Produk HAPS Baru Siap Dinikmati di Indonesia 2 Tahun Lagi

Teknologi ini dapat mendukung aktivitas operator seluler, jaringan backhaul, operasional perangkat mesin cerdas atau Internet of Things (IoT), dan lain-lain.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  09:58 WIB
Produk HAPS Baru Siap Dinikmati di Indonesia 2 Tahun Lagi
Founder dan CEO Avealto Walter Anderson ketika ditemui usai acara HAPS International Seminar di Jakarta, Rabu (2/10/2019). Avealto adalah produsen Wahana Terrestrial Langit atau High Altitude Platform Station (HAPS) yang bermarkas di Inggris. - Bisnis/Leo Dwi Jatmiko

Bisnis.com, JAKARTA -- Avealto, sebuah produsen Wahana Terrestrial Langit atau High Altitude Platform Station (HAPS) yang bermarkas di Inggris, menyampaikan teknologi tersebut siap beroperasi di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. 
 
Founder dan CEO Avealto Walter Anderson mengatakan saat ini, perseroan sedang mempersiapkan diri untuk menggelar uji coba HAPS pada pertengahan 2020. Setelah uji coba selesai dan HAPS memiliki payung hukum, HAPS dipastikan dapat beroperasi di Indonesia. 
 
Terkait target pasar untuk HAPS, dia menuturkan teknologi ini dapat mendukung aktivitas operator seluler, aktivitas komunikasi di kawasan udara dan perairan, komunikasi di daerah rural (perdesaan/pedalaman), jaringan backhaul, dan operasional perangkat mesin cerdas atau Internet of Things (IoT)
 
Dalam bekerja sama dengan perusahaan lokal, Anderson menegaskan Avealto hanya menyewakan kapasitas internet dan tidak menjual HAPS. 
 
“Orang Indonesia bisa menjadi investor di perusahaan Avealto untuk mengoperasikan HAPS di Indonesia,” tuturnya kepada Bisnis, usai acara HAPS International Seminar di Jakarta, Rabu (2/10/2019).
 
Sementara itu, untuk frekuensi HAPS, Staff Spektrum Layanan Tetap Terestrial Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Anna Christina mengungkapkan saat ini, Kemenkominfo sedang mengkaji spektrum yang akan digunakan untuk HAPS.
 
Dia menyatakan pihaknya mendukung HAPS digunakan di frekuensi 47 – 48 GHz dengan kategori utama, sehingga jika mengalami gangguan maka frekuensi sekunder harus melindunginya.
 
“Kalau 48 GHz itu kan satu-satunya frekuensi yang global, jadi kalau global seharusnya ekosistemnya lebih banyak,”  ujar Anna.
 
Dia menambahkan meski Kemenkominfo telah menyediakan frekuensi untuk HAPS, tapi regulasi mengenai frekuensi HAPS diperkirakan baru keluar sekitar 2 tahun lagi dan dalam bentuk Peraturan Menteri Kemenkominfo. 
 
Kemenkominfo masih menunggu sidang World Radiocommunication Conference (WRC) yang rencananya akan digelar pada November 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penataan frekuensi

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top