Teknologi 5G untuk Keselamatan Berkendara & Operasi Jarak Jauh

Selama ini para pemangku kepentingan gamang saat memperhitungkan investasi yang harus dikucurkan dalam menerapkan 5G. Toh, dengan kehebatan latensi teknologi generasi kelima, sebenarnya ada banyak nyawa yang bisa diselamatkan.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  15:08 WIB
Teknologi 5G untuk Keselamatan Berkendara & Operasi Jarak Jauh
Bus nirawak berteknologi 5G diuji coba di Chongqing, wilayah baratdaya China. - People\\\'s Daily/Antara

 Bisnis.com, JAKARTA — Selama ini para pemangku kepentingan gamang saat memperhitungkan investasi yang harus dikucurkan dalam menerapkan 5G. Toh, dengan kehebatan latensi teknologi generasi kelima, sebenarnya ada banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

Dalam acara 5G Open Mindset di Jakarta, Jumat (11/10), Huawei memaparkan dengan latensi yang rendah, 5G dapat menghadirkan banyak solusi keselamatan, salah satunya ketika diimplementasikan dalam automasi mobil.

Technical Trainer of Huawei SP Muhammad Johan Arshad mengatakan 5G menjadi teknologi yang dapat diandalkan untuk mendukung automasi mobil lantaran tingkat latensinya sangat rendah. Teknologi 5G memiliki latensi 1 milidetik, sangat jauh dibandingkan dengan 4G yang memiliki latensi 50 milidetik dan 3G dengan 100 milidetik.

Latensi adalah jeda waktu yang dibutuhkan dalam pengantaran data dari pengirim ke penerima. Makin tinggi jeda, makin lambat penerima merespons perintah dari pengirim.

Johan pun membandingkan ketika masing-masing teknologi diimplementasikan pada automasi mobil. Teknologi 3G dengan tingkat latensi 100 milidetik tidak akan dapat mendukung automasi mobil dan dipastikan akan menabrak benda yang ada di depannya ketika diperintahkan untuk berhenti oleh sensor mobil.

Sebab, dengan latensi 100 milidetik, mobil baru akan merespons perintah ketika sudah berjalan sepanjang 330 cm dari saat mobil mendapat perintah. Artinya, ketika mobil mendapat perintah berhenti di jarak 1.000 meter, mobil baru akan merespons 330 cm kemudian.

Demikian pula, karakteristik latensi 50 milidetik yang dimiliki 4G masih berisiko untuk diterapkan dalam automasi mobil. Berdasarkan perhitungan Johan, dengan 4G, mobil baru menaati perintah setelah berjalan 167 cm dari jarak mobil tersebut mendapat perintah berhenti.

Adapun, 5G menjadi teknologi yang paling tepat untuk mendukung operasional automobile.  Dengan latensi 1 milidetik, kendaraan akan langsung menjalakan perintah dari sensor.  “Dengan 5G, angka kecelakaan dapat ditekan,” kata Johan kepada Bisnis.

Johan menceritakan teknologi 5G yang terpasang di base transceiver station (BTS) akan menghubungkan kendaraan dengan kendaraan, kendaraan dengan manusia, dan kendaraan dengan bangunan, sehingga ketiga benda tersebut akan ditolak oleh mobil ketika berada di jarak tertentu.

Dua sensor yang masing-masing terpasang di depan, samping dan belakang mobil, akan terus menjaga jarak aman mobil sehingga ketika ada benda yang berdekatan, mobil akan langsung mengelak seperti 2 kutub magnet serupa yang didekatkan.

Bahkan, dalam bayangan Johan, ketika 5G diterapkan secara efektif, fungsi lampu lalu lintas akan berkurang drastis, karena setiap kendaraan telah berjalan dengan sistem jaringan 5G.

“Kendaraan di seluruh dunia akan terlihat sopan nantinya karena tidak ada yang ugal-ugalan,” kata Johan.

Tak hanya itu, latensi yang merupakan kekuatan 5G, juga dapat membantu operasi jarak jauh lintas pulau bahkan benua.

