Wishnutama Bercerita Mimpi Indonesia Wujudkan Metaverse

Akbar Evandio
Minggu, 25 Desember 2022 | 17:53 WIB
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio memberikan pemaparan saat acara musyawarah nasional PHRI XVII di Karawang, Jawa Barat, Senin (10/2). Pemerintah menyiapkan anggaran senilai lebih dari Rp10 triliun untuk pengembangan lima destinasi super prioritas, yakni Borobudur, Danau Toba, Labuan Bajo, Likupang, dan Mandalika pada 2020. Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio memberikan pemaparan saat acara musyawarah nasional PHRI XVII di Karawang, Jawa Barat, Senin (10/2). Pemerintah menyiapkan anggaran senilai lebih dari Rp10 triliun untuk pengembangan lima destinasi super prioritas, yakni Borobudur, Danau Toba, Labuan Bajo, Likupang, dan Mandalika pada 2020. Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Founding Chairman Jagat Nusantara Wishnutama menceritakan rencana pemerintah Indonesia mewujudkan metaverse Ibu Kota Nusantara (IKN).

Founding Chairman Jagat Nusantara Wishnutama mengamini bahwa giat pemerintah dalam melakukan pembangunan dalam kenyataannya tidak terbatas hanya membangun fisik nyata, dunia maya pun tak luput dari perhatian.

Hal tersebut dibuktikan pendiri NET TV ini melalui peluncuran metaverse Ibu Kota Nusantara (IKN) beberapa waktu lalu. Bisnis berkesempatan untuk melakukan wawancara dengannya belum lama ini.

Wishnutama mengaku bahwa ide membangun metaverse telah muncul sejak 2021, tetapi dirinya tidak ingin mengumbar gagasan di kepalanya sebelum proyek tersebut muncul ke permukaan. 

"Saat itu, kami memang tidak mau banyak ngomong, tetapi kerjakan dulu. Karena kalau belum terwujud jangan banyak ngomong dulu apalagi teknologi ini kompleks banget, kami ingin memproyeksikan dan mencoba formulasikan dan melihat metaverse itu seperti apa dulu,” ujarnya saat ditemui Bisnis belum lama ini.

Apalagi, menurut pria kelahiran Jayapura 4 Mei 1976 ini, tren ke depan yang dimulai pada 2023 kehidupan akan makin didominasi oleh teknologi dan digitalisasi sehingga Indonesia harus bersiap berkompetisi menangkap peluang dengan cepat dan tepat.

"Oleh karena itu, melalui Jagat Nusantara kami berupaya berkompetisi melalui kreativitas dan inovasi kita coba wujudkan sebuah platform social immersive (lingkup sosial) berbasis web dan mobile yang menghubungkan pengguna dengan dunia virtual," ujarnya.

Wishnutama berpendapat, Jagat Nusantara berpotensi untuk dibilang sebagai the next generation of social media (generasi penerus media sosial), apalagi hasil kerja keras dan kolaborasi anak muda Tanah Air berhasil menetaskan telur dengan menghadirkan IKN dalam dunia virtual.

Menurutnya, akan tiba masa masyarakat dapat memanfaatkan Jagat untuk mengadakan rapat, pertemuan, nonton bareng (nobar) film, konser virtual, pertunjukan dan showcase karya digital, dan interaksi imersif lainnya, baik melalui gawai maupun situs web.

Bahkan, tak menutup kemungkinan untuk mengadakan kontestasi politik yaitu Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 di dunia maya.

"Sebenarnya targetnya tidak ke politik, karena target kami kebermanfaatan agar bisa saling berkolaborasi melalui jagat metaverse ini. Namun, pengguna tentunya sudah kami targetkan ke anak muda yang kami targetkan Gen Z, Milenial, Gen Alfa yang juga sekarang melek [politik] jadi potensi ke sana bisa juga. Namun, terdekat kami akan membuat next commerce potensinya bisa hadir pada 2023 yang paling memungkinkan, kemudian edutech, bisa membuat podcast juga," tutur dia.

