunakan kedua isotop uranium dalam analisis sampel mereka karena hasilnya saling mempengaruhi. Analisis perbandingan U-235 terhadap Pb-207 dan U-238 terhadap Pb-206 pada suatu sampel akan memberikan hasil yang sama untuk umurnya. 

Mineral yang disebut zirkon sering mengandung U-235 dan U-238. Namun, timbal tidak dapat dimasukkan ke dalam kisi kristal. Oleh karena itu, jika timbal ditemukan dalam zirkon, ia hanya sampai di sana karena meluruh dari isotop uranium. Properti zirkon yang seperti penjara ini menjadikannya mineral yang ideal untuk digunakan dalam batuan penanggalan. 

Sejarah singkat pencarian usia Bumi

Mungkin,kini usia bumi bukanlah sebuah rahasia lagi. Namun nyatanya hal tersebut diraih setelah melalui perjalanan yang amat panjang. 

Fisikawan William Thomson, juga dikenal sebagai Lord Kelvin, menyimpulkan, pada tahun 1862, bahwa Bumi berusia antara 20 hingga 400 juta tahun, berdasarkan perhitungan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendingin dari keadaan cair. Ada banyak kontroversi di sekitarnya, karena para ilmuwan juga mulai mempertimbangkan ilmu evolusi yang baru. 

Sejarah penanggalan radiometrik ditemukan dan dimulai sekitar awal abad ke-20, para ilmuwan kemudian belajar lebih banyak tentang radioaktivitas. Fisikawan Earnest Rutherford bersama rekan-rekannya, adalah orang pertama yang mencoba melakukan pengukuran pada sampel batuan pada tahun 1904. Penemuan tambahan tentang radioaktivitas lebih menyempurnakan upaya pengukuran usia bumi. 

Pada tahun 1921, Arthur Holmes menunjukkan bahwa penanggalan radiometrik adalah metode yang valid untuk penuaan batuan, dan menetapkan bahwa Bumi berusia miliaran tahun lamanya. Sejak tahun 1960-an, penanggalan radiometrik telah menjadi cara yang dominan untuk mengukur usia batuan. 

Pada intinya, para ilmuwan sepakat menetapkan usia Bumi ada di angka 4,54 miliar tahun yang diukur menggunakan metode radiometrik pada batuan-batuan di bumi, bulan, hingga meteorit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bumi stasiun luar angkasa asteroid
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top