Berpotensi Tabrakan! Satelit Mata-mata Rusia dan Pesawat NASA Mengorbit Sangat Dekat

Erta Darwati
Minggu, 21 April 2024 | 11:34 WIB
Ilustrasi satelit Jason-3/NASA
Ilustrasi satelit Jason-3/NASA
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Administrator NASA Pam Melroy mengatakan bahwa satelit mata-mata Rusia Cosmos 2221 yang mati dan pesawat TIMED NASA, yang telah mempelajari atmosfer bumi sejak 2001, melakukan orbit yang sangat dekat dan tidak nyaman, masing-masing hanya berjarak 65 kaki (20 meter), pada akhir Februari lalu. 

Menurutnya, itu adalah perkiraan awal, dan penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa orbit satelit mata-mata Rusia Cosmos 2221 dan pesawat TIMED NASA, sebenarnya lebih dekat lagi. 

“Kami baru-baru ini mengetahui melalui analisis bahwa jarak celah tersebut kurang dari 10 meter [33 kaki] dalam parameter benda keras kedua satelit,” kata Melroy, saat presentasi di Simposium Luar Angkasa ke-39 di Colorado Springs, 9 April 2024.

Dia mengatakan bahwa kabar tersebut sangat mengejutkan secara pribadi, dan juga bagi NASA. Lalu, dia menambahkan bahwa pertemuan itu benar-benar membuatnya takut. 

"Seandainya kedua satelit bertabrakan, kita akan melihat timbulnya puing-puing yang signifikan pecahan kecil yang bergerak dengan kecepatan puluhan ribu mil per jam, menunggu untuk melubangi pesawat ruang angkasa lain, yang berpotensi membahayakan nyawa manusia," ujarnya. 

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa hal itu bukan sekedar persoalan teoretis, karena pernah terjadi pada saat satelit militer China Yunhai 1-02 dihantam oleh benda luar angkasa yang tampaknya merupakan pecahan roket Zenit-2 yang meluncurkan satelit mata-mata Tselina-2 Rusia pada 1996. Tabrakan itu terjadi pada Agustus 2021.

Melansir Space, meski tabrakan seperti itu masih jarang terjadi, dia menjelaskan bahwa kejadian nyaris celaka seperti yang terjadi pada TIMED menjadi semakin sering terjadi, karena orbit bumi semakin padat. 

Badan Antariksa Eropa (ESA) melaporkan bahwa saat ini terdapat sekitar 11.500 satelit yang mengorbit di planet bumi, 9.000 di antaranya masih beroperasi. 

Dia menjelaskan bahwa lebih dari separuh pesawat fungsional ini adalah bagian dari jaringan broadband Starlink SpaceX, megakonstelasi yang terus berkembang saat ini terdiri dari hampir 5.800 satelit .

Hal itu hanya sebagian dari gambarannya, karena ada sekitar 36.500 keping sampah antariksa dengan lebar minimal 4 inci (10 sentimeter) di orbit Bumi, perkiraan ESA, dan lebih dari 130 juta pecahan dengan lebar minimal 1 milimeter. 

Melroy mencatat, serpihan sekecil itu dapat merusak satelit dan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), mengingat kecepatannya, dan di orbit ISS, sekitar 250 mil (400 kilometer), objek bergerak dengan kecepatan sekitar 17.500 mph (28.160 kph) jauh lebih cepat daripada peluru manapun. 

Sementara itu, Melroy mengatakan bahwa NASA telah bekerja selama bertahun-tahun untuk membantu mengurangi masalah sampah luar angkasa.

Adapun sebagai contoh, dia mengutip upaya badan tersebut selama dua dekade lalu untuk membantu menerapkan praktik seperti pasivasi roket tingkat atas di orbit sebuah proses yang melibatkan, antara lain, membuang sisa bahan bakar untuk mengurangi potensi daya ledaknya.

Melroy menegaskan bahwa meski begitu, agensi ingin berbuat lebih banyak, dan peningkatan dorongan tersebut mencakup strategi keberlanjutan ruang angkasa yang terintegrasi, yang merupakan bagian pertama yang dirilis NASA. 

“Dikembangkan di bawah kepemimpinan dewan penasihat lintas lembaga, strategi keberlanjutan ruang angkasa berfokus pada kemajuan yang dapat dilakukan NASA dalam mengukur dan menilai keberlanjutan ruang angkasa di orbit Bumi, mengidentifikasi cara-cara hemat biaya untuk memenuhi target keberlanjutan, memberi insentif pada penerapan praktik berkelanjutan melalui teknologi dan pengembangan kebijakan, dan peningkatan upaya untuk berbagi dan menerima informasi dengan komunitas antariksa global lainnya,” kata pejabat itu dalam pernyataannya, pada 9 April 2024.

Pada akhirnya, strategi keberlanjutan NASA akan mencakup empat domain, di antaranya Bumi, orbit Bumi, ruang cislunar (wilayah dekat dan sekitar bulan) dan luar angkasa. 

Pejabat di badan tersebut menegaskan bahwa volume pertama setebal 35 halaman berfokus pada keberlanjutan di orbit Bumi. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Erta Darwati
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper