Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Teknologi Georadar Mengukur Kedalaman Lahan Gambut Tanpa Merusak Tanah

Teknologi georadar merupakan salah satu alat yang dibutuhkan dalam pengelolaan hutan gambut. Teknologi ini bisa mengukur kedalaman gambut, tanpa merusak tanahnya.
Rahmayulis Saleh
Rahmayulis Saleh - Bisnis.com 30 Oktober 2013  |  00:32 WIB
Teknologi Georadar Mengukur Kedalaman Lahan Gambut Tanpa Merusak Tanah
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA-- Teknologi georadar merupakan salah satu alat yang dibutuhkan dalam pengelolaan hutan gambut. Teknologi ini bisa mengukur kedalaman gambut, tanpa merusak tanahnya.

"Georadar untuk mengukur kedalaman gambut, dengan menggunakan pulsa radar tanpa merusak tanah gambut, sehingga bisa diperoleh hasil pengukuran dengan cara yang lebih cepat, dan bisa menyimpan rekaman hasil pengukuran dalam tiga dimensi," kata Agus Kristiyono, pakar Georadar Gambut dan Perekayasa Utama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta, Selasa (29/10/2013).

Agus berbicara pada diskusi Penerapan Teknologi Georadar dalam Mendukung Pengelolaan Hutan Lestari, yang diadakan oleh Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Mapiptek), bekerja sama dengan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

Dia menuturkan hasil uji coba pengukuran kedalaman gambut pernah dilakukan di lokasi RAPP. Hasilnya menunjukkan pengukuran lebih akurat dibandingkan dengan pengukuran geolistrik dan bor gambut.

"Kesimpulan awal dari uji coba ini, dapat dimanfaatkan untuk pengukuran kedalaman gambut di Indonesia. Seperti juga yang dilakukan di luar negeri," ujar Agus.

Ketua Masyarakat Akunting Sumber Daya dan Lingkungan (MASLI) Bambang Setiadi, menuturkan dibandingkan dengan hutan biasa, hutan gambut lebih mampu menyimpan karbon. Disimpannnya pada biomassa tanaman, di bawah hutan gambut, lapisan gambut, dan lapisan tanah mineral di bawah gambut.

"Penyimpanan tersebut menyebabkan lahan gambut dan biomassa tanaman menyimpan karbon dalam jumlah tertinggi," kata Bambang, mantan Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN) itu.

Agus menambahkan saat ini lahan gambut di seluruh dunia meliputi 3% dari luas daratan, dan mampu menyimpan 550 gigaton, atau setara dengan 30% karbon tanah, dan 75% dari seluruh karbon di atmosfir. Adapun hutan rawa gambut Indonesia rata-rata menyimpan 2.650 ton karbon per hektar.

Pembukaan hutan yang terus terjadi selama beberapa dekade terakhir di Indonesia, dituding telah merusak lahan gambut yang berpotensi menyimpan karbon tersebut. Muncul pula permasalahan kebakaran hutan dan lahan, akibat pengelolaan lahan gambut yang buruk.

Dalam rangka mendukung pengelolaan hutan secara lestari, lahan gambut perlu dikelola secara efektif dan efisien, agar tak memperbesar potensi hilangnya tutupan lahan berhutan akibat kebakaran lagan gambut," tambah Agus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lahan gambut teknologi ramah lingkungan bisnis pertambangan
Editor :
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top