Pandemi Belum Berakhir, Nasib Online Travel Agent Masih Dipertanyakan

Ahmad Thovan Sugandi
Senin, 7 Februari 2022 | 06:54 WIB
tiket.com
tiket.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pemulihan perusahaan rintisan penyedia jasa perjalanan sangat bergantung dengan kebijakan terkait pandemi Covid-19.

Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) M. Tesar Sandikapura menyebut nasib startup Online Travel Agent (OTA) tergantung pada kondisi dan penanganan pandemi.

"Menurut saya untuk dapat pulih, OTA juga tergantung dengan kebijakan terkait pandemi, seharusnya kita berdamai dengan pandemi dan tidak menerapkan larangan bepergian yang terlalu ketat saat ini," ujarnya, Minggu (6/2/2022).

Menurut Tesar, tanpa diskon dan promo, OTA akan tetap digunakan oleh masyarakat karena kemudahannya dalam membantu bepergian atau melakukan wisata.

"Masyarakat sudah siap untuk kembali berwisata, karena kebutuhan, tergantung penanganan dan kebijakan terkait pandemi saja," ujarnya.

Pendapat Tesar tersebut didukung oleh survei yang dilakukan Inventure dan Alvara pada Januari 2022 degan 770 responden. Hasil survei tersebut menemukan 69,7 persen responden menyatakan ketertarikannya untuk bekerja melalui hotel atau destinasi wisata secara regular.

Sebanyak 69,5 persen responden merasa lebih siap hidup berdampingan dengan pandemi daripada periode saat varian Delta.

Adapun masyarakat secara perlahan mulai merasa yakin dan aman untuk beraktivitas di luar rumah. Keyakinan ini terutama terlihat untuk aktivitas umum seperti bekerja di kantor, berbelanja di pasar tradisional, menonton film di bioskop yang mendapatkan persetujuan tinggi dari responden yaitu sekitar 70-76 persen.

Adapun menurut data Badan Pusat Statistik yang dirilis pada Rabu (2/2/2022), jumlah penumpang penerbangan domestik pada 2021 turun sebesar 7,18 persen bila dibandingkan dengan 2020. Untuk angkutan laut dan kereta api juga mengalami penurunan sebesar 19,54 persen pada 2021.

BPS juga mencatat perkembangan penumpang angkutan udara di Indonesia juga menurun pada 2021 bila dibandingkan dengan 2020. Penerbangan domestik turun 7,18 persen, sedangkan penerbangan luar negeri turun 82,83 persen.

Jumlah tamu Indonesia di hotel non-bintang di dua daerah tujuan wisata, Bali dan Yogyakarta, mengalami penurunan drastis setelah pandemi. Menurut data BPS, pada 2019 jumlah tamu hotel non-bintang di Bali tercatat 1.858.640 orang, sedangkan pada 2020 turun hingga tersisa 130.270 orang.

Di Yogyakarta, data serupa juga menunjukkan penurunan drastis. Pada 2019 ada sekitar 3.711.716 orang tamu hotel non-bintang, sedangkan pada 2020 tercatat 812.546 orang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper