Agresivitas Shopee dan TikTok Disebut Tantangan Bagi GOTO & BUKA Menuju Profitabilitas

Crysania Suhartanto
Senin, 21 Agustus 2023 | 18:49 WIB
Konsumen menggunakan dompet digital ShopeePay saat melakukan pembayaran di Jakarta, Rabu (31/3/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Konsumen menggunakan dompet digital ShopeePay saat melakukan pembayaran di Jakarta, Rabu (31/3/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) menilai rencana Sea Ltd. untuk memperkuat bisnis Shopee akan menjadi ancaman perusahaan dagang-el dalam negeri seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dan PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA). 

Berpotensi mengubah peta persaingan e-commerce dalam negeri yang saat ini mengarah pada profitabilitas kembali menuju perang promo.  

Ketua Umum Idiec M. Tesar Sandikapura berpendapat komitmen Sea Ltd untuk membesarkan Shopee akan mengarah pada harga produk yang lebih terjangkau. 

Hal ini menjadi tantangan bagi e-commerce lokal seperti Tokopedia (GOTO), BliBli hingga Bukalapak (BUKA) yang saat ini sedang berfokus mengejar pertumbuhan, mengingat masyarakat Indonesia mudah tergiur diskon dan promo. 

“Orang Indonesia masalahnya tidak loyal. Jadi, ketika Shopee melakukan ‘bakar duit’ besar-besaran, ada laporannya omzetnya meningkat pesat,” ujar Tesar kepada Bisnis, Senin (21/8/2023).

Di sisi lain, Tesar juga mengatakan keputusan Shopee ini tidak terlepas dari ancaman dari TikTok yang diprediksi mengubah pasar dengan strategi social commerce. Tren baru yang digandrungi di beberapa negara seperti Amerika Serikat. 

Dikutip dari Sproutsocial, pada 2022 sekitar 68 persen konsumen di AS melakukan setidaknya satu kali pembelian langsung dari media sosial. Mereka beralih dari e-commerce ke Toko Facebook, Instagram, dan TikTok.

Survei yang melibatkan 996 responde tersebut juga mengungkapkan bahwa Mayoritas (71 persen) penonton live streaming telah membeli sesuatu di media sosial, dan 48 persen mengantisipasi untuk membeli lebih banyak melalui fitur belanja. 

TikTok beluma lama juga mengumumkan bakal berinvestasi US$12,2 juta untuk membantu lebih dari 120.000 UMKM Indonesia mentransmisikan bisnis secara daring dan berpartisipasi dalam ekonomi digital.

“Kalau TikTok berhasil, pasar marketplace akan berubah, karena orang akan berpindah ke social commerce. Padahal Shopee ini bukan social commerce, ini akan mengancam Shopee juga. Jadi ini gimana caranya agar TikTok tidak menang,” ujar Tesar.

Tesar berpendapat perang promo tidak akan terjadi jika pemerintah mengatur terkait persaingan dagang ini sejak lama. Mulai dengan peraturan terkait monopoli pasar hingga harga tertinggi dan terendah yang dijual oleh para pelaku bisnis.

Lebih lanjut, menurut Tesar pemerintah saat ini terlalu liberal, sehingga yang menang dalam persaingan di pasar adalah perusahaan yang memiliki modal yang besar. 

“Pemerintah harus sadar untuk muncul ketidakadilan di bisnis yang sama, pemerintah harus jadi wasit untuk persaingan bisnis yang sama,” ujar Tesar.

Namun, Tesar juga mengatakan jika pemerintah ingin meregulasi perusahaan mancanegara yang beroperasi di Indonesia, kini sudah telat, mengingat perusahaan-perusahaan tersebut  sudah mengakar di Indonesia.

Dampaknya, jika salah satu perusahaan mati akan ada efek domino ke Indonesia, baik pelaku bisnis maupun masyarakat. “Jadi, regulasi harusnya dibuat dari awal. Memang, regulasi ini bertentangan dengan inovasi,” tutup Tesar. 

Berdasarkan catatan Bisnis, saat e-commerce lokal seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Blibli masih melakukan efisiensi bisnis. 

GOTO menekan kerugian hingga 47,53 persen, dari Rp13,64 triliun  pada  semester I/2022 menjadi Rp7,16  triliun pada semester I/2023.

Sementara itu miten  entitas  Grup  Djarum  BliBli, mencatatkan  penurunan kerugian menjadi Rp1,74 triliun. Adapun Bukalapak  membukukan rugi  Rp389,2 miliar, dari sebelumnya  laba  Rp8,69  triliun. 

Ketua Amvesindo Eddi Danusaputro mengatakan bahwa dari segi industri, kanal-kanal e-commerce sudah berubah, tidak hanya lokapasar atau marketplace tetapi juga live shopping dan lain-lain. 

“Jadi harus dilihat secara lini bisnis bukan hanya perusahannya,” kata Eddi. 

Sebelumnya, CEO Shopee Sea Limited Forrest Li mengatakan perusahaan telah memulai dan melanjutkan investasi dalam menumbuhkan bisnis e-commerce.  Hal ini terbukti dengan kucuran anggaran yang cukup besar untuk mengembangkan kanal live streaming, short video, hingga program afiliasi. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper