Indonesia Belum Jadi Rumah Nyaman bagi Startup Bioteknologi

Akbar Evandio
Senin, 28 Juni 2021 | 07:49 WIB
Ilustrasi/Istimewa
Ilustrasi/Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia dinilai belum menjadi rumah yang nyaman bagi perusahaan rintisan startup biotech (bioteknologi) untuk tumbuh.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani mengatakan dengan aturan yang begitu kompleks, tidak banyak pemain baru yang ingin masuk ke sektor ini.

“Sektor biotech di Indonesia rata-rata juga masih dipegang perusahaan besar dan konglomerasi serta rata-rata startup berbasis riset [research base] membutuhkan waktu lebih lama untuk muncul karena butuh dana lebih besar [untuk membangun] tanpa kepastian pendapatan,” ujarnya, Minggu (27/6/2021).

Lebih lanjut, dia menjelaskan saat ini tidak banyak modal ventura yang mengerti dengan sektor tersebut sehingga hal tersebut yang membuat kehadiran startup bioteknologi sulit menjamur di Indonesia.

Tidak hanya itu, menurutnya, meski banyak peluang untuk tumbuh lantaran didorong oleh kebutuhan mengatasi pandemi Covid-19, tetapi Indonesia masih memiliki kelemahan khususnya untuk tim riset dan pengembangan (research and technology/R&D) yang belum merata.

Edward meyakini apabila startup tersebut mulai bertumbuh di Tanah Air, maka kebutuhan untuk menyediakan layanan tes genetik berbiaya murah yang disesuaikan pasar Asia dapat direalisasi. Bahkan, penetrasi bisnisnya mampu tumbuh secara signifikan.

“Indonesia siap dengan kehadiran startup biotech dengan segala ekosistem pendukungnya kemungkinan 1—3 tahun ke depan,” ujarnya.

Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang mengatakan meskipun belum menjadi rumah yang nyaman untuk pertumbuhan startup bioteknologi, tetapi prospek pertumbuhan startup ini masih cukup besar di Indonesia.

Dia meyakini kunci utama untuk mendorong pertumbuhannya berada di tangan pemerintah dan perguruan tinggi negeri yang mana memiliki andil kuat untuk menciptakan ekosistem yang dibutuhkan, khususnya kesiapan SDM yang mumpuni.

Startup bioteknologi adalah perusahaan yang membutuhkan SDM yang andal tidak hanya secara digital, tetapi juga secara multiteknologi, kedokteran, kimia, biologi, nanoteknologi, dan lainnya. Selama ini fokus di Indonesia masih lebih banyak pada talenta digital untuk kebutuhan jasa saja,” katanya.

Sebab itu, dia meyakini kerja sama pemerintah dengan perguruan tinggi negeri dapat mendorong pertumbuhan tersebut. Misalnya, dengan memasukan startup bioteknologi sebagai perusahaan yang wajib dibina dalam program inkubasi pemerintah dan menambah kurikulum dengan disiplin ilmu yang dibutuhkan.

Selain itu, Dianta mengatakan kesulitan startup biotech untuk memperkenalkan produknya ke target pasar adalah kurangnya pengetahuan terkait tes genetik sehingga sulit melakukan pendekatan ke pihak rumah sakit dan pemerintah.

Dia menjelaskan tingkat implementasi pun juga masih dihadapkan dengan tembok besar lainnya, yaitu kompleksitas teknologi. Karena selain kemampuan pengetahuan, akses laboratorium, akses permodalan apalagi akses ke virus masih menjadi tantangan yang sangat sulit bagi startup ini tumbuh subur di Indonesia.

Berdasarkan data Statista, pada 2020, penjualan global dari obat-obatan bioteknologi meningkat hingga US$284 miliar. Pangsa biotek dari total pasar obat global diperkirakan akan terus tumbuh.

Menurut catatan Bisnis, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajak investor dalam negeri untuk mulai melirik perusahaan rintisan atau startup di bidang bioteknologi untuk mendorong percepatan produk farmasi di dalam negeri.

Budi mengatakan, ke depan institusi farmasi bakal bergeser berbasis pada penerapan dan layanan bioteknologi. Misalkan, pelayanan kanker tidak bakal menggunakan pendekatan radiologi melainkan pengobatan berbasis biologi similar.

“Tolong investor-investor di Indonesia kan sudah banyak yang kaya-kaya, jangan fokus ke information technology startup saja yang ada di west coast di California Belt tetapi kita juga fokus ke biotech yang ada di east coast yang ada di Boston Massachusetts Belt,” kata Menkes Budi dalam keterangan virtual yang ditayangkan di kanal Youtube Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Selasa (15/6/2021).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper