Pemerintah Buka Peluang Uji Coba 5G di Frekuensi 3,5GHz

Pemerintah membuka peluang bagi seluruh pelaku bisnis operator telekomunikasi untuk bersama-sama melakukan uji coba jaringan 5G di frekuensi 3,5 GHz.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  12:31 WIB
Pemerintah Buka Peluang Uji Coba 5G di Frekuensi 3,5GHz
Teknologi 5G - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah membuka peluang bagi seluruh pelaku bisnis operator telekomunikasi untuk bersama-sama melakukan uji coba jaringan 5G di frekuensi 3,5 GHz.

Adapun, dalam uji coba yang dilakukan beberapa waktu lalu di Batam, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) menjadi satu-satunya operator yang terlibat.

Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Ismail mengatakan pemerintah mempersilakan operator lain untuk bersama-sama melakukan uji coba.

"Operator lain kalau mau ikut serta silahkan saja," ujar Ismail di sela-sela acara Telco Outlook 2020 Megatrends in Telecom di Jakarta, Senin (2/12/2019).

Dalam uji coba dengan Telkomsel, pemerintah dikatakan berupaya mendorong operator untuk mengenali hal-hal teknis yang dibutuhkan sebagai guard band antara layanan satelit dan telekomunikasi.

Turut melibatkan perusahaan yang diakuisisi oleh Telkomsel pada 2013, yakni TelkomSat, dorongan dari pemerintah tersebut bertujuan agar penerapan 5G di frekuensi 3,5 GHz aman bagi layanan satelit.

Sementara itu, PT XL Axiata beberapa waktu lalu dikatakan telah melakukan uji coba jaringan 5G di frekuensi 3,5 GHz. Direktur Teknologi XL Axiata Yessie D Yosetya mengatakan uji coba tersebut dilakukan perusahaan guna membuktikan sisi latensi terkait dengan pemanfaatan jaringan 5G untuk teknologi hologram dan online gaming.

Meski demikian, Yessi tidak mengatakan apakah PT XL Axiata bakal melakukan uji coba jaringan 5G di frekuensi 3,5 GHz bersama-sama dengan pihak pemerintah.

Di samping masalah uji coba jaringan yang telah dilakukan di berbagai frekuensi, pemerintah menyatakan saat ini hal yang juga menjadi prioritas utama adalah pembangunan ekosistem 5G.

Dirjen SDPPI Ismail mengatakan hal tersebut diprioritaskannya oleh pemerintah dengan tujuan memastikan ketersediaan aplikasi-aplikasi lokal ketika jaringan 5G sudah terkoneksi di Tanah Air.

"Ya, kita siapkan dulu ekosistem. Karena kalau 5G ini bukan persoalan network saja, bukan persoalan connectivity saja. Kalau sudah ada konektivitas tapi ujung-ujungnya kita pakai aplikasi-aplikasi asing semua, kan sayang," ujar Ismail.

Sementara itu, Dewan Anggota Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Arif Mustain menilai penerapan 5G akan mengubah industri telekomunikasi di Tanah Air karena adanya rencananya sharing spektrum oleh operator.

"Saya pikir 5G akan mengubah industri telekomunikasi sendiri karena perlunya ada pertimbangan terhadap hal seperti spektrum sharing dengan harga per mega-nya yang terbilang mahal," ujar Arif.

Selain itu, pemerintah dinilai juga akan mengatur kebijakan baru terkait dengan pengaturan spektrum 5G sehingga hadirnya 5G nantinya bukan sekedar sebagai teknologi baru melainkan juga game changer yang mengharuskan pemerintah untuk memiliki tata kelola dan cara main yang berbeda.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
5g, frekuensi

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top