JD.ID Tutup, Penjualan Ponsel via Online Bakal Turun?

Rahmi Yati
Minggu, 19 Februari 2023 | 21:00 WIB
Aktivitas pekerja di Warehouse JD.ID Marunda, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Aktivitas pekerja di Warehouse JD.ID Marunda, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Saluran belanja online khususnya untuk ponsel pintar atau smartphone dinilai akan berubah seiring JD.ID mengumumkan akan menutup layanan secara permanen pada 31 Maret 2023.

Adapun, e-commerce tersebut bahkan telah berhenti menerima pesanan dari para pelanggan di Indonesia pada Rabu (15/2/2023).

Dalam laporan International Data Corporation (IDC) Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker, dikatakan bahwa pertumbuhan saluran belanja online melambat karena aktivitas saluran offline berangsur meningkat dan pengecer berfokus pada profitabilitas.

"Daftar pemain saluran belanja online juga berubah," demikian dikutip dari laporan IDC, Minggu (19/2/2023).

Berdasarkan laporan tersebut, perubahan daftar pemain terjadi karena beberapa hal. Di antaranya JD.ID yang dipastikan akan meninggalkan Indonesia pada kuartal I/2023 dan TikTok Shop yang mengalami peningkatan penjualan signifikan.

Selain itu, Erajaya Digital yang berfokus pada barang elektronik termasuk smartphone, secara aktif memperluas kehadirannya di kancah ritel offline.

"Daftar gerainya terdiri dari gerai Erafone, gerai merek, dan tambahan terbaru mereka, gerai Erablue [hasil kemitraan antara Erajaya Digital dan Mobile World Group Vietnam pada 2022]," tambah laporan itu.

Lebih lanjut, disebutkan bahwa Erablue lebih fokus menjual peralatan rumah tangga dan elektronik, termasuk ponsel pintar.

Sementara itu, Blibli, salah satu situs e-commerce populer, juga membuka tujuh toko offline baru sepanjang 2022.

Associate Market Analyst di IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, menambahkan, sepanjang 2022, pasar ponsel pintar Indonesia mengalami penurunan sebesar 14,3 persen YoY jadi 35 juta unit pada 2022.

Menurutnya, ini merupakan kali pertama pasar ponsel Indonesia turun setelah 13 tahun berturut-turut terus mengalami pertumbuhan.

"Penurunan ini terjadi akibat pelemahan daya beli pada semester II/2022 dan hambatan rantai pasok yang mempengaruhi penawaran dan permintaan pasar HP di Indonesia," ujar Vanessa.

Bukan itu saja, faktor ekonomi seperti inflasi juga dinilai berdampak signifikan terhadap daya beli konsumen, terutama di kalangan masyarakat berpendapatan rendah yang lebih mengutamakan barang-barang kebutuhan pokok.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Rahmi Yati
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper