Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Merger dan Akuisisi Startup Bukan Satu-Satunya Jalan Keluar

Startup tidak selalu memanfaatkan merger dan akuisisi sebagai solusi untuk bertahan pada masa pandemi Covid-19.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 08 April 2021  |  23:08 WIB
Ilustrasi startup -
Ilustrasi startup -

Bisnis.com, JAKARTA – Merger dan akuisisi (M&A) dinilai tidak selalu menjadi cara utama bagi perusahaan rintisan (startup) untuk bisa bertahan dalam masa pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan tidak hanya tren merger dan akuisisi yang menjadi satu-satunya jawaban bagi startup untuk bisa bertahan. Sebab, exit strategy berupa IPO dan konsolidasi startup juga marak tahun ini.

Untuk diketahui, Exit strategy adalah pendekatan yang direncanakan untuk mengakhiri investasi dengan cara yang akan memaksimalkan keuntungan atau meminimalkan kerugian.

“Startup, terutama yang tengah dalam tahap bertumbuh juga akan melirik opsi investasi yang lebih agresif seperti IPO. Ini kemungkinan terjadi setelah pemain mendapatkan pendanaan,” kata Heru kepada Bisnis.com, Kamis (8/4/2021).

Dia tak menampik aksi startup untuk merger dan akuisisi (M&A) diperlukan untuk memperkuat bisnis dan mengatasi tantangan bisnis dan kompetisi khususnya sebagai akibat pandemi. Startup bakal aktif melirik jalur akuisisi demi mencapai pertumbuhan non-organik perusahaan, produk, atau talenta digital.

“Akselerasi digitalisasi dan transformasi bisnis langsung menjadi prioritas utama. Merger dan akuisisi pun dipandang sebagai cara tercepat untuk mewujudkan ini,” katanya. 

Dia mengatakan, peta persaingan dunia rintisan sudah dipastikan berubah. Sebab, teknologi bukan menjadi hal asing lagi di tengah masyarakat, sehingga untuk mempercepat akselerasi layanan setiap perusahaan langkah akuisisi dan merger jadi salah satu jawaban.

“Peta persaingan sudah berubah, ada yang terus naik karena dampak pandemi, ada juga yang gugur. Kemudian, yang merger akuisisi akan jadi besar dan ada semacam diversifikasi usaha yang mengarah pada konglomerasi. Meskipun ini [M&A] bukan langkah ideal, tetapi dibutuhkan,” ujarnya.

Berdasarkan riset PwC: Global M&A Industry Trends mencatatkan bahwa volume merger dan akuisisi perusahaan teknologi di tingkat global meningkat 34 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada semester II/2020.

Adapun, dalam laporan tersebut efek merger dan akuisisi perusahaan dari sisi nilai turut meningkat hingga 118 persen, di mana subsektor teknologi dan telekomunikasi merupakan yang tertinggi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top