Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Teknologi AI Penting, Akademisi: Jangan Lupakan Talenta Digital

Akademisi menilai pemenuhan kebutuhan talenta digital tidak bisa dikesampingkan kendati saat ini pengembangan teknologi AI sudah menjadi kewajiban.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 09 Maret 2021  |  20:37 WIB
Kecerdasan buatan akan cepat menjadi faktor efisiensi bagi Groupe PSA.  - PSA
Kecerdasan buatan akan cepat menjadi faktor efisiensi bagi Groupe PSA. - PSA

Bisnis.com, JAKARTA – Adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memang merupakan urgensi, tetapi menyiapkan talenta digital yang mampu menjawab kebutuhan tersebut juga tidak kalah penting.

Berdasarkan riset Amazon Web Services (AWS) dan AlphaBeta mencatatkan hanya 19 persen dari seluruh angkatan kerja di Indonesia yang mempunyai keahlian di bidang digital. Setidaknya dibutuhkan 110 juta talenta digital baru untuk mendukung ekonomi pada 2025.

McKinsey dan Bank Dunia pun juga menyebutkan Indonesia masih kekurangan sembilan juta pekerja digital hingga 2030. Ini artinya, ada kebutuhan 600.000 pegiat digital per tahun.

Ketua Program Studi Magister Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Joseph Matheus Edward mengatakan pekerjaan rumah yang harus dikejar adalah pemenuhan talenta digital dan wadah untuk mengakselerasi kebutuhan tersebut.

“Peluang Indonesia untuk AI memang sangat tinggi, Indonesia memiliki SDM yang mumpuni untuk hal AI, tetapi memang harus diberikan wadah supaya mendorong kemajuan transformasi digital Indonesia. SDM ini juga harus terus dilatih,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (9/3/2021).

Ian menilai AI menjadi urgensi yang tidak terbantahkan lantaran semua sektor layanan memang perlu mengefisiensi cara kerjanya. Misalnya, pemetaan pengguna layanan telekomunikasi, pemantauan bisnis dan keamanan, dan lainnya.

Berdasarkan data McKinsey & Company berjudul Automation and the Future of Work in Indonesia yang terbit September 2019 silam, otomatisasi berpotensi menciptakan 36 juta lapangan kerja sehingga tingkat kebutuhan pasar terhadap teknologi AI akan turut meningkat.

Laporan tersebut mengidentifikasi tujuh katalis potensial pertumbuhan permintaan tenaga kerja, antara lain peningkatan pendapatan; pengeluaran yang lebih tinggi untuk perawatan kesehatan; peningkatan investasi dalam bangunan, infrastruktur, transisi energi, dan teknologi; dan pemasaran dari pekerjaan yang sebelumnya tidak dibayar, seperti pengasuhan anak.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

artificial intelligence
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top