Oleh sebab itu, dia memastikan bahwa Jagat akan dikembangkan secara bertahap dengan mengumpulkan berbagai masukan dan menganalisis perilaku in-app dari pengguna untuk membuat lebih banyak inovasi sebagai platform inklusif.

"Ujungnya, kami juga percaya bahwa teknologi ini harus berdampak pada ekonomi rill sehingga metaverse bisa berkontribusi agar tercipta ekonomi baru. Ini memang mimpi tinggi dan teknologinya tidak mudah, tetapi bukan membuat kami putus asa. Kami ingin membuat suatu perbedaan dan merealisasikannya," kata Wishnutama. 

Rapor Merah Facebook Jadi Contoh Beratnya Kembangkan Metaverse 

Di sisi lain, lulusan Mount Ida College ini mengaku bahwa sudah ada banyak ide mengenai metaverse. Salah satunya, rebranding Facebook menjadi Meta, di mana menurutnya ada banyak hal yang bisa dipelajari dari perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckerberg tersebut.

"Karena sudah banyak inisiatif dari banyak pelaku di luar sana, tentunya jadi pembelajaran sehingga bisa lebih realisistis ukuran kami untuk melangkah," ujarnya.

Wishnutama mengamini bahwa beratnya mengembangkan metaverse terlihat dari perusahaan tersebut, lantaran Meta melaporkan proyek tersebut yang digadang-gadang oleh perusahaan rugi besar.

Dikutip melalui TechCrunch, pada kuartal I/2022 Meta's Reality Labs beroperasi dengan kerugian US$2,96 miliar atau sekitar Rp43 triliun, sedangkan pada 2021 Reality Labs bahkan kehilangan lebih dari US$10 miliar atau Rp 144,8 triliun.

"Memang benar menantang, karena itu kami belajar dari banyak pemain dan kami buat [konsep metaverse] yang berbeda, apalagi milik kami berupaya agar ekonomi digital juga bisa terkait dengan ekonomi rill. Contohnya saat membeli tanah di IKN menjadi representatif di masa depan. Ini ide belum pernah ada dan ini yang kami yakini untuk direalisasikan. Kami terus pelajari caranya," paparnya.

Selain itu, Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tersebut juga mengungkapkan bahwa metaverse turut mendongkrak potensi ekonomi digital Indonesia.

Penyebabnya, dia menjelaskan hasil riset dari Google Temasek terbaru yang menunjukkan potensi ekonomi digital pada 2025 mencapai Rp2.000 Triliun.

"Potensi ini besar karena Google Temasek punya data terbaru dirilis, potensi ekonomi digital di Indonesia pada 2025 itu Rp2.000 triliun dan pada 2030 potensinya kian meningkat hingga Rp5.500 triliun. Dulu kan diproyeksikan Rp4.300 triliun, artinya potensi makin besar banget. Kalau industri ini yang kami sedang masuk kira-kira terdapat kue ekonomi sekitar US$11 juta pada 2025 atau sekitar Rp171,4 triliun," pungkas Wishnutama.

Untuk diketahui, riset terbaru Google, Temasek, dan Bain & Company memprediksi nilai Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital Indonesia akan mencapai US$77 miliar atau sekitar Rp1.207 triliun pada 2022 yang mengartikan ada pertumbuhan sebanyak 22 persen selama setahun terakhir.

Nilai ini akan naik menjadi US$130 miliar per 2025 dan menjadi tiga kali lipat per 2030 di kisaran angka US$220—US$360 miliar.

Secara keseluruhan, ekonomi digital regional Asia Tenggara diproyeksikan akan memperoleh GMV total US$200 miliar atau sekitar Rp 3.139 triliun pada 2022.

Angka tersebut lebih cepat dari perkiraan studi sebelumnya pada 2016, ketika GMV Asia Tenggara diproyeksi baru akan tembus US$200 miliar per 2025.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Akbar Evandio
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper