Ketat, Begini Persaingan Operator Seluler Tahun Lalu

Meski demikian, persaingan tetap ketat, karena pada umumnya ketiga perusahaan juga mencatatkan tren positif yang patut diperhitungkan dalam 3 tahun terakhir.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 01 Maret 2020  |  21:32 WIB
Ketat, Begini Persaingan Operator Seluler Tahun Lalu
Karyawan beraktivitas di kantor XL Axiata. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Belum lama ini, PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) Telkomsel meraih 6 penghargaan dari perusahaan surveyor telekomunikasi global berkantor pusat di London, Opensignal, atas layanan-layanan yang disediakan di sepanjang 2019.

Layanan-layanan tersebut, antara lain pengalaman video, pengalaman aplikasi suara, kecepatan pengunduhan, kecepatan pengunggahan, latensi, dan cakupan 4G.

Dari 6 jenis layanan di atas, terdapat 3 layanan yang dinilai oleh Opensignal sejak lembaga tersebut mulai memublikasikan laporan mengenai industri telekomunikasi Indonesia secara lebih spesifik pada 2017 silam, yaitu kecepatan mengunduh, latensi, dan ketersediaan 4G.

Perusahaan-perusahaan operator seluler seperti PT XL Axiata Tbk. dan PT Smartfren Telecom Tbk. tidak pernah melampaui Telkomsel di 3 jenis layanan tersebut. Meski demikian, persaingan tetap ketat, karena pada umumnya ketiga perusahaan juga mencatatkan tren positif yang patut diperhitungkan dalam 3 tahun terakhir.

Ambil contoh, XL Axiata. Kecepatan mengunduh perusahaan yang beroperasi sejak 1996 itu terus mengalami improvisasi sejak lebih dari 3 tahun lalu. Pada 2017, Opensignal mencatat XL memiliki kecepatan mengunduh 5 Mbps.

Setahun kemudian, kecepatan mengunduh Xl Axiata meningkat menjadi 6 Mbps dan terus membaik pada tahun berikutnya dengan tingkat kecepatan 6,5 Mbps.

Tren positif juga dialami Smartfren. Pada periode yang sama, tingkat latensi operator dengan ketersediaan 4G terbaik nasional tersebut terus berkurang. Bahkan, perbaikan latensi Smartfren jauh lebih akseleratif dibandingkan dengan Telkomsel.

Dengan tingkat latensi mencapai 75 milidetik (md) pada 2017, Smartfren berhasil memperbaiki hal tersebut kurang lebih sebanyak 14,4 poin pada 2019 menjadi 16,6 md.

Untuk jenis kualitas layanan yang sama, Telkomsel justru memburuk dalam 2 tahun terakhir. Tingkat latensi operator seluler tersebut bergerak mundur dari 39 md pada 2018, menjadi 45,5 md setahun berikutnya.

Bahkan, untuk kualitas kecepatan mengunggah, Telkomsel mengalami penurunan cukup tajam dalam 2 tahun terakhir dari 7 Mbps pada 2018 menjadi 5,4 Mbps tahun lalu. Sementara XL, meskipun tidak menanjak drastis, tetapi improvisasi kualitas layanan dalam 2 tahun terakhir berhasil memotong jarak kualitas kecepatan mengunggahnya dari Telkomsel.

Kualitas kecepatan mengunggah XL Axiata meningkat dari 4 Mbps pada 2018 menjadi 4,5 Mbps setahun berikutnya.

Salah satu kompetitor lainnya, yakni PT Hutchison 3 Indonesia, tidak kalah akseleratif dalam 3 tahun terakhir, terutama dalam hal ketersediaan 4G. Ketersediaan 4G operator seluler yang sempat menjadi sponsor tur Asia Manchester United tersebut terbaik kedua setelah Smartfren yang memiliki persentase ketersediaan 96,4 persen tahun lalu, sedangkan Hutchison 3 90,9 persen. Adapun, Telkomsel terpaut di bawah keduanya dengan 86,7persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
operator seluler

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top