Bisnis.com, JAKARTA – Upaya transformasi digital perbankan dinilai membutuhkan distributed database untuk mempermudah proses integrasi ekosistem sistem keuangan.
Country Head of PingCAP Indonesia, Arwinto P. Nugroho, mengatakan transformasi digital perbankan tak hanya fokus menyediakan peningkatan kenyamanan nasabah melainkan juga perbaikan sistem internal. Salah satunya adalah pengintegrasian rekening bank dengan e-wallet untuk membuat aktivitas perbankan menjadi lebih mudah diakses dan inklusif.
"Connected finance memerlukan ekosistem dan teknologi yang dapat memfasilitasi integrasi ekosistem tersebut. Salah satu teknologi yang mendukung adalah distributed database," kata Arwinto dalam keterangannya, Rabu (26/2/2025).
Dia menjelaskan distributed database memiliki fleksibilitas yang tinggi, karena dapat menggerakkan core processing, mendukung sistem periferal, serta connected banking. Selain itu, teknologi ini dapat meningkatkan efisiensi proses dalam skala besar secara signifikan.
Menurutnya, teknologi distributed database menawarkan solusi yang fleksibel dan tangguh serta mampu mengelola volume data yang terus meningkat. Seiring dengan pergerakan industri perbankan menuju ekosistem yang lebih terhubung dan berbasis data, distributed database menjadi elemen penting.
Berdasarkan data IDC Infobrief, lanjutnya, sebanyak 44% CIO di Asia menyatakan bahwa risiko migrasi merupakan salah satu hambatan utama dalam perjalanan transformasi digital. Dalam hal ini, migrasi dari MySQL ke distributed database dianggap tetap aman dan cepat.
Dia menuturkan distributed database memainkan peranan penting dalam mempercepat pertumbuhan bisnis. Teknologi ini meningkatkan efisiensi operasional dengan mengurangi waktu batch processing hingga 58% serta mengatasi kendala performa dan kapasitas.
"Selain itu, distributed database dapat menurunkan total biaya kepemilikan secara signifikan mencapai lebih dari 30% melalui arsitektur backend yang lebih efisien dan mengurangi biaya operasional," ujarnya.
Di Indonesia, kata dia, distributed database dapat membantu meningkatkan efisiensi dan demokratisasi data, sehingga memungkinkan bank untuk dapat meningkatkan kapabilitas digital mereka.
Namun, lanjutnya, untuk mewujudkan hal ini, beberapa tantangan perlu diatasi, seperti kurangnya tenaga kerja terampil (70%), masih adanya infrastruktur lama (63%), risiko operasional selama migrasi (47%), ketahanan operasional (40%), resistensi dari manajemen tingkat atas (23%), dan ketidakcocokan vendor (23%).
“Dengan mengadopsi solusi data terdistribusi, bank-bank di Indonesia dapat membuka efisiensi baru, meningkatkan pengalaman nasabah, dan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dalam sistem yang semakin terhubung,” katanya.