Kurang Fleksibel, Paket Kuota Aplikasi Kalah Pamor dari Kuota Umum

Leo Dwi Jatmiko
Selasa, 13 April 2021 | 19:05 WIB
Sejumlah remaja menggunakan ponsel saat berkomunikasi di Medan, Sumatera Utara, Jumat (17/4/2020)./ANTARA FOTO-Septianda Perdana
Sejumlah remaja menggunakan ponsel saat berkomunikasi di Medan, Sumatera Utara, Jumat (17/4/2020)./ANTARA FOTO-Septianda Perdana
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Paket data kuota umum yang menawarkan fleksibilitas penggunaan aplikasi menjadi daya tarik yang tidak dimiliki dalam paket data berbasis aplikasi.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan paket berbasis aplikasi membuat para pengguna terbatas dalam mengakses layanan, padahal kebutuhan pelanggan terhadap layanan data berubah-ubah setiap hari.

Heru menduga alasan operator seluler mengeluarkan paket berbasis aplikasi tidak serta merta untuk mengejar keuntungan, tetapi juga disebabkan terjadi kerja sama antara operator seluler dengan penyedia layanan aplikasi.

“Pelanggan tidak mau dibatasi hanya untuk aplikasi tertentu, yang mungkin kalaupun dipakai tidak sebanyak yang diberikan,” kata Heru kepada Bisnis, Selasa (13/4).

Heru juga mengatakan dalam menghadirkan paket layanan berbasis aplikasi, operator harus transparan. Sejumlah informasi seperti waktu penggunaan hingga besar kuota harus dijabarkan dengan detail agar pelanggan tidak dirugikan.  

Sementara itu, Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia ITB Ian Yosef M.Edward mengatakan paket kuota umum dan paket kuota khusus memiliki pasarnya masing-masing.

Bagi Ian, kuota umum lebih menarik karena dapat digunakan di banyak aplikasi. Sementara itu bagi generasi milenial, yang sensitif dengan harga dan layanan, lebih tertarik dengan kuota per aplikasi.  

“Memang dibuat dengan segmentasi yang berbeda berdasarkan umur dan perilaku kegiatan,” kata Ian.

Sementara itu, Wakil Presiden PT Hutchison 3 Indonesia Danny Buldansyah mengatakan saat ini permintaan terhadap kuota umum di perseroan masih lebih tinggi dibandingkan dengan kuota berbasis aplikasi.  

“Perminatnya ada [kuota berbasis aplikasi] di masyarakat, tetapi tidak seperti kuota utama. Itu masih yang paling popular,” kata Danny.

Sekadar informasi hingga Maret 2021 Tri mengeklaim memiliki 39,8 juta pelanggan. Sebanyak 95 persen dari jumlah tersebut merupakan anak muda dengan gaya hidup digital. Tri juga telah menjangkau lebih dari 37.000 desa di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, dan Lombok, melalui fiber optik yang membentang sepanjang 16.000 Km.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper