Sugarbook, Aplikasi Kontroversial yang Raih Pendanaan dari Investor Hong Kong

Sugarbook bisa dibilang aplikasi kontroversial karena mempertemukan sugar daddy atau sugar mommy dengan sugar baby. Meskipun begitu, ada investor yang mau mendanai perusahaan rintisan itu loh. Siapa dia?
Ahmad Rifai | 04 Februari 2019 18:22 WIB
Darren Chan pendiri perusahaan rintisan kontroversial Sugarbook

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan rintisan yang kontroversial karena memfasilitasi pertemuan sugar daddy dengan sugar baby lewat daring, Sugarbook mendapatkan pendanaan dari salah satu investor asal Hong Kong.

Founder Sugarbook Darren Chan mengatakan, investor yang mendanai perusahaan rintisannya itu berasal dari Hong Kong dan memiliki latar belakang investment banking dari salah satu perusahaan modal ventura terbesar di Hong Kong.

“Kami akan menggunakan pendanaan ini untuk pengembangan produk, perbesar skala, infrastruktur, dan ekspansi ke tiga negara lainnya,” tulis Chan di akun Linkedin pribadinya pada Senin (4/2/2019).

Chan pun mengaku terbuka menerima investor yang tertarik mendanai perusahaan rintisannya tersebut.

Di sisi lain, investor yang mendanai Sugarbook bisa dibilang cukup berani karena perusahaan rintisan itu memberikan fasilitas kepada Sugar daddy, sebutan pria dewasa yang mengencani perempuan muda, untuk bisa mencari sugar baby, perempuan muda yang dikencani pria dewasa.

Konsep aplikasi Sugarbook pun mirip dengan kencan via daring, tetapi memiliki tujuan berbeda. Pada kencan antara Sugar daddy dengan sugar baby, berarti sang pria dewasa akan menawarkan materi kepada perempuan muda tersebut.

Chan merintis Sugarbook pada 2017, aplikasinya itu pun tidak hanya mempertemukan sugar daddy dengan sugar baby, tetapi juga sugar mommy, perempuan dewasa yang mengencani pria muda.

Dia mendirikan Sugarbook karena terinspirasi oleh gaya hidup ‘sugar’ yang kian populer di seluruh dunia. Sugar baby menjalin hubungan romantis dengan sugar daddy atau sugar mommy demi mendapatkan keamanan finansial.

Keuntungan finansial yang didapatkan para sugar baby itu adalah imbalan karena sudah bersedia menjadi sahabat yang agak intim.

Sugarbook pun memiliki motto Where Romance Meets Finance atau ketika romantis bertemu dengan finansial dan chat, negotiate, meet atau hubungi, negosiasi, dan bertemu. Jadi, Chan ingin menegaskan kalau tidak ada cinta yang sesungguhnya di Sugarbook.

“Cinta itu bukan aksi, tapi emosi yang hanya hadir ketika kita melakukan tindakan ini [sesuai motto Sugarbook],” ujarnya seperti dikutip dari Tendaily.

Darren Chan adalah pria yang lahir dan besar di Malaysia. Ia merupakan lulusan RMIT University di Melbourne, Australia, dengan gelar Masters of Business Administration (MBA).

Pengguna Sugarbook

Saat ini, pengguna Sugarbook diklaim sudah sebanyak 300.000. Dari jumlah itu, 70% diantaranya berstatus sugar baby, sedangkan 30% lainnya sugar daddy dan sugar mommy.

Berdasarkan informasi dari Sugarbook, usia sugar daddy dan sugar mommy berkisar 30 tahun sampai 55 tahun dengan pendapatan 350.000 dolar Australia, sedangkan pendapatan bulanan sugar baby sekitar 5.000 dolar Australia

Di sisi lain, seorang psikolog Elizabeth Talbot mengatakan, aspek finansial dan usia menunjukkan adanya ketimpangan kekuatan dalam relasi hubungan ‘sugar’.

Seorang psikolog berbasis di Sydney, Elizabeth Talbot menggarisbawahi bahwa aspek finansial dan usia menunjukkan adanya ketimpangan power dalam relasi sugaring. Namun, para sugar baby harus waspada dengan apa yang telah dilakukannya.

“Mereka harus berhati-hati tentang ekspektasi dan bagaimana mengelola ketidakseimbangan kekuatan dari sebuah hubungan romantis dengan latar belakang keuntungan finansial,” ujarnya.

Dia menyarankan agar pihak yang ingin menceburkannya ke dunia hubungan ‘sugar’ berpikir lebih jernih.

“Mereka harus tentukan batasan yang jelas dan pikirkan apa yang boleh dan tidak untuk dilakukan,” sarannya.

Tag : StartUp, pendanaan
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top