Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ilmuwan Pakai AI untuk Temukan Kawah Kecil di Planet Mars

Cara ini, bisa memangkas waktu klasifikasi dari biasanya waktu yang dibutuhkan 40 menit, sedangkan alat AI yang disebut automated fresh-impact crater classifier itu, dapat menganalisis gambar dalam waktu sekitar lima detik
Fransisco Primus Hernata
Fransisco Primus Hernata - Bisnis.com 06 Oktober 2020  |  19:07 WIB
Gambar NASA yang menunjukkan lintasan gelap dan sempit sepanjang 100 meter yang disebut lereng lineae mengalir menuruni bukit di Mars diduga terbentuk oleh aliran air saat ini. - Reuters
Gambar NASA yang menunjukkan lintasan gelap dan sempit sepanjang 100 meter yang disebut lereng lineae mengalir menuruni bukit di Mars diduga terbentuk oleh aliran air saat ini. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Para ilmuwan NASA kini dapat mengidentifikasi obyek di luar bumi, termasuk kawah kecil di Mars dengan menggunakan artifical intelegence (AI). 

Cara ini, bisa memangkas waktu klasifikasi dari biasanya waktu yang dibutuhkan 40 menit, sedangkan alat AI yang disebut automated fresh-impact crater classifier itu, dapat menganalisis gambar dalam waktu sekitar lima detik. 

Para ilmuwan di Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California, mengatakan alat baru AI tersebut telah berhasil mengidentifikasi sekelompok kawah kecil yang belum ditemukan sebelumnya di permukaan Mars, sekaligus membuktikan bahwa kecerdasan buatan dapat digunakan untuk membantu melacak perubahan lanskap di dunia di luar Bumi.

Pada 26 Agustus 2020, kamera HiRISE yang menggunakan AI di atas Mars Reconnaissance Orbiter mengkonfirmasi bahwa titik gelap itu sebenarnya adalah sekelompok kawah kecil. Kawah tersebut diduga terjadi ketika meteor menabrak planet tersebut antara Maret 2010 dan Mei 2012.

Namun, menurut Ingrid Daubar, seorang ilmuwan di JPL dan Brown University yang terlibat dalam penelitian ini, AI masih belum memiliki semua keterampilan kritis atau kemampuan yang disempurnakan seperti ilmuwan manusia. Jadi pekerjaan pengklasifikasi komputer masih harus diperiksa. 

“Ilmuwan memeriksa untuk melihat apakah pengklasifikasi benar-benar mengidentifikasi dampak baru, atau apakah itu positif yang palsu (terkadang hal itu memang terjadi). Jika itu adalah dampak baru, kami memeriksa untuk melihat apakah itu sudah kami ketahui, atau yang baru untuk ditambahkan ke daftar kami. Jika ini adalah yang baru yang tidak kami ketahui sebelumnya, kami juga meminta gambar HiRISE tentangnya,” ujar Daubar seperti dikutip dari earthsky.org

Gary Doran adalah ilmuwan komputer di JPL yang juga bekerja pada pengklasifikasi. Dia mengatakan bahwa AI belum "cukup terlatih" untuk memahami nuansa antara fitur yang mungkin tampak serupa pada gambar beresolusi rendah yaitu, gambar yang mungkin tampak agak buram atau berpiksel tetapi sebenarnya sangat berbeda. 

“Ada beberapa fitur yang secara visual sangat mirip dengan kawah tubrukan baru. Misalnya, bukit pasir gelap mungkin tampak seperti bintik hitam yang terbentuk dari kawah tubrukan baru. Seorang ilmuwan terlatih dapat membedakan ini secara visual, tetapi algoritmanya belum cukup baik untuk melakukan ini. Satu hal lagi yang kami periksa adalah gambar 'sebelum' dari situs tersebut sehingga kami dapat mengkaitkan tanggal pembentukan. Beberapa kawah terlihat segar, dan mungkin telah terbentuk dalam katakanlah 100 tahun terakhir, tetapi para ilmuwan paling tertarik pada kawah yang dapat kami berikan rentang tanggal yang terbatas untuk pembentukannya,” ujar Doran.

Ini tentu saja bukan pertama kalinya para ilmuwan berhasil menggunakan kecerdasan buatan dalam studi mereka tentang alam semesta. Pada tahun 2018, para peneliti dari Universitas Toronto di Scarborough menggunakan algoritme pembelajaran mesin yang sama yang digunakan untuk mobil yang mengemudi sendiri untuk mengidentifikasi, menghitung, dan menghitung ukuran 6.000 kawah bulan yang sebelumnya belum ditemukan. Proyek ini membuktikan bahwa AI berbasis jaringan saraf dapat dipercaya untuk terlibat dalam beberapa tugas paling melelahkan dan menghabiskan waktu terkait dengan penelitian ilmiah.

Berkat hasil karya ilmuwan komputer NASA dan asisten klasifikasi AI baru mereka, kelompok kecil kawah di permukaan Mars dapat ditemukan dengan lebih cepat, tetapi Daubar mengakui bahwa masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Keberhasilan AI di Mars Reconnaissance Orbiter juga kemungkinan besar akan berdampak pada misi Mars lainnya, serta penelitian yang terjadi di tempat lain di luar angkasa, dan bahkan di Bumi. Doran menjelaskan bahwa implikasi dari penerapan AI yang berhasil seperti ini mungkin jauh jangkauannya. Terlepas dari kemungkinan dan kendala, tim tidak menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka telah mengirimkan lebih dari 20 gambar tambahan dari asisten klasifikasi baru mereka untuk diverifikasi oleh HiRISE.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

planet mars kecerdasan buatan (AI)
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top