Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pendapatan Industri TV Susut US$222,1 Miliar pada 2026, Ini Biang Keroknya

PwC’s Global menyebut pendapatan industri TV bakal susut hingga US$222,1 miliar pada 2026 akibat persaingan digital.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 27 Juli 2022  |  18:06 WIB
Pendapatan Industri TV Susut US$222,1 Miliar pada 2026, Ini Biang Keroknya
TV Digital. Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pendapatan industri TV tradisional diproyeksikan akan menyusut dari US$231 miliar pada 2021 menjadi US$222,1 miliar pada 2026 secara global. Hal ini dikarenakan adanya persaingan dengan layanan streaming platform over the top (OTT).

Berdasarkan laporan dari PwC’s Global Entertainment & Media Outlook 2022-2026, TV tradisional yang dilanda persaingan dari layanan streaming OTT, masih menghasilkan pendapatan yang cukup besar, tetapi penurunannya yang tak terhindarkan akan terus berlanjut.

"Pendapatannya secara global diproyeksikan menyusut dengan CAGR -0,8 persen dari US$231 miliar pada 2021 menjadi US$222,1 miliar pada 2026," kata Global Entertainment & Media Industry Leader PwC Jerman Werner Ballhaus dalam laporan tersebut, Rabu (27/7/2022).

Dia menyebut, setelah tumbuh sebesar 35,4 persen pada 2020, video OTT kembali melonjak

22,8 persen pada 2021, sehingga mendorong pendapatan menjadi US$79,1 miliar.

Laju pertumbuhan pendapatan OTT ini, sambung Ballhaus, akan relatif moderat dan diharapkan tumbuh dengan CAGR 7,6 persen hingga 2026 dan mendorong pendapatan menjadi US$114,1 miliar.

Sementara itu, Telecommunications, Media, and Technology Leader PwC Indonesia Triono Soedirdjo menambahkan, adanya kebijakan pembatasan aktivitas atau karantina wilayah terkait dengan Covid-19 tentunya meningkatkan minat konsumen terhadap konten dan layanan digital.

Dia menuturkan, pasar untuk akses internet pada 2022 - 2026 diperkirakan akan tumbuh sebesar 23 persen (US$66,741 juta). Pemicu lonjakan pengguna

diperkirakan akibat peralihan skema kerja campuran pasca pandemi dan fokus pemerintah pada

pemerataan akses internet di seluruh pelosok Indonesia.

"Semakin banyak aktivitas yang terjadi secara daring dan di ruang digital. Selain itu platform video sosial

dan daring menjadi semakin mudah diakses oleh konsumen," imbuhnya.

Sebagai informasi, sepuluh pasar dengan pertumbuhan terbesar oleh CAGR terfokus di Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, dan Asia, dengan video dan game OTT menyumbang sebagian besar pertumbuhan pendapatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tv pwc over the top
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top