Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

NASA Sebut Komet Besar Dekati Matahari Semalam

Komet tersebut dikenal sebagai Kreutz Sungrazer, merupakan pecahan komet besar yang telah ada pada 1.000 tahun silam dan melayang di dekat permukaan matahari.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 28 Agustus 2020  |  07:29 WIB
Ilustrasi komet Kreutz Sungrazer
Ilustrasi komet Kreutz Sungrazer

Bisnis.com, JAKARTA - Para astronom yang menggunakan satelit NASA Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) menangkap pergerakan komet besar menuju matahari. 

Komet tersebut dikenal sebagai Kreutz Sungrazer, merupakan pecahan komet besar yang telah ada pada 1.000 tahun silam dan melayang di dekat permukaan matahari. Memang komet yang dekat di matahari cukup banyak namun tidak sebesar Kreutz Sungrazer.

"Komet melakukan pendekatan terdekatnya dengan matahari hari ini, 27 Agustus, pada pukul 3.58 malam UT," ujar Karl Battams dari Naval Research Lab di Washington DC, dilansir dari Express UK, Jumat (28/8/2020).

Melihat lebih dekat ke komet tersebut, Battams mencatat bahwa ekornya tidak biasa. Saat komet mendekati matahari, bahan kimia di dalam benda langit bereaksi terhadap panas, menghasilkan berbagai warna. Namun, komet kali ini tampaknya tidak menghasilkan ekor yang terdiri dari gas.

"Ini lebih merupakan jejak puing-puing batu besar. Komet sedang didekonstruksi seluruhnya oleh radiasi matahari di lingkungan tata surya kita yang paling berbahaya," tuturnya.

Penemuan ini terjadi tak lama setelah Komet Neowise terlihat dari Bumi. Selama hampir seluruh bulan Juli, para pengamat bintang di belahan bumi utara dapat melihat Komet Neowise yang lewat dengan mata telanjang dari kebun belakang rumah mereka.

Sayangnya beberapa ilmuwan telah memperingatkan Komet Neowise bisa menjadi komet terakhir yang bisa terlihat dengan mata telanjang. Hal ini karena polusi cahaya semakin menyulitkan para astronom dan pengamat bintang amatir akibat pencahayaan buatan yang terus meningkat.

Menurut Natural History Museum, polusi cahaya yang disebabkan oleh pencahayaan buatan meningkat rata-rata enam persen setahun dan saat keadaan menjadi lebih terang di Bumi ini, langit di malam hari menjadi semakin gelap.

Gareth Dorrian, peneliti postdoctoral di Space Science di University of Birmingham, dan Ian Whittaker, dosen senior fisika dari Nottingham Trent University, mengatakan dengan peningkatan konstan polusi cahaya di langit malam, pengamatan komet dengan mata telanjang menjadi jauh lebih langka.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nasa kartu komet
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top