Perusahaan Fintech Kesulitan Cari Pekerja Digital

Banyak lulusan jurusan teknologi informasi yang sulit untuk masuk perusahaan rintisan.
Deandra Syarizka | 12 Februari 2019 06:53 WIB
Suasana co-working space di Cocowork The Maja, Jakarta Selatan. - cocowork.co

Bisnis.com, JAKARTA — Seperti perusahaan-perusahaan lain yang berbasis digital, perusahaan fintech atau teknologi finansial (tekfin) juga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang mumpuni.

Ketua Harian Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Mercy Simorangkir menyatakan setidaknya diperlukan tiga hal untuk mendorong pertumbuhan industri tekfin tahun ini, antara lain pengembangan infrastruktur teknologi Know Your Customer (KYC) yang tengah sangat dibutuhkan saat ini, pengembangan teknologi penilaian kredit, dan juga ketersediaan talenta di bidang digital.

 “Yang paling menarik dan penting saat ini adalah di ketersediaan SDM dunia digital yang masih sangat kurang di Indonesia. Padahal, ketersediaan SDM sangat penting mengingat pesatnya pertumbuhan industri tekfin,” ujarnya, Senin (11/02).

Dia menggambarkan, pertumbuhan industri tekfin memang melaju sangat pesat secara tahunan. Di bidang transaksi pembayaran, dia menyebut pertumbuhannya mencapai 281% sejak 2017 hingga 2018, sementara peer to peer lending mencapai 400%.

 Menurutnya, tren tersebut akan terus berlanjut pada tahun ini, mengingat tren pertumbuhan pengguna smartphone yang tumbuh lebih agresif dibandingkan pertumbuhan rekening bank. Berdasaran laporan McKinsey & Company bertajuk Digital Banking in Indonesia Building Loyalty and Generating Growth, diperkirakan selisih antara jumlah pengguna smartphone dengan rekening bank akan mencapai 13 juta di 2018—2025.

 Meskipun tidak menyebut secara persis data tenaga kerja yang dibutuhkan industri tekfin, tetapi Mercy  menilai ketersediaan SDM digital di Tanah Air belum mampu mengakomodir pesatnya perkembangan industri tekfin.

Secara terpisah, Founder dan CEO Binar Academy Alamanda Shantika menyatakan  saat ini banyak lulusan jurusan teknologi informasi yang sulit untuk masuk perusahaan rintisan. Pasalnya, proses penyesuaian kurikulum yang ada di perguruan tinggi membutuhkan birokrasi yang tidak secepat dengan perkembangan teknologi yang ada di lapangan.

 “Lulusan IT banyak, tapi yang ready masuk startup sulit karena matchmaking yang tidak pas. Binar Academy ingin membuat readiness employee  di dunia digital,” ujarnya.

 Sebagai gambaran, Binar Academy merupakan perusahaan rintisan yang menyediakan jasa pelatihan di bidang digital seperti pemrograman dan transformasi digital bagi perusahaan. Perusahaan tersebut juga menyediakan bursa kerja dan menjadi penghubung bagi talenta digital dengan perusahaan teknologi di Tanah Air.

 Alamanda menambahkan, sebenarnya banyak peluang pekerjaan yang bisa dieksplorasi dalam bidang teknologi, tak hanya sebatas menjadi programmer. Menurutnya, yang diperlukan adalah cara pandang yang terbuka terhadap perubahan dan disrupsi teknologi, serta kemampuan dalam membaca dan mengolah data.

Tag : fintech
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top