Ini Program Kominfo Untuk Jembatani Startup Raih Pendanaan

Untuk menjembatani para startup potensial untuk mendapatkan pendanaan (funding) dari para investor baik global maupun nasional, Kemenkominfo merancang Yayasan Next Indonesia Unicorn.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 08 September 2019  |  23:45 WIB
Ini Program Kominfo Untuk Jembatani Startup Raih Pendanaan
Menko Polhukam Wiranto (kanan) bersama Menkominfo Rudiantara (kiri) meninggalkan ruangan seusai melakukan pertemuan dengan forum pemred terkait perkembangan arus informasi Papua di Kantor Kemenkominfo,Jakarta, Selasa (3/9/2019). - ANTARA FOTO / Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA - Kemenkominfo merancang Yayasan Next Indonesia Unicorn untuk menjembatani para startup potensial guna mendapatkan pendanaan (funding) dari para investor baik global maupun nasional.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan tujuan program tersebut tentu saja untuk mencetak sejumlah unicorn baru di Indonesia, sebutan untuk perusahaan yang valuasinya mencapai US$1 miliar.

Para startup yang ikut dalam Yayasan Next Indonesia Unicorn tersebut menurunya harus benar-benar berkualitas bahkan memiliki skala internasional. Bahkan, Kemenkominfo tidak main-main dalam hal ini, dan meminta bantuan langsung dari Ernst &Young untuk mengkurasi startup tersebut. Rudiantara berharap dengan menggandeng Ernst & Young akan meningkatkan kepercayaan calon investor kepada para startup tersebut.

“Nantinya, para startup yang lolos kurasi ini akan saya bawa roadshow langsung bertemu dengan para venture capital baik di dalam maupun di luar negeri.  Para startup ini nantinya presentasi langsung di hadapan investor. Tahun lalu sudah lakukan dua kali, tahun ini Oktober ada di Bali,” ujarnya.

Menurutnya, para startup yang dapat mengikuti program Next Indonesia Unicorn ini tidak harus berasal dari peserta program 1000 startup. Siapapun memiliki kesempatan yang kemudian akan ditest kembali oleh E&Y.

Indonesia sendiri saat ini baru memiliki 3+1 unicorn yaitu Bukalapak, Traveloka, Tokopedia, dan Gojek yang sudah naik kelas menjadi decacorn, perusahaan yang nilai valuasinya mencapai US$10 miliar.

"Sebagai fasilitator,  Kemenkominfo berperan mengembangkan ekosistem digital dengan mencetak 1000 startup.  Kemudian sebagai akselerator, tugas kami membimbing agar para startup dapat berkembang menjadi unicorn baru bahkan menjadi decacorn. Targetnya tahun ini kita punya 5 unicorn,  sekarang kita baru punya 4 unicorn," ujarnya.

Sebetulnya Indonesia memiliki banyak startup yang potensial untuk menjadi unicorn. Namun, sambungnya, seberapa cepat proses untuk menjadi unicorn sangat bergantung pada besar kecilnya pendanaan yang diberikan serta persetujuan dari startup tersebut terkait nilai valuasi yang mereka dapatkan.

Selain masalah pendanaan, para startup tersebut juga harus terus dilatih dan mendapatkan mentoring agar kemampuan dan kapasitas bisnisnya dapat meningkat. Untuk itu, dalam Yayasan Next Indonesia Unicorn ini, pemerintah menggandeng sejumlah mentor yang akan memberi dukungan dan pelatihan kepada para startup tersebut.

Selain dari pemerintah, sejumlah komunitas dan organisasi juga turut mendorong bertumbuhnya ekosistem digital di Indonesia, salah satunya Endeavor Indonesia, organisasi kewirausahaan global yang fokus mengakselerasi pertumbuhan sejumlah perusahaan startup sehingga dapat menjadi high impact entrepreneur.

Dalam laporan Impact Report 2016-2018 yang dirilis baru-baru ini, Endeavor Indonesia berhasil menciptkan 10.100 pekerjaan berkualitas tinggi dari 35 perusahaan startup yang dijalankan 43 Endeavor Entreprenuers (EE) di Indonesia. Beberapa diantaranya Bukalapak, Kata.ai, Investree, Brodo, Female Daily Network, Sorabel, dan lainnya.

Pada 2018, sejumlah perusahaan tersebut berhasil membukuan pendapatan sebesar Rp31,5 triliun (US$2,2 miliar).

Harun Hajadi, Chaiman Endeavor Indonesia mengatakan untuk menumbukna ekosistem yang dinamis sejak 2016 hingga 2018, pihaknya telah memfasilitasi lebih dari 2.000 jam pendampingan untuk entrepreneur serta menyelenggarakan lebih dari 50 acara dengan total hampir 8.000 peserta.

“Kami membantu entrepreneur mengakselerasi pertumbuhannya dan melipatgandakan dampak antara lain dengan memberikan akses ke pasar dan pakar industri sebagai mentor, serta membantu mempermudah ke akses permodalan,” ujarnya.

Untuk menjadi bagian dari Endeavor Indonesia, para pelaku usaha tersebut dapat mendaftarkan diri, untuk kemudian melewati tahapan kurasi. Biasanya yang dipilih adalah yang bisa menjadi role model di bidangnya. “Setelah mendapat mentoring, lalu untuk dinyatakan lulus sebagai EE harus disetujui oleh 9 juri utama Endeavor global,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Unicorn

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top