China Unicom, perusahaan telekomunikasi asal China, telah melakukan uji coba 5G untuk industri kesehatan. Latensi rendah 5G dimanfaatkan untuk mendukung jalannya operasi lambung pada seekor babi di Fuzhou, Provinsi Fujian. 

Dalam proses operasi tersebut, lobulus hati babi dikeluarkan oleh seorang dokter yang mengendalikan lengan bedah robotik. Dengan latensi 0,1 detik dari koneksi 5G milik Huawei Technologies, operasi tersebut terbilang sukses, hanya meninggalkan luka bedah kecil.

Teknologi 5G memberikan lantesi hingga 20 kali lipat dibandingkan dengan 4G. Berhasilnya operasi ini membuka kemungkinan pada masa depan operasi dapat dilakukan dari  jarak jauh, khususnya di daerah rawan bencana atau di daerah perbatasan, sehingga tim medis tidak perlu lagi hadir ke lokasi.

Di samping itu, hadirnya 5G diharapakan dapat memudahkan dokter yang berada di rumah sakit pusat berkordinasi dengan beberapa rumah sakit di kawasan terpencil.

Di Hamburg Port Authority (HPA), Jerman, kekuatan latensi 5G juga diandalkan untuk mengendarai pesawat nirawak dalam pemantauan kerja di pelabuhan.

HPA, pelabuhan terbesar di Jerman, telah menggunakan teknologi generasi ke-5 sejak 2018. Di sana terdapat belasan drone yang digerakkan dari jarak jauh guna memantau proses peletakan peti kemas. Drone tersebut berputar puluhan kali di seputar pelabuhan untuk memberikan informasi kondisi terkini posisi peti kemas, sehingga pusat kendali dapat mengarahkan kapal peti kemas yang datang ke tempat berlabuh yang tepat, yaitu tempat dengan kondisi penumpukan peti kosong.

Pengelola HPA mempertahankan waktu delay di bawah 2 milidetik untuk mengendarai drone. Rata-rata drone di HPA berjalan dengan kecepatan di atas 5 km/jam sehingga butuh latensi rendah untuk mengendalikannya. Pemanfaatan drone di HPA juga mengedepankan aspek keselamatan. Selama menggunakan drone sebagai alat pemantau, tingkat kecelakaan di HPA diklaim menurun karena tidak ada lagi manusia yang turun ke lapangan.

PENETRASI PASAR

Pada waktu yang berbeda, sebuah laporan yang berjudul 5G in ASEAN: Reigniting Growth in Enterprise and Consumer Markets yang diselanggarakan oleh Cisco dan A.T Kearney Analysis menyebutkan pada 2025 penetrasi 5G diperkirakan bisa mencapai 25 hingga 40% di sejumlah negara Asean. Adapun, penetrasi 5G di Indonesia diperkirakan mencapai 27%.

Kemudian, total pelanggan layanan 5G di ASEAN diperkirakan mencapai lebih dari 200 juta, dengan mayoritas pelanggan berasal dari Indonesia  yaitu sekitar lebih dari 100 juta pelanggan.

Dengan tingkat penetrasi dan jumlah pelanggan 5G di Asia Tenggara, diperkirakan operator telekomunikasi di Asean akan berinvestasi sekitar US$10 miliar untuk pembangunan infrastruktur 5G pada 2025.

Lantas, jika melihat nilai investasi yang harus digelontorkan, apakah Indonesia bisa menerapkan 5G?

Ketua Program Studi Magister Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward mengatakan implementasi 5G untuk beberapa kasus mungkin dapat diterapkan setelah kepastian frekuensi rampung.Namun, untuk automasi mobil, lalu lintas di Indonesia, khususnya Jakarta, menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus diperbaiki.

“Kalau di Indonesia lalu lintasnya masih kacau, harus diperbaiki dahulu, karena kalau kendaraan sudah menyalip, tidak ada yang tahu [arahnya] termasuk latensi 5G,” kata Ian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
teknologi 5G, 5g

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top