FBI Tuding Hacker China Telah Menyusup ke Infrastruktur Vital AS

Rika Anggraeni
Jumat, 19 April 2024 | 08:15 WIB
Ilustrasi Hacker. Dok Freepik
Ilustrasi Hacker. Dok Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat (AS) menyebut peretas (hacker) China telah menyusup ke infrastruktur vital AS.

Dilansir dari Reuters, Jumat (19/4/2024), Direktur FBI Christopher Wray mengatakan bahwa hacker China tengah menunggu waktu yang tepat untuk menyerang infrastruktur AS.

Wray menyebut bahwa kampanye hacking China yang sedang berlangsung atau Volt Typhoon telah berhasil mendapatkan akses ke banyak perusahaan AS di bidang telekomunikasi, energi, air, dan sektor penting lainnya dengan 23 operator pipa menjadi target.

“[China sedang mengembangkan] kemampuan untuk menciptakan kekacauan fisik pada infrastruktur vital kita pada waktu yang dipilihnya sendiri,” kata Wray dalam Konferensi 2024 Vanderbilt tentang Modern Conflict and Emerging Threats.

Lebih lanjut, Wray mengungkapkan bahwa China berencana melancar akan serangan ringan terhadap infrastruktur sipil untuk mencoba menimbulkan kepanikan dan mematahkan keinginan AS untuk melawan.

Direktur FBI mengatakan bahwa sulit untuk menentukan tujuan dari tindakan penempatan siber ini yang sejalan dengan tujuan lebih luas China untuk menakut-nakuti AS agar tidak mempertahankan Taiwan.

China mengklaim Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai wilayahnya sendiri dan tidak pernah menarik diri dari penggunaan kekuatan untuk menguasai pulau tersebut. Taiwan dengan sangat tegas menentang klaim kedaulatan China dan menyatakan bahwa hanya rakyat pulau itu yang dapat menentukan masa depan mereka.

Sebelumnya, pada awal pekan ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa Volt Typhoon sebenarnya tidak terkait dengan pemerintah China, tetapi merupakan bagian dari bagian dari kelompok penjahat yang menggunakan ransomware.

Dalam sebuah pernyataan, Kedutaan China di Washington mengacu kembali pada komentar juru bicara MFA.

"Beberapa di AS telah menggunakan pelacakan asal serangan siber sebagai alat untuk menyerang dan menuduh China, mengklaim AS sebagai korban padahal sebaliknya, dan mempolitikkan masalah keamanan siber."

Wray mengatakan bahwa hacker China mengoperasikan serangkaian botnet untuk menyembunyikan aktivitas siber jahat mereka.

Perusahaan teknologi dan keamanan siber Amerika sektor swasta sebelumnya mengaitkan Volt Typhoon dengan China, termasuk laporan dari peneliti keamanan dengan Microsoft dan Google.

Penulis : Rika Anggraeni
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper