E-Commerce Atur Strategi, Social Distancing Dongkrak Transaksi

Kalangan e-commerce mulai mengutak-atik strategi untuk melayani permintaan dari konsumen selama sosial distancing.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 20 Maret 2020  |  18:14 WIB
E-Commerce Atur Strategi, Social Distancing Dongkrak Transaksi
Suasana pengelolaan barang pesanan di gudang Jet Commerce. - dok. Jet Commerce

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan e-commerce mengatur strategi masing-masing guna mengantisipasi lonjakan transaksi belanja daring setelah adanya arahan sosial distancing dari pemerintah.

Sebut saja dua perusahaan e-commerce berstatus unicorn Bukalapak dan Tokopedia. Kedua perusahaan telah menerapkan beberapa strategi setelah mencatat terjadinya peningkatan antusiasme masyarakat dalam berbelanja daring.

Head of Corporate Communications Bukalapak Intan Wibisono mengatakan perusahaan membuat promosi khusus untuk kategori produk kesehatan, yang mana peningkatan antusiasme belanja berkaitan dengan kategori produk tersebut.

Selain promosi, Bukalapak melakukan pengawasan terhadap pelapak guna menghindari penetapan harga yang tidak wajar untuk produk-produk kesehatan.

"Sebagai tech-commerce, Bukalapak secara aktif melakukan pengawasan jika ditemukan para pelapak yang berusaha mengambil keuntungan dari situasi pandemi ini dengan menjual alat-alat kesehatan dengan harga yang tak wajar," ujar Intan kepada Bisnis, Kamis (19/3/2020).

Perusahaan juga membuat fitur khusus bernama Pantau Corona di platform Bukalapak untuk membantu pengguna mendapatkan info terkini seputar Covid-19 dan berencana meluncurkan kampanye untuk memonitor pencegahan dan pemulihan Covid-19.

Unikorn asli Indonesia lainnya, yakni Tokopedia, juga memiliki beragam strategi guna mengantisipasi hal-hal yang kemungkinan terjadi selama transaksi belanja daring melonjak karena dilakukannya social distancing.

VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak mengatakan perusahaan tidak mengenakan biaya pengiriman dan memotong biaya layanan 100% untuk penjual di kategori produk kesehatan dan beberapa kebutuhan pokok lain.

"Langkah ini dapat mendorong penjual untuk menjaga ketersediaan produk dan kestabilan harga. Mengingat belanja online dapat menjadi alternatif mengurangi risiko penyebaran virus di tempat ramai sekaligus mendorong bisnis lokal terus beroperasi secara online," ujar Nuraini.

Data internal Tokopedia menunjukkan terjadi kenaikan transaksi di kategori produk kesehatan dan keperluan pokok lain sejak pandemi COVID-19 muncul di Indonesia.

Adapun, produk yang paling banyak dicari, mulai dari berbagai jenis masker mulut, cairan antiseptik atau hand sanitizer, hingga camilan sehat.

Tokopedia juga menyalurkan ribuan paket makanan ringan untuk anak-anak kurang mampu yang menjalani belajar di rumah serta berdiskusi dengan mitra lembaga kemanusiaan untuk mendistribusikan perlengkapan sanitasi bagi pihak yang membutuhkan.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono mengatakan perubahan pola belanja akibat penyebaran virus corona sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

"Hal tersebut diperkirakan memberikan efek positif kepada perusahaan-perusahaan rintisan yang menyediakan produk-produk kesehatan dan pangan," ujar Handito kepada Bisnis, Jumat (20/3/2020).

Namun demikian, tren belanja daring tersebut juga diprediksi bakal terkoreksi jika dalam beberapa waktu mendatang terjadi penurunan daya beli masyarakat.

Merujuk ke laporan BrandIQ Maret 2020, kenaikan penjualan pada produk-produk kesehatan, alat pelindung virus, dan pembersih badan terjadi di sejumlah platform dagang-el terkemuka di kawasan Asia Tenggara setelah dilakukan analisis sejak pekan pertama Covid-19 mewabah sampai dengan awal Maret 2020.

Adapun, penjualan sebagian besar produk yang berkaitan dengan pencegahan virus tercatat tumbuh secara nilai dan volume. Penjualan produk kebutuhan sehari-hari juga memperlihatkan pertumbuhan secara nilai sebesar 102% dengan rata-rata harga produk yang meningkat dari US$10,58 per unit pada Januari 2020 menjadi US$15,35 per unit pada Maret 2020. Di sisi lain, jumlah produk yang diperdagangkan secara daring turun sekitar 16%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tokopedia, Virus Corona, bukalapak, covid-19

Editor : Novita Sari Simamora
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top