Suntikan Dana Pemodal Ventura Mulai Deras pada Kuartal IV/2021

Akbar Evandio
Kamis, 19 Agustus 2021 | 18:53 WIB
Ilustrasi/Istimewa
Ilustrasi/Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Tren suntikan dana investor dan modal ventura baik dalam dan luar negeri ke startup Indonesia diramal kembali deras pada kuartal IV/2021.

Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang mengatakan tren investasi akan terus naik dengan makin aktifnya pemerintah untuk mendorong ekonomi digital sebagai upaya pemulihan ekonomi di Tanah Air sebagai persiapan untuk kebangkitan ekonomi pada 2022.

“Peluang startup Indonesia sangat besar. Karena bagaimanapun pangsa pasar ekonomi terbesar di Asean adalah Indonesia hampir 50 persen kue ekonominya di negara ini,” katanya, Kamis (19/8/2021).

Berdasarkan laporan DealStreetAsia, perusahaan rintisan di Asia Tenggara meraih pendanaan US$6 miliar atau sekitar Rp87,7 triliun pada kuartal I/2021.

Dianta meyakini pertimbangan utama dari modal ventura ke depan adalah melihat kekuatan tim, produk inovasi perusahaan rintisan yang ingin didanai serta potensi keuntungan di masa depan.

Selain itu, dia mengatakan faktor lain yang mendorong lonjakan pendanaan ke perusahaan rintisan pada kuartal akhir 2021 adalah pemulihan ekonomi dan percepatan digitalisasi aktivitas bisnis.

Hal tersebut dilandasi target pemerintah akan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen—5,5 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022.

“Tentu saja dengan sinyal pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif mendorong investor untuk ingin menikmati kue pertumbuhan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan momentum lain yang paling signifikan adalah pandemi Covid-19 yang mengakibatkan masih banyak penerapan bekerja dari rumah sehingga banyak dana yang dialihkan dari sektor industri konvensional.

Menurutnya, pada kuartal IV/2021 perusahaan rintisan yang berfokus di bidang teknologi kesehatan (healthtech), teknologi pendidikan (edutech), teknologi finansial (fintech) akan mendapat perhatian lebih oleh pemodal.

Sementara itu, laporan Preqin menemukan kian matangnya iklim pengembangan perusahaan rintisan (startup) dan penetrasi teknologi di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, menjadikan arus investasi pemodal asing yang bermain di ranah private equity and venture capital (PEVC) kian deras menyasar startup lokal.

Preqin menilai periode pandemi tak menghentikan wilayah Asean mencatatkan beberapa rekor baru pada 2021. Aset dalam portofolio (AUM) industri PEVC yang memfokuskan transaksinya ke Asean mencapai US$37 miliar pada Desember 2020, melesat jauh dari lima tahun lalu di US$17 miliar.

Bahkan, capaian pendanaan yang digelontorkan pada semester I/2021 ini sudah menyamai capaian sepanjang 2010. Serupa, total nilai pasar (asset under management/AUM) modal ventura 'lokal' atau asli asal Asean pun ikut melejit menjadi US$16 miliar, sekitar 2,6 kali dari capaian 2015.

Indonesia pun menjadi sorotan, karena menjadi tempat lahirnya 4 dari 5 unikorn terbesar yang beroperasi di kawasan ini. Selain itu, porsi jumlah transaksi dan nilai transaksinya dibandingkan dengan negara Asean lain pun konsisten menjadi no-2 terbesar selama 5 tahun terakhir, di bawah Singapura.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Akbar Evandio
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper