Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Empot-Empotan, Telkomsel Incar Lisensi Nasional Pita Frekuensi 2.300 MHz

PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dinilai paling layak mendapatkan spektrum lisensi nasional di pita frekuensi 2.300 MHz untuk menggelar 4G LTE.nn
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 24 Agustus 2015  |  04:20 WIB
Empot-Empotan, Telkomsel Incar Lisensi Nasional Pita Frekuensi 2.300 MHz
Pemeliharaan jaringan 4G - JIBI/Dwi Prasetya
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dinilai paling layak mendapatkan spektrum lisensi nasional di pita frekuensi 2.300 MHz untuk menggelar 4G LTE.

Pakar telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Mohammad Ridwan Effendi mengatakan operator terbesar di Indonesia itu sudah terdesak untuk menambah alokasi spektrum buat melayani pelanggan datanya.

“Tender frekuensi itu kan melihat siapa yang paling eligible. Kalau melihat kondisi saat ini Telkomsel sudah empot-empotan dengan spektrum yang mereka punya,” katanya saat berbincang dengan Bisnis.com.

Menurut Ridwan, kendati selama ini Telkomsel adalah pemain seluler berbasis frequency division duplex (FDD), tetapi perkembangan teknologi memungkinkan operator itu menggarap pita 2.300 MHz yang merupakan ekosistem time division duplex (TDD).

Otoritas frekuensi berencana melelang spektrum 30 MHz berlisensi nasional pada pertengahan 2016. Saat ini baru PT Smartfren Telecom Tbk yang memiliki lisensi frekuensi selebar 30 MHz sebagai konsekuensi dari perintah migrasi dari pita 1.900 MHz pada 2014 silam. Ketika itu anak usaha Sinarmas tersebut harus membayar biaya nilai awal dan biaya hak frekuensi hingga Rp3 triliun.

Kala kebijakan itu diambil, Ridwan merupakan Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Dia mengaku tidak mengetahui alasan dari mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring untuk melepas blok lisensi nasional sebesar 30 MHz yang sempat disorot sejumlah kalangan.

“Itu diskresi dari Menteri. Mungkin biar Smartfren bisa bersaing,” katanya.

Ridwan menilai tanpa memiliki spektrum yang memadai Smartfren akan kesulitan berkompetisi dengan pemain-pemain seluler mapan di industri 4G LTE. Menurut dia, selain Smartfren, operator lain yang memiliki sumber daya frekuensi paling cukup untuk menghadapi era layanan pita lebar itu adalah PT XL Axiata Tbk (XL).

“Di pita 1.800 MHz mereka punya 22,5 MHz, bertambah akibat akuisisi Axis. Padahal pelanggannya jauh di bawah Telkomsel,” ujarnya.

TELKOMSEL MENGINCAR

Sebelumnya, Kepala Proyek LTE Telkomsel Hendri Mulya Syam mengakui bahwa perusahaanya memang mengincar lisensi nasional di pita 2.300 MHz yang masih lowong. Telkomsel siap bersaing dengan operator lain yang ingin memperebutkan frekuensi itu.

“Kami akan berupaya sekuat tenaga untuk meyakinkan pemerintah. Tanpa spektrum cukup kita tidak bisa berkompetisi,” kata Hendri.

Hendri mengatakan Smartfren merupakan penantang paling kuat untuk 4G LTE karena sumber daya frekuensi yang dimilikinya. Selain di pita 2.300 MHz, Smartfren memiliki alokasi sebesar 10 MHz di pita 800 MHz.

“Smartfren itu powerfull dari segi spektrum. Mereka bisa pakai 2.300 MHz untuk kapasitas sedangkan 800 MHz untuk jangkauan. Di layanan pita lebar, bagaimanapun spektrum itu adalah soul-nya,” katanya .

Selain Telkomsel, operator lain yang secara terbuka menyatakan minat dengan lisensi nasional pita 2.300 MHz adalah XL, PT Indosat Tbk dan PT Internux (Bolt).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telkomsel smartfren lte brti kemkominfo 4g lte 1.800 mhz 2.300 mhz
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top