Bos OVO Sebut Pendapatan Naik 19 Kali Lipat

Rezha Hadyan
Sabtu, 14 Desember 2019 | 20:43 WIB
Poster promo platform pembayaran digital OVO terpampang di salah satu gerai fesyen pusat perbelanjaan di Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/2/2019)./Bisnis-Rachman
Poster promo platform pembayaran digital OVO terpampang di salah satu gerai fesyen pusat perbelanjaan di Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/2/2019)./Bisnis-Rachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Visionet Internasional, perusahaan rintisan yang bergerak di bidang teknologi finansial berupa dompet digital menyatakan telah mencatatkan kenaikan pendapatan sampai 19 kali lipat hingga 2019.

Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra menjelaskan berdasarkan data tahunan (year on year/YoY) pada Oktober 2019 tercatat pendapatan yang tercermin melalui total purchased value (TPV) naik sampai 19 kali lipat.

Capaian tersebut didukung oleh pertumbuhan pengguna aktif bulanan (monthly active user/MAU) sampai 12 kali lipat.

"Jadi kalau dibilang [kami] bakar duit dan akhirnya kolaps ya enggak. Revenue kami tumbuh sampai 19 kali kok, kita juga baru 2 tahun," kata Karaniya saat ditemui di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (14/12/2019).

Lebih lanjut, Karaniya memaparkan capaian yang menggembirakan itu juga disokong oleh peningkatan jumlah dana yang berhasil dihimpun sampai dengan 8 kali lipat.

Hingga saat ini jumlah perangkat yang telah terhubung dengan platform OVO di Tanah Air mencapai 115 juta perangkat.

Karaniya optimistis capaian tersebut masih bisa ditingkatkan lantaran penetrasi tekfin, khususnya dompet digital di Indonesia belum maksimal.

"Digital payment itu penetrasinya cuma 56 persen saat ini, ruang untuk kami tumbuh itu masih besar banget," ungkapnya.

Karaniya menambahkan saat ini pihaknya juga berhasil menurunkan biaya pemasaran yang selama ini berkontribusi cukup besar terhadap pengeluaran perusahaan. Namun, dia tak menjelaskan seberapa besar penurunan yang berhasil dicapai.

"Ini [langkah] menuju profitabilitas, revenue naiknya bagus banget, marketing cost makin turun. Tapi bisnis ini berbeda dengan bisnis konvensional, punya long tail, horizon lebih panjang. Dibutuhkan nafas yang panjang di awal, semua diperhitungkan," imbuh Karaniya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Rezha Hadyan
Editor : Saeno
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper