Pemerintah Sambut Baik Niat IBM Bangun Data Center di Indonesia

Pemerintah siap memfasilitasi niat salah satu perusahaan penyedia solusi asal Amerika Serikat, IBM, yang tengah mempertimbangkan untuk membangun pusat data (data center) di Indonesia.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  11:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah siap memfasilitasi niat salah satu perusahaan penyedia solusi asal Amerika Serikat, IBM, yang tengah mempertimbangkan untuk membangun pusat data (data center) di Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, mengatakan meskipun belum ada pemberitahuan dari pihak IBM perihal pertimbangan perusahaan untuk membuka zona ketersediaan di Indonesia, dirinya mengaku menyambut baik niat tersebut.

"Kemenkominfo menyambut baik apabila IBM membangun data center di Indonesia dan kami siap membantu serta memfasilitasi apabila diperlukan," ujarnya kepada Bisnis.com, Senin(5/8/2019).

Adapun, saat ini perusahaan asal Amerika Serikat tersebut tengah memperhitungkan proyeksi pertumbuhan pasar dan jumlah kostumer yang dibutuhkan.

Country Manager Cloud & Solutions IBM Indonesia, Lianna Susanto, mengatakan, perusahaan memerlukan investasi dalam jumlah besar dalam membangun zona ketersediaan (availability zone) di Indonesia, sehingga perusahaan perlu mempelajari banyak hal sebelum mengambil keputusan.

"Manajemen investasi IBM juga sedang melihat business case di Indonesia sebelum membangun availability zone, yang membutuhkan investasi dalam jumlah besar serta komitmen. Jika memungkinkan, kita bisa buat data center di Indonesia," ujarnya dalam acara IBM Digital Transformation Summit 2019 di Jakarta, Senin (5/8/2019).

Adapun, terdapat dua situasi penggunaan layanan komputasi awan di Tanah Air; pertama, pengguna layanan komputasi awan masih ragu untuk beralih dari private cloud menjadi public cloud. Salah satunya karena proses migrasi dinilai cukup sulit untuk dilakukan.

Kedua, keraguan pengguna layanan komputasi awan di Tanah Air untuk migrasi ke public cloud terhambat karena belum adanya aturan yang pakem terkait dengan hal tersebut. Sehingga, pengguna layanan memutuskan untuk kembali menggunakan private cloud.

Selain itu, terdapat dua faktor yang menyebabkan perusahaan penyedia layanan komputasi awan berskala global membangun zona ketersediaannya di Indonesia. Pertama, adanya aturan tentang penempatan data.

Seperti diketahui, perihal penempatan data di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012. Peraturan tersebut mewajibkan penyimpanan data dilakukan di dalam wilayah teritorial Indonesia.

Kedua, dengan membangun zona ketersediaan di Tanah Air, penyedia layanan akan mengatasi masalah-masalah utama, seperti data residensi dan kecepatan.

"Itulah mengapa pemain cloud membangun dan berinvestasi di Indonesia. [Namun] kalau untuk rencana lebih spesifik, kami perlu benar-benar memperhatikan business case yang ada sebelum memutuskan untuk berinvestasi," imbuhnya.

Pada perkembangan lain, dalam upayanya memosisikan diri sebagai penyedia layanan komputasi awan hybrid terdepan sekaligus mengakselerasi bisnis, perusahaan yang dalam 12 bulan terakhir meraup total pendapatan secara global senilai US$19,5 miliar, dengan target pertumbuhan 2 digit tersebut telah menuntaskan akuisisi terhadap Red Hat sebesar US$34 miliar.

Melalui akuisisi tersebut, keduanya dikatakan akan menghadirkan platform hybrid cloud berkualitas wahid.

Sebelumnya, Amazon mengumumkan rencana membuka pangkalan data untuk layanan komputasi awan Amazon Web Services (AWS) di Indonesia pada 2022.

