Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Warna-Warni Alam Semesta, Bukan Hitam Gelap

Tim menentukan bahwa warna rata-rata alam semesta adalah warna krem yang tidak terlalu jauh dari putih. Meskipun ini adalah temuan yang agak membosankan, ini tidak mengejutkan, mengingat cahaya putih adalah hasil dari kombinasi semua panjang gelombang yang berbeda dari cahaya tampak dan spektrum kosmik mencakup rentang panjang gelombang yang begitu luas.
Ayyubi Kholid Saifullah
Ayyubi Kholid Saifullah - Bisnis.com 23 Agustus 2021  |  20:05 WIB
Tata Surya - Reuters
Tata Surya - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Jika Anda berpikir bahwa alam semesta adalah berwarna hitam dan didominasi gelap, maka Anda salah besar.

Dilansir dari livescience.com, Ivan Baldry, seorang profesor di Institut Penelitian Astrofisika Universitas Liverpool John Moores di Inggris, mengatakan bahwa hitam bukanlah warna.

"Hitam hanyalah ketiadaan cahaya yang dapat dideteksi." Sebaliknya, warna adalah hasil dari cahaya tampak, yang diciptakan di seluruh alam semesta oleh bintang dan galaksi," katanya.

Pada tahun 2002, Baldry dan Karl Glazebrook, seorang profesor terkemuka di Pusat Astrofisika dan Superkomputer di Universitas Teknologi Swinburne di Australia, ikut memimpin penelitian yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal yang mengukur cahaya yang berasal dari puluhan ribu galaksi dan digabungkan itu menjadi spektrum tunggal yang mewakili seluruh alam semesta.

Dengan melakukan itu, mereka dapat menentukan warna rata-rata alam semesta.

Spektrum Kosmik

Bintang dan galaksi memancarkan gelombang radiasi elektromagnetik, yang dipisahkan ke dalam kelompok yang berbeda berdasarkan panjang gelombang yang dipancarkan.

Apa yang kita anggap sebagai warna sebenarnya hanyalah panjang gelombang yang berbeda dari cahaya tampak, seperti merah dan jingga memiliki panjang gelombang yang lebih panjang, dan biru dan ungu memiliki panjang gelombang yang lebih pendek. 

Cahaya tampak membentuk sebagian kecil dari spektrum elektromagnetik dalam hal pergantian panjang gelombang, tetapi itu adalah satu-satunya bagian yang dapat dilihat dengan mata telanjang.

Baldry berkata spektrum yang terlihat dari sebuah bintang atau galaksi adalah ukuran kecerahan dan panjang gelombang cahaya yang dipancarkan bintang atau galaksi, yang pada gilirannya dapat digunakan untuk menentukan warna rata-rata bintang atau galaksi.

Pada tahun 2002, survei galaksi terbesar yang pernah dilakukan pada saat itu, yaitu Australia's 2dF Galaxy Redshift Survey, menangkap spektrum tampak lebih dari 200.000 galaksi dari seluruh alam semesta yang dapat diamati.

Tim Baldry dan Glazebrook mampu menciptakan spektrum cahaya tampak yang secara akurat mewakili seluruh alam semesta dengan menggabungkan spektrum semua galaksi tersebut, yang dikenal sebagai spektrum kosmik.

Berdasarkan pada penemuan mereka, spektrum komik mewakili jumlah semua energi di alam semesta yang dipancarkan pada panjang gelombang cahaya optik yang berbeda, tulis Baldry dan Glazebrook dalam sebuah makalah online non-peer-review terpisah pada tahun 2002.

Konversi Warna

Baldry mengatakan bahwa para peneliti sedang mencoba mengubah spektrum kosmik menjadi satu warna yang terlihat oleh manusia dengan menggunakan program komputer pencocokan warna.

Mata kita memiliki 3 jenis kepekaan terhadap cahaya, yang dapat membantu kita melihat rentang panjang gelombang cahaya tampak yang berbeda.

Namun, tetap saja kita masih ada keterbatasan dalam visual. Oleh karena itu the International Commission on Illumination pada tahun 1931 membuat the CIE Color Spaces untuk menghubungkan warna dengan kombinasi panjang gelombang yang berbeda seperti yang terlihat oleh standar pengamatan manusia, menggunakan model komputer tim.

Tim menentukan bahwa warna rata-rata alam semesta adalah warna krem yang tidak terlalu jauh dari putih. Meskipun ini adalah temuan yang agak membosankan, ini tidak mengejutkan, mengingat cahaya putih adalah hasil dari kombinasi semua panjang gelombang yang berbeda dari cahaya tampak dan spektrum kosmik mencakup rentang panjang gelombang yang begitu luas.

Dari berbagai saran lainnya seperti cappuccino cosmico, Big Bang Beige dan Primordial Clam Chowder. Setelah kesepatakan para peneliti warna baru itu akhirnya dinamai "cosmic latte" berdasarkan kata Italia untuk susu.

Unshifting Merah

Konsep kunci dari spektrum kosmik adalah bahwa dia mewakili cahaya alam semesta seperti yang dibayangkan semula, tulis Balrdy dan Glazebrook dalam makalah online mereka.

Saat cahaya meregang, panjang gelombangnya meningkat dan warnanya bergerak menuju ujung merah spektrum, yang dikenal oleh para astronom sebagai pergeseran merah.

"Kami menghilangkan efek pergeseran merah dari spektrum galaksi," kata Baldry.

Oleh karena itu, cosmic latte adalah warna yang akan Anda lihat jika Anda dapat melihat alam semesta dari atas dan Anda juga dapat melihat semua cahaya yang datang dari setiap galaksi, bintang, dan awan gas sekaligus, kata Baldry.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ilmuwan muda tata surya
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top