Permintaan iPhone Tergerus, Kemahalan atau Persaingan?

Tergerusnya permintaan untuk iPhone di China menunjukkan bahwa produk unggulan Apple ini telah dirugikan oleh harganya yang tinggi serta memanasnya persaingan dari ponsel lebih murah dan sebanding di pasar terbesar dunia tersebut.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 04 Januari 2019  |  10:48 WIB
Permintaan iPhone Tergerus, Kemahalan atau Persaingan?
Seorang pembeli mencoba membandingkan ukuran iPhone XS Max dan iPhone XS di gerai Apple Singapura Jumat (21/9/2018). - Reuters/Edgar Su

Bisnis.com, JAKARTA – Tergerusnya permintaan untuk iPhone di China menunjukkan bahwa produk unggulan Apple ini telah dirugikan oleh harganya yang tinggi serta memanasnya persaingan dari ponsel lebih murah dan sebanding di pasar terbesar dunia tersebut.

Jika dibandingkan, harga iPhone XS Max berkisar mulai dari 9.599 RMB (US$1.400) di China. Sebaliknya, ponsel andalan besutan Huawei Technologies Co. dan Oppo hanya seharga 4.000 hingga 5.000 RMB, sekitar separuh dari harga satu iPhone.

Harga beberapa ponsel cerdas entry level produksi Vivo malah seperempat dari harga iPhone. Bahkan iPhone XR Apple, yang seharusnya menjadi alternatif ponsel berharga lebih murah dibandingkan dengan model iPhone kelas atas, dibanderol 1.000 RMB lebih tinggi dari harga ponsel pesaing.

Sementara itu, rata-rata upah bulanan pekerja kantoran di China adalah 7.850 RMB pada kuartal ketiga tahun 2018, menurut laporan penelitian Zhaopin Limited, sebuah perusahaan perekrutan dan penempatan kerja di China, seperti diberitakan Bloomberg.

Ini artinya upah kerja sebulan di negara tersebut lebih rendah ketimbang harga kebanyakan model iPhone baru.

Pada Rabu (2/1/2019), Apple memangkas perkiraan nilai penjualannya menjadi sekitar US$84 miliar pada kuartal yang berakhir 29 Desember 2018. Perkiraan ini lebih kecil dari perkiraan sebelumnya yakni sebesar US$89 miliar hingga US$93 miliar.

Dalam pernyataannya, CEO Tim Cook mengaitkan sebagian besar penurunan prospek perusahaan dengan ekonomi China yang terdampak ketegangan perdagangan dengan AS sehingga memengaruhi permintaan dari negara tersebut.

Menurut Cook, sejumlah faktor lain yang berkontribusi terhadap revisi prospek itu di antaranya adalah penguatan dolar AS, lebih sedikit subsidi dari penyedia layanan telepon, dan pelanggan yang tetap menggunakan model lama melalui penggantian baterai yang lebih murah.

Dengan kontribusi sebesar dua pertiga dari pendapatan perusahaan, iPhone jelas menjadi produk Apple yang paling penting. China juga merupakan salah satu pasar paling penting untuk Apple, sampai-sampai pernah disebut sebagai "hypermarket" oleh Cook.

Menyusul pengumuman penurunan proyeksi tersebut, saham Apple turun 10% pada perdagangan Kamis (3/1/2019) di New York, penurunan terbesar dalam hampir enam tahun. Saham pemasoknya di Asia, termasuk Jepang Display Inc. dan Minebea Mitsumi Inc., pun terseret turun pada perdagangan hari ini, Jumat (4/1/2019).

Di luar harga, beberapa konsumen di China telah beralih pada pesaing-pesaing Apple seperti ponsel Huawei karena kombinasi tampilan unik dan sistem kamera, dan pemula seperti OnePlus karena kecepatannya.

Sementara itu, dalam mengumumkan proyeksi barunya, Cook mengatakan pasar ponsel pintar China sedang berkontraksi dan mencatat bahwa traffic toko-toko ritel Apple telah turun dalam beberapa bulan terakhir.

“iPhone Apple sedang menghadapi pasar smartphone premium yang jenuh, dengan tingkat pertumbuhan yang melambat dan meningkatnya persaingan di China,” ungkap Anshul Gupta, direktur riset di Gartner Inc., bulan lalu ketika perusahaan ini merilis perhitungan penjualan smartphone terbaru.

Apple sendiri telah mengakui harga ponselnya di China mungkin terlalu tinggi, dengan memperluas promosi perdagangan iPhone baru-baru ini dari AS ke wilayah tersebut pada akhir Desember.

Dalam situs webnya di China, Apple kini mengiklankan iPhone XR seharga 4.399 RMB dengan tukar tambah dari iPhone 7 Plus.

“[Apa yang membelit Apple] dua pertiga karena apa yang terjadi di China dan sepertiga karena harga Apple. Saya rasa bukan masalah inovasi. Ini masalah harga,” kata Gene Munster, managing partner di Loup Ventures.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
apple, iphone

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top