2020, Operator Seluler Bakal Berpacu Perkuat Jaringan

Operator seluler mulai memaparkan proyeksi penggelaran jaringan  pada 2020 untuk memberikan pengalaman yang lebih baik lagi kepada pelanggan.  
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  18:26 WIB
2020, Operator Seluler Bakal Berpacu Perkuat Jaringan
ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Operator seluler mulai memaparkan proyeksi penggelaran jaringan  pada 2020 untuk memberikan pengalaman yang lebih baik lagi kepada pelanggan.  

Wakil Direktur PT Hutchison 3 Indonesia Danny Buldansyah mengatakan bahwa tahun depan perseroan menggalakan kampanye mengenai peningkatan jaringan yang jauh lebih baik, salah satunya dengan cara membangun 6.000 BTS 4G baru.

Danny mengatakan bahwa Tri akan memnfokuskan penambahan BTS untuk peningkatan kapasitas di daerah dengan lalu lintas data yang tinggi, di samping untuk ekpansi ke daerah baru. 

Dia meyakini dengan meningkatkan kualitas jaringan maka pengalaman pelanggan terhadap layanan Tri akan makin puas. Sehingga pelanggan makin loyal dengan perseroan.

“Jadi kalau dahulu di satu spot jaringan kami cuma ada dua kotak indikator (bar), nanti menjadi empat kotak, ” kata Danny kepada Bisnis.com, belum lama ini. 

Jumlah BTS yang dibangun Tri pada 2020 menurun dibandingkan dengan rencana pembangunan BTS pada 2019. Pada tahun ini Tri menargetkan pembangunan 8.000 BTS. Adapun tahun depan jumlahnya menyusut menjadi 6.000 BTS.

Danny mengatakan pembangunan BTS telah disesuaikan dengan kebutuhan. Menurutnya, jumlah pembangunan BTS tidak harus selalu bertambah.

“Kami menyesuaikan pembangunan BTS dengan permintaan,” kata Danny.    

Dalam memperkuat jaringan selain menambah BTS, Tri juga berencana melakukan fiberisasi sebanyak 15% dari jaringan yang dimiliki pada 2020. Tri memasang target konservatif mengenai fiberisasi.

Tri telah melakukan fiberisasi 10% dari jaringan yang dimiliki saat ini. Fiberisasi hanya dilakukan di sejumlah daerah dengan lalu lintas data yang padat seperti Jakarta.

Di sejumlah titik lainnya, kata Danny, perseroan masih mengandalkan gelombang mikro (microwave). Untuk efisiensi Tri lebih memilih menyewa dari operator penyelenggara jaringan telekomunikasi dibandingkan dengan membangun infrastruktur serat optik sendiri.

 “Jika menyewa itu kan jangka panjang 5—10 tahun, kami percaya harga sewanya tiap tahun turun. Jadi buat apa kita sewa untuk 10 tahun ke depan untuk harga yang mahal?” kata Danny.

Sementara itu, PT Indosat Tbk. berencana mengembangkan fasilitas jaringan tulang punggung atau fiberisasi backbone sepanjang 22.000 Km.

Head of NSAS Indosat, Kustanto mengatakan bahwa pengembangan fasilitas bertujuan untuk menghadapi pesatnya pertumbuhan lalu lintas data di Indosat saat ini. Di samping itu, pengembangan juga bertujuan untuk sistem antsipasi atau redundant system sehigga ketersediaan layanan Indosat makin handal.

Sayangnya, Kustanto tidak menyebutkan waktu pengerjaan proyek dan daerah yang menjadi fokus pengembangan fasilitas jaringan tulang punggung Indosat.

“Selain fiberisasi site, kami juga mengembangkan fasilitas backbone fiber, dalam rangka melayani pertumbuhan pesat layanan data,” kata Kustanto.

Kustanto menambahkan saat ini perseroan masih fokus dalam membangun fiberisasi. Dengan langkah tersebut nantinya sekitar 30% site perseroan akan tersambungkan dengan serat optik dan siap membawa trafik data dalam jumlah besar.

Dia mengatakan banyaknya jumlah site dan pihak yang terlibat, serta variasi regulasi di tiap tempat menjadi tantangan dalam menjalankan proyek ini.

“Dengan kolaborasi yang erat dari semua pihak, dukungan dari regulator dan masyarakat, kita berusaha untuk menyelesaikan sesuai target yang dicanangkan,” kata Kustanto.

Sebelumnya, PT Smartfren Telecom Tbk. telah mengumumkan terlebih dahulu mengenai rencana pembangunan jaringan di 2020.  Smartfren  berencana menambah 6.000 BTS 4G pada 2020. 

Deputy CEO PT Smartfren Telecom Tbk. Djoko Tata Ibrahim mengatakan pembangunan BTS untuk mengantisipasi pertumbuhan pelanggan yang masif. Perseroan lebih berfokus pada peningkatan kapasitas dibandingkan dengan ekspansi karena di sejumlah titik posisi Smartfren sudah cukup matang. 

“Sebagian besar [untuk peningkatan] kapasitas sekitar 2/3 [BTS baru]. Di sana pasarnya sudah ada sehingga kami lebih cepat untuk menghasilkan pendapatan di sana,” kata Djoko. 

Adapun 2.000 BTS sisanya, lanjut Djoko, akan digunakan untuk ekspansi jaringan ke wilayah Timur Indonesia. 

Djoko mengatakan dalam berekspansi ke wilayah timur Smartfren berencana memanfaatkan Palapa Ring Timur, untuk menjangkau sejumlah daerah seperti Kupang dan Labuan Bajo.

Analis Kresna Sekuritas Etta Rusdiana Putra menilai alasan Smartfren lebih memilih untuk meningkatkan kapasitas di kawasan yang telah tergelar jaringan karena ingin meminimalisir biaya. 

Dia berpendapat beban operasional Smartfren akan makin besar jika Smartfren memilih memperluas cakupan atau ekspansi.  Sedangkan, jaringan yang ada saat belum optimal dimanfaatkan. 

“Kelemahan Smartfren itu yang pertama adalah bandwith. Untuk mengurangi kelemahan ini, Smartfren harus buat BTS-nya lebih padat per kilometer,” kata Etta.    

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
operator seluler, operator telekomunikasi, industri telekomunikasi

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top