Amazon memaparkan rencana membuka wilayah layanan kesembilan di Asia Pasifik yaitu Jakarta Region. Wilayah layanan tersebut rencananya terdiri dari tiga zona ketersediaan, yaitu infrastruktur fisik yang menjadi lokasi penyimpanan data layanan komputasi awan AWS.

Amazon menargetkan infrastruktur fisik di Jakarta Region mulai beroperasi paling cepat pada akhir 2021 atau paling lambat pada awal 2022.

Sebelum Jakarta, AWS telah memiliki delapan Region lain di Asia Pasifik yaitu Beijing, Mumbai, Ningxia, Seoul, Singapura, Sydney, Tokyo dan Hong Kong yang akan dibuka dalam waktu dekat. Secara global Aws memiliki 61 Availability Zone di 20 Region dan 12 Availability Zone baru di AWS Region di Bahrain, Hong Kong, Italia, dan Afrika Selatan akan beroperasi pada semester I/2020.

Vice Presiden of Global Infrastructure and Customer Support AWS Peter DeSantis beberapa waktu lalu mengatakan keputusan membuka AWS Region di Indonesia akan mendukung ekosistem digital startup, korporasi, dan badan pemerintah yang tumbuh dengan pesat.

AWS Region juga membuat organisasi di seluruh vertikal mampu menekan biaya, meningkatkan keluwesan, dan memperkuat fleksibilitas infrastruktur teknologi.

Setiap Availability Zone dalam AWS Region terpisah di lokasi yang berbeda dengan jarak yang memadai untuk mengurangi risiko dampak terhadap layanan akibat suatu kejadian tunggal. Namun, jarak antara infrastruktur di satu Region didesain cukup dekat sehingga mengurangi latensi.

Amazon juga memastikan setiap zona ketersediaan memiliki pasokan daya, pendinginan, dan sistem keamanan yang independen serta terkoneksi satu sama lain dengan jaringan yang berlapis (rendundant) dan berlatensi rendah.

Penyedia layanan komputasi awan yang terlebih dulu membangun pusat data di Indonesia adalah Alibaba Cloud, perusahaan komputasi awan milik Alibaba Group, dan telah meluncurkan pangkalan data keduanya di Indonesia pada awal 2019 lalu.

Alibaba Cloud merupakan satu-satunya perusahaan global penyedia layanan komputasi awan yang memiliki pangkalan data di Indonesia. Kedua pangkalan data Alibaba Cloud tersebut akan menyediakan kapasitas yang lebih tinggi dan kemampuan disaster recovery yang lebih kuat sehingga memungkinkan pelanggan untuk melakukan mission critical workload di berbagai zona dan mengganti zona dalam hitungan detik.

Kehadiran dua pangkalan data ini menawarkan rangkaian produk dan layanan yang komprehensif mulai dari elastic computing, layanan basis data, jaringan, penyimpanan data, keamanan, middleware, hingga berbagai solusi untuk mengatasi tantangan berbagai vertikal.

Alibaba juga akan menghadirkan elastic search untuk menyediakan kemampuan pencarian real-time, analisis data, dan visualisasi.

Sebelumnya, untuk menjawab meningkatnya permintaan perusahaan Indonesia terhadap big data dan solusi analitik, Alibaba Cloud telah meluncurkan Machine Learning for AI.

Selain itu, Alibaba Cloud telah meluncurkan Smart Access Gateway (SAG), sebuah solusi SD-WAN yang menyediakan solusi one-stop cloud connectivity untuk public cloud dan hybrid-cloud environment.

Alibaba Cloud juga terus memperkuat jaringan lokal dengan mitra seperti PT IndoInternet, PT Blue Power Technology, dan PT Sistech Kharisma. Kemitraan strategis dengan PT IndoInternet sebagai distributor produk komputasi awan dan teknologi Alibaba Cloud dimulai hari ini.

Alibaba Cloud saat ini memiliki 55 zona ketersediaan yang tersebar di 19 wilayah di seluruh dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
data center

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top