Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Literasi Digital Jadi Tantangan Startup di Indonesia Timur

Perkembangan startup di Indonesia Timur terhadang isu literasi digital yang menjadi hambatan masyarakat setempat untuk beradaptasi mengoptimalkan infrastruktur digital.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 11 Juni 2021  |  17:34 WIB
Ilustrasi - Istimewa
Ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Literasi digital menjadi hambatan utama bagi perusahaan rintisan (startup) untuk tumbuh di Indonesia Bagian Timur. Jika masyarakat di sana tidak mendapat edukasi sempurna tentang manfaat digital, solusi apapun yang ditawarkan perusahaan rintisan akan sulit diterima.

Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (IDIEC) M. Tesar Sandikapura mengatakan mengembangkan perusahaan rintisan di Indonesia Bagian Timur bukanlah hal yang mudah. Secara budaya dan literasi digital, masyarakat Indonesia Bagian Timur tertinggal dibandingkan dengan Indonesia Bagian Barat.

Kedua, menurutnya, daya konsumsi masyarakat di Timur lebih boros sehingga tidak terlalu memikirkan dengan hal-hal yang bersifat eifisiensi, yang muncul dari solusi digital.

Berdasarkan pengamatan Tesar, Telkom telah berusaha membangun perusahaan rintisan di sejumlah wilayah di Ibu Kota Negara, Kalimantan Timur, namun belum berhasil karena terbentur literasi masyarakat soal digital.

“Telkom mungkin bisa membangun infrastruktur diigital, tetapi jika masyarakatnya tidak dapat beradaptasi kan jadi sia-sia,” kata Tesar, Jumat (11/6/2021).

Tesar pun menyarankan untuk membangun perusahan rintisan di Indonesia Bagian Timur, literasi dan pengalaman masyarkat di sana terhadap digital harus ditingkatkan terlebih dahulu.

Jika masyarakat tidak merasakan manfaat dari layanan dan solusi digital yang dihadirkan perusahaan rintisan, kata Tesar, para pemiliki perusahaan rintisan akan sulit meningkatkan kinerja dan transaksi. Hal ini berdampak pada akses pendanaan, karena investor melihat dari kinerja dan trasaksi perusahaan rintisan.

“Penggerak startup itu masyarakat. Kalau mereka merasa tidak diuntungkan dengan digital, maka yang terjadi adalah startup-nya gagal, karena pasar tidak siap. Bisnis itu kan harus ada perputaran,” kata Tesar.

Tesar mengatakan untuk mengembangkan perusahaan rintisan di Indonesia Bagian Timur membutuhkan waktu, tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Sementara itu VP Strategic Regional Gojek Indonesia Timur Anandita Danaatmadja mengatakan berdasarkan hasil riset Google dan Temasek bertajuk e-Conomy SEA 2018, Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan paling cepat dan ukuran pasar paling besar di Asia Tenggara dengan kontribusi mencapai US$100 miliar pada 2025.

Dari 847 startup terdaftar, 46 startup sukses menggalang US$4.07 miliar di 18 vertikal industri. Menurutnya hal itu menunjukkan bahwa masing-masing startup berhasil menerima pendanaan rata-rata US$88 juta dalam kurun waktu satu tahun.

Dia menuturkan bahwa pencapaian itu dapat menciptakan lebih banyak dampak sosial melalui berbagai inovasi teknologi, sehingga Indonesia terutama di kawasan timur bisa makin mengakselerasi pertumbuhan ekonomi digital.

“Kami optimis pertumbuhan startup karya anak bangsa di kawasan Indonesia Timur mampu bersaing di kancah internasional,” kata Anandita.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp literasi
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top